Istri Bar-Bar Milik Pak Dosen

Istri Bar-Bar Milik Pak Dosen
Keselak Berjamaah


__ADS_3

Rara menggeliat saat cahaya matahari menerobos masuk melalui celah-celah gorden. Mengerjab-ngerjabkan matanya, menatap Alden yang juga sedang menatapnya dengan senyum indah, tak lupa tangannya yang memeluk dirinya.


"Selamat pagi sayang," sapa Alden yang masih mempertahankan senyum manisnya.


"He'em ...."Rara hanya bergumam saja, merasa masih marah dengan suaminya.


"Kamu masih marah?" cicit Alden dengan memandang sendu istrinya.


"Rara akan terus seperti ini sampai Mas mau jujur!" tegas Rara.


"Jujur apa?" tanya Alden bingung. Ah! Sepertinya laki-laki itu memang tidak memiliki rasa malu!


"Tentang apa pun yang Mas sembunyiin dari Rara! Masa lalu mungkin," jawab Rara santai.


Alden terdiam mendengarnya, apa maksud istrinya? Bukankah ia sudah bercerita tentang Ella pada Rara? Atau mungkin wanita itu tahu sesuatu?


Rara yang melihat suaminya hanya diam tersenyum kecut. Sampai kapan? Sampai kapan suaminya menyembunyikan masalah dia yang meninggalkan dirinya sendirian di pantai? Apakah sampai dia pergi dari kehidupan suaminya? Bukankah di dalam rumah tangga tidak ada yang boleh di sembunyikan? Apa pun itu! Entah dengan maksud baik atau tidak, tetap saja! Istri berhak tau tentang suaminya, agar tidak terjadi kesalahpahaman, begitu pun sebaliknya! Suami wajib tau tentang istrinya.


"Terserah Mas mau cerita atau tidak! Tapi jangan harap semuanya akan baik-baik saja! Rara akan terus seperti ini sampai Mas mau bercerita!" tegas Rara, lalu bangkit dan berjalan masuk ke dalam kamar mandi.


Alden masih terdiam, ia masih bingung ingin bercerita atau tidak perihal dirinya meninggalkan Rara di pantai. Jika ia cerita, kira-kira bagaimana respon Rara? Apakah wanita itu akan marah? Atau wanita itu justru mendukung keputusannya? Ah, Alden menjadi bingung dengan semuanya.


Tak berselang lama, Rara keluar dari dalam kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk yang meliliti tubuh mulusnya. Rara berjalan santai menuju lemari, untungnya Rara sempat membawa satu set pakaian kemaren.


Alden yang melihat pemandangan di depannya hanya bisa meneguk salivanya dengan kasar, bahkan tangannya sudah sangat gatal ingin menerkam istrinya, mengingat dirinya tak dapat jatah semalam. Tapi itu tidak mungkin! Jika ia nekad mendekati Rara, maka dapat dipastikan nyawanya tidak akan selamat, karena mungkin Rara akan mencakar, menggigit, bahkan mengoyaknya jika berani menyentuh sedikit saja.


Alden lalu bergegas masuk ke dalam kamar mandi, tidak sanggup melihat pemandangan itu terus menerus. Sementara Rara, ia tersenyum kemenangan melihat suaminya yang buru-buru masuk ke dalam mandi.


Rara lalu duduk di atas kasur sambil menunggu suaminya, karena tidak mungkin ia keluar dan bertemu mertuanya tanpa Alden.


Tak berselang lama Alden keluar dari kamar mandi, ia sedikit terkejut melihat jika Rara masih di kamar, ia kira Rara sudah turun duluan meninggalkan dirinya. Rara hanya melihat sekilas suaminya, kemudian kembali menatap handphonenya, meskipun tidak ada yang penting.


"Cepatlah! Rara sudah lapar!" ucap Rara yang masih fokus dengan handphonenya.


Alden tersenyum, memilih tidak membalasnya, lalu segera memakai pakaiannya. Selesai memakai pakaian, mereka lalu berjalan menuruni tangga, dan ternyata sudah ada Mike dan Elena di meja makan.


"Pagi." Dengan malas Rara menyapa mertuanya.


"Eh kalian udah keluar. Yaudah ayok makan," ucap Elena dengan lembut.


Rara hanya mengangguk tanpa ada senyuman di wajahnya. Entahlah, Rara merasa sedikit kesal dengan mertuanya yang menyetujui saja permohonan Alden. Rara lalu berjalan dan menarik kursi untuknya, lalu mengambil makanan, dan segera memakannya, ia bahkan tidak peduli dengan piring Alden yang masih kosong. Ia tidak peduli seperti apa respon mertuanya yang melihat ketidaksopanan ia terhadap suaminya. Jika mertuanya berani menegurnya, maka Rara tidak akan tinggal diam, 'bukankah kalian sudah tau seperti apa sikap Diandra? Tapi kalian tetap ingin melanjutkan pernikahan ini, lalu siapa yang pantas disalahkan? Aku ..., atau anak pembohong kalian?' begitulah kira-kira yang akan Rara ucapkan.

__ADS_1


Alden hanya terdiam melihat istrinya yang makan lebih dahulu tanpa mengambilkan untuknya. Mike dan Elena pun hanya diam, tidak berani menegur menantu mereka, karena wajar saja wanita itu marah pada Alden.


"Oh iya, Rara nanti pengen keluar," celetuk Rara saat mereka sedang makan. Entah pada siapa Rara mengatakan kalimat itu.


"Kemana Yank? Entar biar Mas antar kamu," ucap Alden lembut sambil menatap istrinya.


"Yah, tapi Rara takutnya ditinggal lagi." Rara memasang wajah sedihnya, lebih tepatnya pura-pura sedih.


Uhuk uhuk


Mereka semua sontak terbatuk-batuk mendengar ucapan Rara, bahkan Mike pun ikut terbatuk.


"Wah, kok kalian bisa keselak berjamaah? Mana nggak ngajak Rara lagi!" pekik Rara heboh.


"Itu keselak nasi atau sendok?" pekik Rara lagi.


Baik Alden, Elena, dan Mike hanya mengangga mendengar pekikan Rara yang sangat nyaring, jelas-jelas mereka terbatuk karena mendengar ucapan Rara tadi. Sementara Rara hanya memasang wajah tidak bersalah, atau lebih tepatnya EGP (Eh bodoh amat)!


"Baiklah, Mas bakal cerita ke kamu nanti di rumah," ucap Alden pada akhirnya, ia sangat tau jika Rara baru saja menyindir dirinya. Sepertinya ia memang harus menceritakan semuanya pada Rara. Bagaimana pun ia tidak bisa lari terus menerus, secepatnya ia harus menyelesaikan semua ini.


Mike dan Elena lebih memilih untuk diam saja, berharap mereka dapat menyelesaikan semuanya dengan baik dan dengan kepala yang dingin. Meskipun Mike dan Elena kecewa dengan putra mereka, tetapi mereka tidak ada hak untuk ikut campur dalam rumah tangga Alden dan Rara. Mereka menghargai keputusan Alden yang meminta untuk tidak membeitahukan perihal di mana dirinya tidur pada Rara.


Mike hanya diam, tidak tau harus berbuat apa, sedangkan Elena, ia sedikit kelabakan dengan pertanyaan menantunya yang benar-benar di luar dugaan.


'Bermain-main sedikit boleh, kan?' batin Rara tersenyum puas melihat mertuanya yang sedikit kesusahan mencari alasan.


"Sayang, kan memang nggak seharusnya orang lain tau tentang rumah tangga kita," jawab Alden lembut. Tidak mungkinkan mereka menjawab jika mereka sudah tau masalah apa yang ada di rumah tangga dirinya dan Rara, itu justru akan semakin rumit.


"Ya aneh aja sih Mas. Coba kalo bunda sama ayah yang dengar Mas ngomong kayak gitu, pasti kita langsung diintrogasi sama mereka, soalnya bunda sama ayah Rara peduli bangat sama putri mereka," balas Rara santai, bahkan senyum terbit di wajah cantiknya.


"Sayang, bukannya Mamah sama Papah nggak peduli sama kamu atau pun rumah tangga kalian, tapi Mamah percaya kalau apa pun masalahnya, kalian pasti bisa mengatasinya," balas Elena dengan lembut.


Rara hanya mengangguk, kemudian melanjutkan memakan makanannya. Sementara mereka yang tidak mendapat balasan Rara hanya diam, kemudian ikut lanjut makan.


"Rara kira kalian kalian akan jujur dengan semuanya," celetuk Rara lagi saat mereka sudah memasukkan sesuap nasi ke dalam mulut mereka.


Uhuk uhuk


Untuk kedua kalinya mereka tersedak mendengar celetukkan Rara. Alden bahkan menyemburkan makanan yang ada di mulutnya saking terkejut. Sementara Elena, wajahnya memerah dan air matanya sedikit menetes karena merasa sakit di tenggorokan, untungnya Mike segera memberikan segelas air pada istrinya. Mike sendiri ikut tersedak, tetapi untungnya ada air di dekatnya.


Rara yang melihatnya hanya menahan tawa, tapi sedikit merasa kasihan pada mamah mertuanya yang sampai meneteskan air mata.

__ADS_1


'Ya Allah, maafkan Rara yang justru bahagia di bawah penderitaan mertua Rara sendiri' batin Rara, tapi sejujurnya ia sedikit senang melihat mereka yang terus tersedak.


"Ish kok kalian nggak ngajak-ngajak sih keselaknya!" pekik Rara kesal.


"Sebenarnya kalian itu keselak apa sih? keselak nasi? atau keselak piring?" tanya Rara dengan tampang polos.


brukk


"Atau jangan-jangan kalian keselak lemari!" teriak Rara dengan suara sangat nyaring.


Alden, Mike dan Elena sedikit terlonjak mendengar gebrekan meja yang sangat nyaring, dan diikuti teriakkan Rara yang menggelegar. Andai mereka sedang memasukkan sesendok nasi lagi, sudah pasti mereka akan mati karena keselak.


"Yaudah deh, kalian udah jahat banget sama Rara yang cantik dan bahenol kembarannya Inces Syahrini ini. Masa nggak ngajak Rara keselaknya. Rara ngambek, eh tapi nggak jadi deh. Entar kalau Rara ngambek, cantiknya malah nambah, kan kasihan sama wajah Mas Alden yang pas-pas'an. Iya kalo pas Rara tinggal jadi duren, duda keren. Kalo jadi semangka kan barabe," ucap Rara asal.


Rara yang sudah selesai makan langsung bangkit, berniat meletakkan piring kotor bekasnya ke wastafel, tapi tidak berniat untuk mencucinya.


Tapi baru saja Rara berjalan satu langkah, ia teringat sesuatu, kemudian berbalik menghadap suami dan mertuanya.


"Oh iya, Rara lupa. Kemaren Rara habis nonton berita di TV, katanya gini 'Akibat satu keluarga yang kompak menyembunyikan sesuatu yang sangat penting kepada menantunya, sang menantu nekad menghabisi keluarga suaminya dengan menambahkan papa lemon ke minuman yang akan mereka minum. Akibatnya, satu keluarga meninggal secara berjamaah dengan busa yang terus keluar dari mulut mereka. Sang menantu tentu tidak tinggal diam, ia lalu mengambil baskom, dan memiringkan kepala mereka sehingga air yang ada di mulut mereka jatuh ke dalam baskom, sang menantu sontak membawa air itu ke dapur dan langsung mencuci piring dan terus bernyanyi. Tapi siapa sangka, jika perbuatan sang menantu justru mendapat apresiasi dari para ibu-ibu, menurut mereka tindakan sang menantu sungguh sangat mulia, karena berkat dia keluarga suami mereka menjadi lebih lembut memperlakukan mereka. Tak henti-hentinya sang menantu mendapat pujian dari warga +62' gitu katanya. Hebat, kan? Rara jadi terinspirasi," ucap Rara panjang kali lebar, bahkan ia mengubah sedikit suara dan gayanya mengikuti presenter berita .


Alden, Mike dan Elena hanya mengangga mendengar ucapan Rara. Dari mana ada berita seperti itu di TV? Elena yang hampir tiap hari menonton berita tidak pernah menemukan berita seperti itu.


"Udahlah, kembarannya Inces Syahrini mau jalan menuji wastafel untuk meletakkan piring kotor ini, kan nggak mungkin kalo di lempar," kekeh Rara yang melihat mereka membuka mulut dengan cukup lebar. Rara bahkan berdoa semoga ada gajah yang masuk ke dalam mulut mereka.


"Maju ... mundur syantik syantik ... mundur lagi mundur lagi syantik syantik ... maju lagi maju lagi syantik shyantik." Rara terus beryanyi dangan melenggok-lenggokkan tubuhnya sampai wastafel . Ia bahkan tidak peduli dengan respon suami dan mertuanya.


"Capek juga gue nangis mulu, setidaknya ketawa dulu deh. Entar nangis lagi kalo si Sarden udah cerita," kekeh Rara saat meletakkan piring di wastafel. Ia bahkan tidak sopan memanggil suaminya dengan sebutan sarden.


Sementara Alden, Mike dan Elena hanya bisa memandang satu sama lain, seolah-olah pandangan mereka mengatakan.


Apakah itu menantuku?


Apakah itu istriku?


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2