
Seminggu sudah berlalu, dan hari ini adalah hari pernikahan Rissa dan Satya.
Pernikahan mereka diadakan dengan sangat meriah, tetapi Rissa tidak mengundang teman-teman sekampusnya, karena ia tidak mau hubungan Alden dan Rara terbongkar jika tiba-tiba anak kampus melihat kedekatan mereka berdua. Tetapi meskipun demikian, Rissa tetap mengundang Reza, karena jujur saja, hanya Reza orang yang cukup dekat dengan ia selain Rara di kampus. Karena sikap Reza yang sama bobrok dengan ia dan Rara yang membuat mereka bertiga cukup dekat.
"Buruan bang Sat! Lama amat lo dandannya," kesal Rara yang merasa sudah cukup lama menunggu abangnya.
"Ckk ... sabar dek, orang abang juga perlu siap-siap biar ganteng banget nanti." Satya mengembangkan senyumnya.
"Cih ... mau pakai jas apa aja, tetap aja kayak gitu, gak ada perubahan, orang lo udah jelek dari lahir." Rara bahkan tidak peduli jika yang hina itu adalah abangnya.
"Ckk ... kita itu keluar dari tempat yang sama dek, ingat itu! Jadi kalo lo nghina gue, sama aja lo ngehina diri lo sendiri dan ngehina bunda," ketus Satya yang benar-benar kesal dengan mulut pedas adiknya itu.
"Emang kita keluar dari mana bang?" tanya Rara polos.
"Y - ya dari itu, dari anu," jawab Satya ambigu.
"Itu apa? Anu apa? Kalo ngomong itu yang jelas dong," ketus Rara.
"Ahhh, pusing gue ngadepin bumil polos kayak lo, polos-polos bangsat tau gak." Satya jadi kesal sendiri dengan adiknya.
"Lho kok polos-polos bang Sat, harusnya kan polos-polos dek Sat," ucap Rara polos dengan memasang wajah bingung.
Alden yang sedari tadi hanya diam memperhatikan obroalan mereka sontak terkekeh dengan ucapan serta kepolosan istrinya, apa yang diucapkan Rara ada benarnya juga, seharusnya bukan bang Sat, tapi dek Sat, akh Alden hanya berharap anaknya nanti tidak dipanggil nak Sat.
"Eh ... iya juga ya dek, harusnya gue manggil lo dek Sat." Satya mangut-mangut, apa yang diucapkan adiknya ada benarnya juga.
"Yaudah ayok kita berangkat." Tiba-tiba Elmira datang dengan kebaya yang melekat indah di tubuhnya serta sanggul yang menambah nilai plus untuknya. Tidak berbeda jauh dengan Elmira, Abimanyu juga tampil menawan meskipun sudah cukup tua.
"Wah bunda cantik banget," puji Rara yang memang benar-benar mengagumi penampilan bundanya.
"Kamu baru tau ya?" kekeh Elmira.
"Ishh Rara cuman bilang kalo bunda cantik banget, tapi kalo Rara cantik banget banget, iyakan Mas?" Rara langsung menatap suaminya.
"Iya." Dengan Malas Alden menjawabnya.
"Ckk ... kok Mas jawabnya kayak ngak iklhas gitu sih," kesal Rara.
"Iya sayang, kamu tuh cantik banget banget banget, pokoknya sekebon deh banyaknya," ucap Alden sambil tersenyum manis.
"Ckk ... ko kalian pada berantem sih, udah ayok buruan! Entar Satya ngak jadi kawin, terus tiba-tiba digantiin sama anak pak Ujang gimana?" Satya yang melihat perdebatan mereka tentu menjadi kesal.
"Aduh Sat ... bukan kawin! Tapi nikah," ucap Elmira jengah.
"Emang beda kawin sama nikah apa bun?" celetuk Rara.
"Kalo kawin itu semacam menikah, sedangkan menikah itu samacam kawin," jelas Elmira.
"Lho?" Seketika otak Rara tidak berfungsi untuk mencerna ucapan bundanya.
"Yaudah ayok berangkat sekarang." Melihat putrinya yang kelihatan bingung, Abimanyu sontak segera cepat-cepat mengajak mereka berangkat, karena jika mereka terus di sana, acara pernikahan mungkin akan selesai ketika Rara berhenti berbicara.
Mereka lalu berangkat dengan dua mobil yang berbeda, Satya yang ikut bersama orang tuanya, dan Rara beserta Alden yang memilih untuk berangkat sendiri.
Tidak beberapa lama, mereka sampai ke kediaman calon mempelai perempuan. Rissa memang meminta pernikahannya hanya di laksanakan di rumah, tetapi meskipun demikian, pernikahan mereka tetap di laksanakan dengan sangat meriah, bahkan sangat berbeda dengan pernikahan Rara dan Alden dahulu yang hanya di hadiri sedikit orang. Tetapi pernikahan Rissa dan Satya benar-benar mengundang lumayan banyak orang, tetapi tidak ada anak kampus.
"Oh iya, mahar lo berapa bang?" tanya Rara saat mereka sudah turun.
"Satu lusin sem*ph*ak," jawab Satya asal.
"Buset, gue nanya serius bang." Rara jadi kesal dengan jawaban abangnya.
Satya tidak menjawab, ia segera masuk ke dalam, tidak sabar ingin bertemu sang pujaan hati yang sebentar lagi akan resmi menjadi nyonya Velove. Ya! Satya berencana untuk mengganti marga setelah menikah dengan Rissa.
Pada saat akad akan di laksanakan. Keenan, selaku ayah dari Rissa menyuruh para tamu undangan untuk duduk manis.
"Karena akad nikah akan segera di mulai, semuanya harap duduk di kursi yang sudah kami siapkan," ujar Keenan menggunakan micropon.
Seluruh tamu undangan semuanya duduk di tempat yang sudah di sediakan, tak lama kemudian, calon mempelai wanita datang yaitu Clarissa Yunita Maheswari. Ia di dampingi Dewi, ibunya.
Di sebelah kursinya sudah ada Satya, calon suaminya yang sudah menunggu.
Satya menga-nga melihat betapa cantiknya gadis yang akan menjadi istrinya itu.
__ADS_1
"Buset, bini gue cakep amat," celetuk Satya dengan suara yang cukup nyaring.
Pletak ....Tiba-tiba kepala Satya di pukul oleh Rara.
"Masih calon bang Sat, siapa tau aja Rissa nya berubah pikiran pas ngeliat lo," ketus Rara. Hal itu tentu tidak lepas dari pandangan para tamu, mereka tertawa mendengar ucapan blak-blakan Rara.
"Ckk ... itu ngak mungkin terjadi dek, orang gue cakepnya melebihi mang Soleh." Satya berbicara dengan pede sambil menyisir rambutnya ke belakang.
"Bagaimana? Sudah bisa di mulai acaranya?" tanya pak Penghulu saat Rissa sudah duduk di samping Satya.
"Yaiyalah pak, buruan! Saya udah ngak sabar pengen melehoy sama Ayang Rissa." Satya menjawab dengan sangat bersemangat.
"Melehoy apaan bang?" tanya Rara bingung.
"Cih ... bocil diam aja."
Rara yang mendapat jawaban seperti itu tentu kesal sendiri.
'Ckk ... gue hancurin nih pesta baru tau rasa'
Satya lalu menjabat tangan Keenan dan melakukan ijab kobul.
""Bismillahirrohmanirrohim, Satya Ramatha Jonshon saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri saya yang bernama Clarissa Yunita Maheswari dengan maskawin berupa uang sebesar 5 miliar, 1 apartemen mewah, emas murni 30 gram dan seperangkat alat sholat dibayar tunai," ucap Keenan dengan lantang.
"Say-"
"Tidak Rhoma!" Tiba-tiba saja Rara berteriak.
Krik krikk
Semua orang terdiam mendengar teriakkan Rara yang sangat nyaring, tapi tiba-tiba ....
"Apa-apaan kau Ani? Aku sangat mencintai dia Ani, bagaimana mungkin kau menghalangi kami." Satya yang mendengar ucapan adiknya tidak marah, ia justru larut dan ikut menirukan suaranya seperti Rhoma.
"Tidak Rhoma!" Rara berteriak lagi.
"Kenapa Ani? Apakah karena aku terlalu tampan?"
"Cukuuup Rhoma, cukuuup!!" ucap Rara sambil menjambak rambutnya.
Para tamu yang memperhatikan dan mendengar candaan adik-kakak itu tentu tidak mampu menahan tawa, mereka sontak tertawa sambil memegang perut karena sangat lucu menurut mereka. Bahkan Mike dan Elena juga tidak mampu menahan tawa, mereka sama sekali tidak malu dengan sikap menantu mereka.
"Gila!" Baik orang tua Satya maupun orang tua Rissa sama-sama dibuat pusing dengan sikap Rara dan Satya.
"Kayaknya Papah ngak jadi ngasih restu buat kalian," ucap Keenan sambil memandang Satya.
"Lho ... kok gitu sih Pah? Ya kalo Papah ngak ngerestuin, Satya bawa Rissa kawin lari aja," balas Satya asal.
"Emang abang ngak capek kalo kawin lari?" tanya Rara polos.
"Ya daripada kawin ngesot, kan? Mending kawin lari aja."
"Iya juga sih, apalagi kalo kawin sambil jungkir balik." Rara mangut-mangut setuju dengan perkataan abangnya.
"Bisa di lanjutkan ijab kobulnya?" tanya pak Penghulu.
"Hehe bisa-bisa pak." Satya hanya cengengesan.
"Baik, ijab kobulnya kita ulang ya."
"Bismillahirrohmanirrohim, Satya Ramatha Jonshon saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri saya yang bernama Clarissa Yunita Maheswari dengan maskawin berupa uang sebesar 5 miliar, 1 apartemen mewah, emas murni 30 gram dan seperangkat alat sholat dibayar tunai," ucap Keenan dengan lantang.
Satya menarik nafas dalam. "Saya terima nikah dan kawinnya Clarissa Yunita Maheswari dengan maskawin tersebut dibayar tunai."
"Gimana para saksi, sah?" tanya Pak Penghulu sambil melihat para saksi.
"SAH!"
"Kagak."
Ketika semua orang mengatakan sah, Rara justru satu-satunya yang mengatakan tidak. Para tamu sontak menatap Rara heran.
"Hehehe tadi Rara bilang Sah kok," kekeh Rara.
__ADS_1
"Horeee welcome 10 ronde, welcome 20 debay," teriak Satya sambil berdiri dengan posisi tangan ke atas seperti merasa kemenangan datang kepadanya.
Rissa yang melihat tingkah laku Satya yang sudah resmi menjadi suaminya hanya menunduk, belum saja satu menit ia menjadi istrinya Satya, tetapi sudah dibikin malu.
Semua yang menyaksikan tingkah laku Satya hanya menahan tawa, tadi dibuat tertawa ngakak dengan tingkah laku Satya dan Rara, sekarang malah dibikin semakin tertawa dengan ulah Satya.
"Satya! Duduk!" perintah Abimanyu yang benar-benar jengkel dengan tingkah laku putranya.
"Selamat ya, kalian sekarang sudah resmi menjadi suami istri," ucap Pak Penghulu.
Satya tersenyum bahagia. Hari ini Rissa menjadi milik dirinya dengan utuh.
*****
"Selamat ya Sat, Sa. Kalian sudah resmi menjadi sepasang suami istri," ucap Elmira menyalami sepasang pengantin tersebut.
"Makasih bun," jawab Satya dan Rissa bersamaan.
Abimanyu, Keenan, Dewi, Mike dan Elena juga ikut menyalimi pengantin baru itu dengan doa agar mereka selalu bersama sampai akhir hayat.
"Selamat bang Sat, selamat tepung Sasa," ejek Rara sambil menyalami mereka berdua.
"Ckk ... makasih adek ipar," balas Rissa mengejek.
Rara yang mendengar tentu berdecak kesal, mentang-mentang Rissa sudah resmi menjadi istri abangnya, ia dengan leluasa mengejek Rara.
"Yaudah ayok kita foto bareng," ucap Elmira yang tiba-tiba datang.
"Bang, fotoin kita!" perintah Satya saat melihat tukang foto yang datang, mereka pun mengikuti arahan yang sudah diberikan.
Satu kali mengambil gambar, Rara lalu pamit. Mereka semua tentu bingung, terlihat sangat jelas diwajah Rara yang mereka sendiri tidak bisa mengartikannya, tetapi sikap dan mimik wajah Rara benar-benar berubah.
Melihat istrinya yang berjalan pergi, Alden pamit pada mereka dan menyusul istrinya yang sedang duduk sambil menatap kosong.
"Kamu kenapa hmm?" tanya Alden lembut, lalu duduk di samping istrinya.
"Ngak ada kok Mas," jawab Rara memaksakan senyum.
'Andai pernikahan Rara juga meriah kayak Rissa'
'Kenapa Rara harus menikah atas perjodohan, Rara juga pengen menikah atas dasar cinta seperti mereka'
'Ya Allah, Rara bukannya menyesal dengan pernikahan ini, tapi Rara juga ingin merasa deg-deg'an dan rasa bahagia yang luar biasa saat menikah'
Tanpa Rara sadari, air matanya menetes membasahi pipinya. Alden yang memang memperhatikan istrinya tentu dibuat terkejut dengan air mata istrinya yang tiba-tiba merembes. Alden bertanya-tanya apa yang terjadi dengan istrinya?
"Kamu kenapa nangis sayang?" tanya Alden lembut sambil menghapus air mata istrinya.
"A - ah? Ngak papa kok Mas." Rara yang menyadari ternyata air matanya jatuh tanpa ia minta langsung menghapusnya.
"Jujur sama Mas sayang, kamu kenapa?" Alden sangat yakin jika ada sesuatu yang terjadi dengan istrinya.
Rara tidak menjawab, ia hanya memeluk erat suaminya, air mata terus merembes keluar sehingga membuat Alden semaki khawatir dengan istrinya, apa yang sebenarnya terjadi dengan istrinya?
"Cerita sama Mas sayang." Alden terus mengelus lembut punggung istrinya.
"Ra - Rara cuman capek Mas, Rara juga ngak tau kenapa Rara pengen nangis, mungkin ini keinginan dedek bayinya hiks .... "
Alden yang mendengarnya hanya mengangguk percaya, ia juga berpikir jika itu mungkin karna pengaruh anak yang ada di kandungan Rara.
"Yaudah ayok kita pulang," ucap Alden lembut sambil tersenyum.
Rara yang melihat senyum dan respon suaminya yang sepertinya percaya saja dengan apa yang baru saja ia ucap hanya tersenyum kecut. Sepertinya suaminya memang tidak peka! Rara sendiri tidak tahu mengapa ia tidak mampu mengatakan keinginannya, lidahnya terasa kelu untuk menyampaikan keinginannya. Rara takut Alden justru tidak mau menurutinya dengan berbagai alasan.
'Sepertinya Rara ngak akan pernah bisa menikmati menjadi seorang putri sesungguhnya seperti Rissa'
'Meskipun mereka dijodohkan, tetapi mereka sudah mencintai satu sama lain, ngak seperti Rara dulu, bahkan pernikahan Rara biasa saja'
.
.
.
__ADS_1
.