Istri Bar-Bar Milik Pak Dosen

Istri Bar-Bar Milik Pak Dosen
Hancur!


__ADS_3

Setelah pingsan kemaren sore, kini kondisi Rara membaik. Hanya saja, sifat wanita itu berubah menjadi sangat datar. Tidak banyak bicara, hanya berbicara seperlunya saja, bahkan Rara sering melamun, entah apa yang ada di pikiran wanita itu.


Untuk masalah video dan foto yang disebar orang tidak dikenal semalam, Alden sudah mengatasinya. Ada banyak anak-anak kampus yang meminta maaf karena sudah berkomentar buruk pada Rara.


Setelah Rara sadar kemaren malam, Alden meminta ia untuk pulang. Rara hanya menurut tanpa banyak bicara, setelah itu meninggalkan secarik kertas pada orang tuanya, mengatakan jika ia pulang ke rumah suaminya. Rara sangat yakin jika orang tua maupun mertunya pasti mengetahui tentang berita yang sedang trending tersebut.


Rara juga sudah mengambil SIM Card dari handphonenya yang rusak. Alden yang peka langsung membelikan handphone baru untuk Rara.


"Sayang, kamu makan, ya?" Alden berkata dengan sangat lembut.


Rara hanya mengangguk tanpa berbicara, lalu mengambil alih mangkok yang ada di tangan Alden. Wanita itu makan dengan sangat lahap, dan mengabaikan Alden. Sementara Alden memandang sendu istrinya. Ternyata Rara benar-benar berubah menjadi sangat dingin.


"Sayang, apa kamu nggak mau bicara sama Mas he'em? Mas minta maaf sama kamu. Tolong kamu beri Mas satu kesempatan lagi," lirih Alden.


"Bukankah manusia hanya memiliki dua kesempatan? Lalu apa kau menginginkan kesempatan ketiga? Apakah begitu keinganmu?" tanya Rara datar.


"Bukankah aku terlalu baik jika memberikan kesempatan ketiga itu? Baiklah, aku akan memberikan kesempatan ketiga itu. Aku memutuskan untuk tidak sama seperti wanita lain, yang hanya memberikan dua kesempatan. Bukankah aku terlalu baik? Atau aku sebenarnya terlalu bodoh?" Rara sontak menertawakan dirinya sendiri.


"Sayang ..." lirih Alden. "Mas janji tidak akan menyakiti kamu lagi!" ucap Alden mantap.


"Lalu bagaimana dengan mantan kekasihmu?" tanya Rara menatap mata suaminya.


"Eum ...." Alden menjadi bingung untuk menjawabnya. Sebenarnya Ella sudah memberitahunya jika ia ingin bertemu, dan setelah itu berjanji tidak akan mengganggu dirinya lagi. Wanita itu mengatakan jika ternyata orang tuanya meninggalkan warisan yang cukup banyak, sehingga ia bisa pergi berobat sendiri. Dengan bodohnya Alden percaya saja ucapan Ella. Masih mengira jika wanita itu jujur dan berkata apa adanya seperti dulu.


"Mas akan melupakannya!" jawab Alden mantap. Tapi sayangnya, Rara dapat melihat ada keraguaan di mata suaminya.


"Bisa kau bawa mangkok kotor ini ke dapur?" tanya Rara setelah selesai menghabiskan makanannya.


Alden tersenyum, lalu mengambil mangkok dari tangan Rara. Alden kemudian pergi setelah mendaratkan kecupan di kening istrinya.


Baru saja suaminya menghilang di balik pintu, tiba-tiba handphone Rara berbunyi, dan menampilkan nama 'Yaya'. Tumben sekali sahabatnya menelponnya.


"Halo Ya?" jawab Rara seceria mungkin.


"Halo Ra, gimana kabar kamu?" tanya Raya basi-basi.


"Gue baik kok. Gimana kabar lo juga? Tumben lo telpon gue," kekeh Rara.


"Alhamdulillah aku baik juga kok Ra. Oh iya, kamu sibuk nggak hari ini? Soalnya aku pengen ngenalin kamu sama Nono. Sekalian kamu bawa suami kamu, biar kita bisa saling kenal," ucap Raya bersemangat.


Rara terdiam mendengarnya. Membawa suaminya? Tapi hubungan mereka sedang tidak baik.


"Gue pengen banget sih ketemu sama calon Kakak Ipar gue. Tapi ... suami gue lagi sibuk, jadi nggak bisa Ya," ucap Rara berdalih.


"Yahh, yaudah nggak apa-apa. Kamu mau ketemu sama Nono nggak? Mumpung dia lagi nggak sibuk," tawar Raya.

__ADS_1


"Mau-mau! Yaudah lo kirim aja lokasi kita ketemu nanti," jawa Rara semangat. Jujur saja, Rara sangat penasaran dengan laki-laki yang bernama Nono, menurut Rara nama laki-laki itu sedikit aneh. Sayangnya Raya tidak pernah memberitahukan nama lengkap Nono padanya. Alasannya hanya karena dia sangat sayang, sehingga tidak mau menyebut nama selain sebutan Nono. Raya mengatakan jika Nono hanya panggilan khusus darinya, tidak ada seorang pun yang memanggil kekasihnya itu dengan sebutan Nono.


Setelah sedikit mengobrol, Rara mematikan panggilan tersebut, bertepatan dengan suaminya yang masuk ke dalam kamar.


"Rara mau ketemu sama teman nanti," ucap Rara tanpa memanggil suaminya dengan panggilan Mas.


"Yaudah nggak apa-apa, kebetulan Mas juga ada meeting hari ini. Kamu nggak apa-apa 'kan kalau sendirian perginya?" tanya Alden dengan lembut.


Rara hanya mengangguk tidak peduli. Ia hanya melihat suaminya yang sibuk memasang pakaian formal yang sering digunakan jika hendak ke kantor.


"Yaudah Mas berangkat, ya? Kamu hati-hati di jalan," ucap Alden lembut sambil mengelus pucuk kepala istrinya, lalu kembali mendaratkan kecupan di kening Rara.


'Mas akan segera mengakhiri ini sayang, setelah itu kita akan hidup bahagia bersama anak-anak'


Lagi dan lagi Rara hanya mengangguk. Setelah melihat suaminya sudah pergi, Rara lalu masuk ke dalam kamar mandi, bersiap-siap untuk bertemu dengan sahabat serta calon kakak iparnya.


******


Rara turun dari taksi yang sudah mengantarnya menuju restoran, di mana Raya sudah menunggunya. Berjalan menuju resepsionis, untuk minta diantarkan ke ruang di mana Raya berada.


Setelah itu Rara diantar menuju ruangan di mana Raya sudah menunggunya. Gugup, tiba-tiba saja Rara menjadi sangat gugup. Padahal dirinya hanya bertemu dengan kekasih sahabatnya.


'Perasaan macam apa ini? Kok malah gue yang gugup sih?'


Saat Rara sedang berjalan menuju ruangan di mana Raya berada, tiba-tiba ia melihat dokter Austin yang seperti gelisah.


Yang dipanggil akhirnya menoleh. Austin mendapati Rara sedang berdiri di belakangnya dengan seorang pelayan di sampingnya.


"Bu Diandra?" Austin tentu semakin gelisah.


"Bapak lagi ngapain di sini?" tanya Rara membuyarkan lamunan Austin.


"Aku?"


"Iya, Bapak!" kekeh Rara yang merasa gemes dengan sikap laki-laki di depannya.


"Aku ... lagi makan siang." Austin berbohong, dan Rara percaya saja ucapan Austin.


"Ya udah, selamat makan siang ya Pak! Saya lagi ada janji penting sama teman!" ucap Rara sambil menatap jam tangan yang melingkar di lengannya.


Tetapi baru saja Rara melangkah, tangannya sudah ditahan oleh Austin.


"Tunggu!"


"Ada apa lagi Pak?" tanya Rara yang merasa sedikit aneh dengan gelagat dokter di depannya.

__ADS_1


"Eum ... Apa kamu mau menemaniku makan siang sebentar?" Pertanyaan konyol yang keluar dari mulut Austin membuat Rara mengerutkan alisnya. Bukankah mereka hanya kenal sebagai seorang dokter dan pasien?


"Sebenarnya sih saya pengen nemanin Dokter ganteng, tapi maaf Pak, saya ada janji penting sama teman saya," tolak Rara halus. Rara lalu melepaskan tangan Austin yang sedang menahan lengannya.


Austin pasrah, dia melepaskan genggamannya. Jika Rara tidak tau sekarang, nanti juga dia akan tau. Hanya perkara waktu saja.


Rara kembali mengikuti pelayan itu, hingga akhirnya mereka tiba di depan pintu. Rara menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Entah kenapa ia justru merasa semakin gugup tanpa alasan yang jelas.


"Ini ruangannya, Bu."


"Baik, terima kasih, maaf karena sudah merepotkanmu. Kau boleh kembali!"


Rara masih mematung di depan pintu. Tiba-tiba saja jantungnya berdetak semakin kencang, dan perasaannya menjadi buruk. Sepertinya sesuatu yang buruk akan terjadi menimpanya.


Dengan sekali tarikan napas, Rara memutar handle pintu lalu mendorongnya. Rara masuk ke dalam dengan berbagai perasaan.


Sementara Austin hanya bisa pasrah melihat Rara masuk ke dalam ruangan itu. Sudah tidak ada lagi yang bisa ia lakukan, kecuali duduk dan menunggu wanita itu keluar. Entah dengan kondisi seperti apa, Austin berharap Rara tetap baik-baik saja, meskipun itu mustahil.


Ketika Rara masuk. Ia dapat melihat lelaki yang sedang memunggungingnya dengan Raya yang bersandar di bahu laki-laki itu. Entah kenapa Rara merasa familiar. Postur tubuh dan pakaian yang laki-laki itu kenakan, kenapa bisa sama persis seperti yang Alden pakai tadi.


"Maaf gue telat, Ya!" ucap Rara.


Rara lalu berjalan melewati sepasang kekasih itu. Menarik kursi dan mendudukkan dirinya di sana, kemudian melihat tampang dari laki-laki yang bernama Nono itu.


Hancur!


Satu kata itu yang menggambarkan perasaan Rara.


Hati Rara hancur berkeping-keping saat melihat sosok lelaki yang duduk di hadapannya. Jadi ... perempuan yang pernah dicium suaminya adalah sahabatnya sendiri.


'Cobaan apa lagi ini Tuhan!' teriak Rara dalam hati.


Laki-laki itu yang memang sedang fokus menatap handphonenya sontak mengalihkan pandangannya saat mendengar suara yang tidak asing di telingganya.


Degg ...


.


.


.


.


Dan akhirnya aku pun mempertemukan mereka bertiga atas dasar perintah Tuan Kenzo yang keren + ganteng + kece + kejam abis ><

__ADS_1


Apa Rara masih sanggup ya bertahan saat mengetahui fakta besar ini?


TENANG! Setelah ini part "Tangisan Pilu Rara Untuk Yang Pertama Kalinya" yang entah kapan aku akan update-nya ><


__ADS_2