
Alden mengemudi mobilnya menuju kantor. Tiba-tiba di jalan ia teringat dengan istrinya, Rara. Apa yang sudah ia lakukan? Ia bahkan melupakan istrinya dan justru sedang happy bersama wanita lain.
"Arggg, gue benar-benar nggak tau sama perasaan gue sendiri. Gue benar-benar cinta sama Rara, tapi gue nggak mungkin ninggalin Ella dalam keadaan sakit." Alden menjadi frustasi sendiri di dalam mobil.
"Sayang, Mas minta maaf. Mas sudah sadar akan perasaan Mas, dan Mas hanya mencintai kamu, tidak ada nama lain di hati Mas, tapi maaf ... Mas tidak mungkin meninggalkan Ella begitu saja dengan kondisi sedang sakit parah," lirih Alden.
"Mas sudah tidak cinta pada Ella, Mas hanya kasihan pada dia. Mas harap tidak akan terjadi kesalahpahaman di antara kita," lirih Alden lagi.
Ya, Alden sudah menyadari jika perasaannya pada sang mantan kekasih, Ella sudah tidak ada. Nama Ella sudah tersingkirkan dari hati Alden sepenuhnya, dan nama Rara lah yang bertahta di sana. Tapi apakah ia bisa meninggalkan Ella begitu saja? Tidak! Ia tidak bisa, karena alasan Ella membuatnya merasa bersalah. Alasan Ella yang mengatakan jika wanita itu sedang sakit dulunya membuat Alden merasa bersalah karena sudah berpikir yang tidak-tidak pada sang mantan kekasih.
Alden mengemudi mobilnya dengan kecepatan tinggi. Pikirannya benar-benar kacau. Di satu sisi, ia merasa bersalah karena sudah berbohong pada istrinya, ia merasa seperti laki-laki yang sangat br***sek, tetapi di lain sisi, ia tidak mungkin meninggalkan Ella begitu saja, di saat wanita itu justru membutuhkannya.
Mobil Alden sudah sampai di area perusahaan, dengan langkah lebar ia masuk ke dalam perusahaan itu. Saat dirinya sedang menunggu lift khusus petinggi perusahaan, tak sedikit para karyawan yang menatap aneh pada dirinya. Bagaimana tidak, penampilan Alden terlihat sangat kusut pagi ini, seperti orang yang baru bangun tidur, dan belum mandi.
Biasanya Alden selalu berpenampilan rapih, wangi dan yang pastinya tampan. Tapi, penampilannya pagi ini sedikit aneh, rambut acak-acakkan, dan baju yang digunakan tidak formal, belum lagi wajahnya yang terlihat seperti orang baru bangun tidur.
Alden masuk ke dalam lift, dan langsung memencet angka 50. Ia benar-benar sudah tidak sabar ingin segera membersihkan diri. Mengingat Alden belum sempat mandi karena tidak ingin berlama-lama di rumah Ella.
Setelah pintu lift terbuka, Alden masuk ke dalam ruangannya dan membanting pintu dengan cukup keras. Itu semua tentu tidak lepas dari pandangan Bryan, ia melihat dengan jelas wajah sahabatnya yang terlihat sangat frustasi.
Ceklek
Bryan lalu masuk ke dalam ruangan Alden tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, ia dapat melihat jika Alden sedang mengacak-acak rambutnya frustasi. Apa yang sebenarnya terjadi pada Alden? Itulah yang ada di pikiran Bryan.
"Lo kenapa?" tanya Bryan pura-pura tidak tahu.
"Nggak. Lo beliin buat gue satu set pakaian!" perintah Alden.
"Buat apaan?"
"Ckk ... ya buat dipake lah," ketus Alden.
"Lho ... emang buat apa lo beli baju, kan di rumah lo ada banyak baju, lagian kenapa penampilan lo kayak gini? Lo belum mandi, kan?" Bryan berkata sambil berpura-pura memasang wajah bingung.
"Brisik! Tinggal beli aja apa susahnya sih." Alden tentu kesal dengan Bryan yang banyak bertanya.
"Kenapa lo kayak gini?" tanya Bryan.
"Maksudnya?"
"Kenapa hari ini lo tiba-tiba berpenampilan kusut?"
"Nggak apa-apa." Alden tidak mungkin menceritakan jika ia semalam menginap di rumah mantan kekasihnya, Ella. Ia takutnya Bryan justru menceritakan hal itu pada istrinya dan akhirnya terjadi kesalahpahaman, sedangkan ia sudah benar-benar yakin jika nama Ella sudah tergeser dari hatinya.
"Lo berantem sama bini lo? Atau dia nggak mau ngurus lo?" Bryan sengaja memancing sahabatnya itu.
"Sembarangan lo! Rara nggak mungkin nggak mau ngurus gue! Gue kemaren nggak tidur di rumah." Tanpa sadar Alden keceplosan, dan hal itu tentu membuat Bryan tersenyum miring karena Alden sudah masuk ke dalam perangkapnya.
"Hah? Seriusan? Terus lo tidurnya di mana?" tanya Bryan pura-pura kaget. Sepertinya Bryan memang sangat berbakat menjadi aktor.
"D - di rumah orang tua gue," jawab Alden berdalih.
"Oke, gue coba telpon Papah Mike, ya?" Bryan lalu mengambil hendponenya di dalam kantong, berpura-pura hendak menghubungi Mike.
__ADS_1
"Lo apa-apaan!" Alden tentu terkejut dengan ulah sahabatnya. Jika Bryan sampai menghubungi Mike, maka dapat di pastikan jika Mike akan mencari semuanya sampai ke akar-akarnya. Mungkin Alden tidak akan selamat jika Mike tau yang sebenarnya.
"Kenapa?" sinis Bryan.
"Lo kenapa kepo banget sama rumah tangga gue?" Alden bahkan menaikkan suaranya, tapi hal itu tidak membuat Bryan takut, meskipun ia tahu posisinya hanya sebagai sekretaris. Demi sahabatnya, ia rela melakukannya.
"Yaudah gue tanya, lo dari mana? Kenapa penampilan lo kayak gini? Bukannya Rara selalu memperhatiin lo." Sudah habis kesabaran Bryan, ia bahkan tanpa ragu menatap tajam bosnya.
"G - gue ...."
Bryan masih setia mendengar lanjutannya.
"G - gue nemanin Ella," lirih Alden.
"Ella? Siapa? Oh Nona Raya Giesella?"
"Iya ...."
Bughh
Satu bogeman mentah dilayangkan Bryan ke wajah tampan milik Alden. Alden yang mendapat pukulan tiba-tiba itu sontak langsung terjatuh. Ia langsung menatap tajam Bryan yang berani-beraninya menampar bosnya sendiri. Sementara Bryan, bersikap biasa saja, seolah-olah tidak ada salah.
"Ops maaf. Tangan gue tadi gatel, jadi pengen nabok orang. Yaudah gue tabok lo aja." Bryan berkata dengan santai, bahkan mengibas-ibaskan tangannya ke udara karena merasa cukup sakit.
'Buset, perasaan gue yang nampar, kok malah gue juga yang ngerasa sakit'
"Lo berani ya sama atasan lo sendiri! Di mana sopan santumu sekretaris Bryan!" teriak Alden menggelegar.
"Dan di mana hati nurani Anda pak Rey?" Bryan sama sekali tidak takut dengan Alden.
"Lo nggak tau apa-apa Yan," lirih Alden. Alden mengalah, ia lebih memilih untuk tidak berdebat dengan Bryan, karena ia akui Bryan cukup pintar memainkan kata.
"So, jelaskan ke gue!" perintah Bryan. Ia lalu duduk di kursi depan Alden.
Alden mengalah, lebih baik ia bercerita pada Bryan tentang segalanya, karena Bryan pasti memiliki solusi untuk masalahnya.
Alden menceritakan semuanya tanpa ada yang ia tutupi, dari pertemuan awalnya dengan Ella, dan wanita itu yang memiliki penyakit mematikan. Alden juga menceritakan di saat Ella memintanya untuk menemaninya malam itu. Alden yang merasa kasihan tentu tidak bisa menolak permintaan wanita itu, dengan terpaksa ia ikut tidur di samping Ella.
"Oh, jadi gitu." Bryan mengetukkan jarinya di meja sambil berpikir. Sepertinya memang ada yang tidak beres.
"Lo kasihan sama wanita lain, tapi lo nggak kasihan sama istri lo sendiri, gitu?" Bryan berkata sambil terkekeh.
Sedetik kemudian Bryan mengubah mimik wajahnya, lalu mendekat dan membisikkan sesuatu tepat di telingga Alden.
Alden sedikit takut mendengar bisikan Bryan, tanpa sadar ia meneguk salivanya kasar.
*******
Sudah hampir satu jam lebih Rara menangis. Wanita itu benar-benar merasa sesak, saat mengingat jika suaminya sudah mulai berani berbohong kepadanya.
"Iya, gue sebenarnya emang wanita lemah. Wanita lemah yang berpura-pura kuat di depan orang-orang hiks ..." lirih Rara sambil menangis tersedu-sedu.
'Ya Allah, kuatkan hamba menghadapi semuanya'
__ADS_1
Rara terus menangis, tangisan yang terdengar cukup memilukan. Bagaimana mungkin laki-laki yang sangat ia percayai dan yakini tidak akan pernah berbohong, justru berbohong kepadanya.
"Apa kamu kembali?" Rara menatap kesong ke depan.
"Kenapa kamu kembali? Apa kamu masih mencintai Mas Alden?"
"Lalu ... jika kalian saling mencintai, bagaimana nasibku? Hiks ... apa aku yang harus mengalah?" lirih Rara sambil menangis sesenggukkan.
Setelah puas menangis, Rara memutuskan untuk mandi. Memilih mendinginkan pikirannya agar lebih baik. Setelah itu, dia memoleskan sedikit bedak ke wajahnya untuk menutupi mata bengkaknya. Rencananya dia akan pergi ke rumah mertuanya. Elena memang meminta Rara untuk datang untuk mencicipi kue buatannya.
Rara pergi ke rumah mertuanya menggunakan taxsi online. Selama dalam perjalanan menuju rumah mertuanya, Rara hanya menatap jalanan, melamun apa yang terjadi selanjutnya nanti. Karena melamun, Rara sampai tidak sadar jika mobil sudah sampai tujuan.
"Mbak, kita udah sampai." Sopir taksi itu memanggil Rara, sehingga membuat Rara sedikit terkejut.
"E - eh ... maaf, Pak!"
Rara lalu mengambil uang dari dalam tasnya, lalu menyerahkan kepada supir taksi tersebut tanpa melihat jumlahnya.
"Eh, ini kurang Mbak," ucap supir taksi itu karena jumlah yang diberikan Rara hanya dua puluh ribu.
"Hehe gitu, ya?" Rara hanya cengengesan saat menyadari jumlah uang yang ia berikan ternyata kurang. Ia lalu mengambil uang lebih dari dompetnya. "Ini, ya Pak!"
"Eh, ini kebanyakan, Mbak." Supir itu sedikit terkejut saat Rara justu menyerahkan uang berwarna merah sebanyak lima lembar.
"Ckk ... dikit salah, banyak salah, emang dasar manusia, ya? Nggak pernah ngerasa cukup, selalu pengen nambah lagi dan lagi," ucap Rara asal. "Sekarang saya tanya sama akang taksi, emang akang taksi nggak mau gitu dikasih lebih?" ketus Rara. Entahlah, tiba-tiba saja mood-nya kembali membaik akibat ulah supir taksi itu.
'Astagfhirullah, baru kali ini dipanggil akang taksi, biasanya juga dipanggil pak.'
"Mau sih Mbak, he-he-he." Supir taksi itu hanya cengengesan.
"Terus kenapa tadi sok bilang uangnya kebanyakan?" tanya Rara heran.
"Yakan cuman basa-basi Mbak." Supir taksi tersebut hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, baru kali ini ia menghadapi pelanggan blak-blakkan seperti Rara. Biasanya pelangannya akan mengatakan 'tidak apa-apa Pak, itu rezeki Bapak', tapi wanita hamil di depannya ini sungguh beda, ia malah mengatakan secara gamblang.
"Cih ... dasar manusia! Sok-sok'an nolak kalau dikasih duit, kalau diambil lagi pasti mencak-mencak ujung-ujungnya. Kalau dikasih itu terima aja, nggak usah sok nolak, padahal dalam hati pengen jingkrak-jingkrak. Iya nggak?"
"Kok Mbak tau?" tanya supir taksi tersebut, karena apa yang Rara ucapkan sangat benar!
"Yaiyalah! Biasanya kan gitu, kalau tiba-tiba keluarga datang, terus dikasih sama neneknya uang. Eh si anak malah sok-sok'an nolak, padahal udah pengen cepat-cepat beli cilok," jawab Rara kesal. Rara tiba-tiba sangat kesal dengan anak remaja yang biasanya menolak jika diberi uang oleh tante, om, atau nenek, padahal di dalam hati sangat menginginkan uang tersebut.
'Kok nggak nyambung ya.'
"Emang Mbak bukan manusia?" tanya Supir taksi itu heran.
"Ya bukanlah! Sayakan bidadari," jawab Rara asal.
"Ah udahlah, pusing Rara ngadepin Akang taksi." Rara lalu keluar, kemudian berjalan santai masuk ke dalam rumah mertunya.
"Baru kali ini ada pelanggan kayak gitu," gumam supir taksi itu.
.
.
__ADS_1
.
.