
Austin ketar-katir menunggu kedatangan Rara. Bahkan makan pun ia tidak berselera, ia benar-benar mengkhawatirkan Rara di dalam sana.
Sesekali dirinya menatap pintu, berharap pintu akan segera dibuka. Apa ia masuk saja ke dalam sana? Tidak! Masalah akan semakin runyam.
Sial! Dirinya benar-benar tak pernah merasa gelisah seperti ini sebelumnya. Diandra! Dia adalah orang pertama yang mampu membuat dirinya seperti ini. Sejak pandangan pertama terhadap wanita itu, Austin merasakan getaran aneh yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya. Tatapan teduh, dan sifat Rara mampu merubah sifat Austin yang awalnya sangat kaku dan dingin perlahan berubah. Dia tak menyangka Rara akan sedikit mengubah kehidupannya.
Austin merasa bahagia dan nyaman berada di dekat Diandra. Dan dia tidak menyangkal akan hal itu. Sepertinya dirinya sudah salah melabuhkan hatinya pada wanita yang sudah bersuami.
Austin mengusap wajahnya kasar, dan menghela napas dengan berat. Lalu matanya menatap wanita yang baru saja keluar dari ruangan itu.
Mata wanita itu sudah terlihat merah, dan detik berikutnya air mata menetes dari pelupuk matanya. Austin tertegun, hatinya ikut merasakan sakit saat melihat Rara yang menangis.
'Kenapa rasanya aku ingin menghabisi mereka yang sudah membuat wanita itu menangis?'
Dengan cepat dia menyusul Rara, dan menahan lengan wanita itu.
"Diandra!"
Rara sempat terkejut melihat Austin yang ternyata masih berada di situ, tapi sedetik kemudian ia paham dengan situasi yang ada. Dia paham kenapa Austin ada di sini. Sadar akan matanya yang terus mengeluarkan cairan, Rara dengan cepat mengusapnya dengan sedikit kasar.
"Ka-kamu baik-baik saja?" Pertanyaan konyol keluar dari mulut Austin. Padahal dia sudah tau, jika wanita yang ada di depannya itu jauh dari kata baik-baik saja.
"Aku ... baik-baik saja." Rara tersenyum. "Aku ingin mengatakan jika aku baik-baik saja. Tapi, kenapa di sini sakit sekali?" tanya Rara sambil menepuk kuat dadanya.
"Sangat sesak, Dok," lirih Rara, tetapi mata indahnya tidak mengeluarkan air mata lagi.
Tanpa sadar, air mata Austin ikut menetes, seolah-olah merasakan sakit yang dirasakan wanita di depannya. Ini adalah kali pertamanya ia menangis sejak dua puluh tahun yang lalu. Sadar dengan air matanya yanh menetes tanpa ijin, Austin buru-buru menyekanya sebelum Diandra melihat. Entah kenapa Austin ingin sekali membawa wanita itu ke dalam dekapannya, tapi sadar akan siapa Diandra di sini.
"Kenapa? Sebenarnya letak kesalahannya di mana? Di kehidupan sebelumnya, apa aku sudah melakukan sebuah dosa besar? Sehingga di kehidupan kali ini, Tuhan menghukum diriku? Apa karena aku tidak memberitahukan perihal pernikahanku pada semua orang?" Rara mengeluarkan semua yang mengganjal di hatinya.
Tiba-tiba Rara tersenyum. Akhirnya ia paham kenapa Austin menahan dirinya dengan alasan ingin ditemani makan. Dan sekarang ia tau siapa Austin dan siapa yang mengutus laki-laki itu.
"Ah, aku sendiri bahkan nggak tau apa yang sedang aku rasakan sekarang. Terlalu sesak, terlalu sakit, sampai-sampai membuatku mati rasa. Apakah aku harus tetap bertahan karena mereka? Apakah aku akan dicap sebagai wanita yang tidak memiliki hati jika pergi dan membawa mereka? Apakah aku boleh egois sekarang?" Rara tersenyum sambil mengelus perutnya sudah sangat besar. Mereka yang dimaksud adalah anak-anaknya.
"Menangislah! Jangan dipendam sendiri! Keluarkan semuanya! Keluarkan!" Akhirnya Austin memberanikan diri membawa Rara ke dalam pelukannya. Rara tidak menolak, ia hanya diam.
"Keputusan ada di tanganmu. Sekali-kali kau juga harus mementingkan perasaanmu. Kau bukannya egois jika memilih pergi. Terlalu sakin bukan jika kau masih bertahan? Suatu saat anak-anakmu juga akan memahami keadaanmu? Jangan memaksakan diri jika kau memang sudah tidak sanggup." Austin berkata seperti itu bukan karena dia ingin Diandra menjadi miliknya. Tidak! Meskipun ia merasakan perasaan nyaman di dekat wanita itu. Dia tidak boleh egois dengan menginginkan Diandra lebih dari seorang teman.
Rara hanya diam di dalam dekapan Austin. Matanya sudah terasa panas, sesuatu mendesak ingin keluar. Dan detik berikutnya air mata sudah lolos dari mata wanita itu.
"Sesak, Dok. Rasanya sangat sesak." Rara mencengkram lengan Austin dengan sangat kuat.
"Iya, aku tau. Menangislah!"
"Hu-hu-hu."
Rara menangis dengan kencang di dalam dekapan Austin. Semua kesedihan yang ia pendam selama ini, ia tumpahkan semuanya. Sementara tangan kokoh milik Austin mengusap kepala Rara.
"Se-sesak, Dok!" ucap Rara terbata-bata.
Saking sesaknya, wanita itu sampai kesulitan bernapas. Hal itu tentu membuat Austin panik.
__ADS_1
"Bernapaslah!" perintah Austin sambil menarik tubuhnya, memberikan jaraknya dengan Diandra, agar wanita itu bisa bernapas.
"To-tolong, Dok, a-aku ke-kesulitan be-bernapas!" Napas Rara bahkan tersenggal-senggal.
Rara benar-benar kesulitan bernapas. Rasanya sangat sesak, seolah-olah ajal sudah menunggunya.
"Aku mohon, bernapaslah!" Tanpa sadar Austin membentak Rara.
Wajah Rara menjadi pias, sepertinya dia memang sudah tidak sanggup untuk bernapas.
"Ha-ha-ha."
Setelah bisa menenangkan dirinya, Rara bisa bernapas lagi dengan lega. Meski napasnya masih sedikit tersenggal-senggal.
"Tolong, jangan seperti ini!" Austin kembali membawa Rara ke dalam pelukannya, dan tanpa sadar menghujani kecupan di pucuk kepala wanita itu.
Rara mengangguk dengan lemah. Austin benar-benar khawatir melihat Diandra yang seperti ini.
"Te-terima kasih karena sudah ada di sisiku, di saat aku seperti ini. Terima kasih untuk semuanya. Aku ingin pergi. Tolong jangan ikuti aku!" Rara melepas pelukan Austin, lalu pergi sebelum mendengar balasan Austin.
Austin sendiri hanya bisa diam. Membiarkan wanita itu pergi mungkin pilihan yang tepat saat ini. Tapi, ia akan terus mengikuti Rara, takut sesuatu yang buruk terjadi, mengingat kondisi wanita itu yang sedang hamil.
'Aku akan selalu ada bersamamu Diandra, meski aku sadar siapa aku di sini'
*********
Rara segera pergi dengan air mata yang terus keluar. Meski dirinya sudah berupaya untuk tidak menangis, namun nyatanya ia terus gagal! Air mata sialan ini tidak mau bekerja sama dengannya.
"Tuhan, apa salah hamba sehingga Engkau memberi ujian yang begitu berat? Tidak bisakah Engkau membiarkan hambaMu ini bahagia?" lanjut Rara.
Tringg ....
Tiba-tiba handphone yang ada di genggaman Rara berbunyi, pertanda ada yang menghubunginya. Kening Rara mengerut saat melihat nomor yang tidak ia kenal. Tetapi baru saja Rara mengangkat pangglian tersebut, tiba-tiba panggilan itu diputuskan secara sepihak.
Tapi, setelah itu pesan masuk dari nomor tadi.
[ Halo Diandra! Bagaimana? Bagaimana dengan surprise yang baru saja kuberikan? Selamat untuk kehamilanmu yang sudah membesar. Bukankah aku terlalu baik mempertemukan kalian bertiga? Apa kau bahagia? Apa kau sedang tertawa saat ini? Atau mau tertawa bersama? Ha-ha-ha. Malang sekali nasibmu baby. Aku tidak jahatkan karena sudah mempertemukan kalian? Hey! Seharusnya kau berterima kasih padaku. Yeah setidaknya kau tau kebusukan suamimu, dan siapa wanita yang selalu kusembunyikan! SAHABAT RASA SAUDARA MU! ]
[ Oh iya, gue cuman mau bilang, kalau sebenarnya orang tua lo udah tau semuanya dan memilih untuk merahasiakannya karena tidak ingin membuat lo terluka. Bukankah mereka keterlaluan? ]
[ Bentar! Gue masih punya satu kado lagi buat lo! Semoga lo suka, ya! Love you baby ]
*Video*
Rara membaca kata per kata yang dikirim oleh seseorang yang dia yakini adalah Kenzo, dalang di balik ini semua terjadi.
Rara ingin sekali rasanya membunuh laki-laki itu. Tapi, bukankah ia memang harus berterima kasih pada Kenzo? Setidaknya ia sudah tau semuanya.
Rara lalu mengunduh video yang baru saja dikirim oleh Kenzo. Entah kenapa hatinya menjadi semakin sakit, seolah-olah video yang akan dikirim Kenzo bisa membuatnya mati.
Setelah selesai mengunduh, Rara lalu memutar video tersebut. Tubuhnya membeku melihat adegan panas yang terjadi di sebuah ruangan antara suaminya dan sahabatnya. Tunggu! Jadi ...
__ADS_1
"Ternyata kamu berbohong lagi Mas," lirih Rara sambil terus menonton video tersebut. Hingga video itu menayangkan adegan akhir antara sepasang kekasih itu.
Bukk
Bukk
Handphone yang ada di genggaman Rara sontak terlepas, dan terjatuh sehingga membuat benda pipih itu hancur. Kemudian diikuti tubuh Rara yang meresot. Dirinya ikut terjatuh ke bawah, sehingga membuat perutnya sedikit tersentak.
"KAMU PEMBOHONG!" teriak Rara frustasi. Bagaimana mungkin suaminya hanya mengatakan berciuman? Padahal dengan jelas di video tersebut menayangkan apa saja yang sudah mereka lakukan. Bahkan ternyata suaminya ba***gan! Jika saja Raya tidak menghentikan permainan panas tersebut, mungkin permainan panas itu akan berlanjut.
"KAMU BA***GAN!"
"KAMU BR***SEK ALDEN!"
Rara terus berteriak memaki suaminya, untungnya jalanan sedang sepi, sehingga tidak ada orang yang melihat wanita itu.
"Kamu br***sek Mas! Dan a-aku sangat bodoh! Hiks ... hiks ... hu-hu-hu." Rara menangis dan terus menepuk dadanya dengan sangat kuat, saat dirinya kembali merasa sangat sesak.
Untuk pertama kalinya wanita itu sangat terpukul! Untuk pertama kalinya wanita itu menangis pilu, bahkan jika ada orang yang mendengarnya akan ikut merasakan sakit yang dirasakan wanita itu.
"Kenapa? Kenapa harus gue!" teriak Rara dengan air mata yang terus mengalir.
Rara terus memukul batu yang ada di dekatnya, berharap rasa sesak sedikit yang ia rasakan berkurang. Tapi tetap saja, rasanya sangat sakit. Seperti beribu-ribu belati sedang menghantam hatinya secara bersamaan.
Wanita itu bahkan tidak peduli dengan darah yang terus mengalir dari tangannya. Sama sekali tidak merasa sakit, karena hatinya jauh lebih sakit.
"Auw!" Tiba-tiba perut Rara terasa sangat sakit, sehingga membuat wanita itu merintih kesakitan.
"Sa-sakit! Akhhh!" Rara terus merintih saat merasakan perutnya yang benar-benar sangat sakit.
Apakah dia keguguran? Begitulah isi kepala Rara.
"To-tolong!" rintih Rara lagi.
Tin ... Tin ...
.
.
.
.
"Eum ... Austin baik + tulus lho ๐๐"
"Ckk ... Nggak usah ngode Thor! Pokoknya harus sama Alden! Titik!"
"Yakin? Tapi alurnya pasti udah bisa ditebak nih. Entah keguguran atau ...."
Austin, bukan Autin! Apalagi Autis!๐ญ (Ya Allah, nama udah bagus-bagus malah asal ubah aja kalian ><)
__ADS_1