
..."Ternyata dunia ini terlalu keras untuk kita yang lemah. Ada banyak cobaan yang terus datang silih berganti. Bertahan tapi menyakitkan bukankah terlalu sakit? Jadi, mau mengakhiri hidup bersama?"...
...Diandra Latasha Jonshon...
...••••••••••••••...
Setelah pulang dari rumah sakit, Rara lalu masuk ke dalam kamar. Membersihkan diri, kemudian berbaring. Entahlah tubuhnya terasa sangat lelah. Tapi sebelum Rara tidur, ia terlebih dahulu menghidupkan handphonenya, sudah sangat lama ia tidak membuka handphone karena malas Alden yang terus menelponnya.
Rara tersenyum tipis saat melihat riwayat panggilan Alden yang hampir seratus kali. Tapi kening Rara tiba-tiba mengkerut saat mendapati riwayat panggilan Rissa yang hampir lima puluh kali.
"Tumben nih anak telpon gue berkali-kali," kekeh Rara.
Panggilan kembali masuk, buru-buru Rara mengangkatnya sebelum panggilan kembali dimatikan.
"Halo?" jawab Rara.
"R-Ra lo udah liat berita yang lagi trending di kampus?" tanya Rissa dengan sedikit terbata.
"Maksud lo?"
"L-lo lagi jadi bahan perbincangan sama anak kampus," jawab Rissa dengan panik.
"Gue? Kenapa? Emang berita apa?" Rara masih belum paham dengan maksud Rissa yang sebenarnya.
"Ada orang yang mengunggah foto dan video lo di media sosial, mereka banyak ngehujat lo karena mereka mikirnya lo hamil di luar nikah," lirih Rissa di seberang sana.
Tubuh Rara sontak membeku. Dihujat? Apa maksud sahabat sekaligus kakak iparnya itu? Siapa yang sudah berani menyebar video dan foto dirinya berbadan dua?
Kenzo!
Rara sangat yakin jika laki-laki br***sek itu yang sudah menyebar foto dirinya. Tanpa basa-basi Rara langsung mengakhiri panggilan tersebut. Kemudian Rara membuka akun media sosial yang sudah sangat lama tidak ia buka. Jari wanita itu dengan lincah menari di atas layar handphone.
Rara terdiam saat melihat berita yang baru saja trending beberapa jam yang lalu. Di sana terlihat dengan jelas foto dirinya saat berada di pantai, serta beberapa gambar dirinya sedang sendiri dengan perut yang besar. Tapi anehnya, tidak ada foto dirinya dengan Alden.
Gak nyangka gue kalau Diandra ternyata j*l*ng
Gila! Diandra ternyata murah banget! Iuww gue jadi jyjyk.
Dulu gue ngefens banget sama Diandra, tapi sekarang nggak jadi deh, soalnya murah. Huuuu
Dasar j*l*ng! Ngotorin kampus aja lo!
Pantes tuh cewe nggak pernah lagi datang ke kampus, ternyata takut ketahuan sama kita kalau dia hamil.
Anak siapa tuh? Hamil di luar nikah Neng? Jangan bilang anak orang banyak haha. Opss maaf sengaja.
__ADS_1
Makanya kalau mau main sama Om-Om, pakai pengaman atuh Neng, kalau kayak gini 'kan jadi runyam haha.
Kok lo nggak bilang sih Diandra, kalau lo itu butuh kepuasaan dari laki-laki? Kalau gue tau, mending gue aja yang puasin lo, entar gue bayar mahal deh. Soalnya gue kasihan kalau lo harus puasin Om-Om.
Ternyata di balik wajah polos seorang Diandra, tersimpan suara de**han-de**han waktu main sama Om-Om hahaha.
Lo semua kalau nggak tau apa-apa mending diam deh! Diandra nggak sekotor itu! Dia udah nikah! Hanya saya pernikahannya dirahasikan. (Rissa)
"A***ng lo semua! Kalau nggak tau apa-apa itu mending diam! Diandra itu udah nikah b***sat! Jangan asal ngomong lo. (Reza)
Diandra lo benar-benar MENJIJIKKAN! Kalau perlu uang, nggak gitu juga a***ng! Dasar munafik! Murahan! J*l*ng! Jijik gue sama lo!
Air mata terus membasahi pipi Rara, ini adalah kali pertamanya ia mendapat cacian selama ia hidup.
"Hiks ... hiks ...." Air mata terus mengalir membasahi pipi chubby Rara.
Ada banyak lagi caci makian yang dilontarkan oleh mereka, baik laki-laki maupun perempuan, semuanya menghujat Rara sebagai j*l*ng dan wanita murahan.
"Ba-bagaimana mungkin kalian menghujat aku tanpa tau kebenarannya? Apakah memang seperti ini sifat semua manusia? Hiks ...." Rara terus menangis di dalam kamarnya. Air mata terus jatuh membasahi selimut miliknya.
Brukk
Rara membanting handphonenya ke dinding dengan sangat kuat, sehingga benda pipih itu menjadi hancur dengan kaca layar yang berhamburan di lantai. Tidak hanya itu saja, Rara bahkan melempar gelas kaca yang ada di atas nakas, sehingga gelas itu pecah dan pecahannya berhamburan di mana-mana.
"Arghh! Kenapa semua orang berniat ngehancurin hidup gue!" teriak Rara frustasi. Wanita itu bahkan menjambak rambutnya dengan cukup kuat dengan air mata yang terus mengalir. Sepertinya wanita hamil itu benar-benar dibuat stres dengan komentar-komentar yang baru saja dibacanya.
"Haha, kenapa cerita hidup gue menyedihkan? Kenapa semuanya hancur? Kenapa orang-orang membenci gue?" teriak Rara.
"Gu-gue pengen mati aja," lirih Rara dengan pandangan kosong.
"Gu-gue capek! Gue nggak sanggup hidup kayak gini! Rumah tangga gue hancur! Hidup gue hancur! Dan sekarang apa? Bahkan mental gue juga hancur!"
"Kenapa nggak kalian bunuh aja aku? Kenapa harus dibunuh secara perlahan?" tanya Rara entah pada siapa.
"Apa Mommy bawa aja kalian pergi he'em?" tanya Rara menunduk sambil mengelus perutnya. "Kita pergi jauh dari dunia ini. Ikut Mommy hidup bahagia di surga aja. Mommy nggak mau kalian juga merasakan pahitnya kehidupan di dunia. Jadi, mari pergi bersama-sama, meninggalkan orang jahat-jahat yang ada di dunia ini, dan hidup bahagia bersama Allah di sorga. Dunia ini terlalu keras untuk kita sayang. Jadi, mari kita akhiri hidup kita!" Sepertinya kesadaran wanita itu sudah hilang. Bahkan ia berniat mengakhiri hidupnya, dan membawa anak-anaknya untuk ikut bersama dia.
Rara lalu berjalan menuju kamar mandi dengan sisa tenaganya. Hampir saja wanita itu terjatuh jika ia tidak segera bertumpu pada dinding.
"Auw!" Rara sedikit meringis saat pecahan gelas yang ia lempar tadi menusuk telapak kakinya, sehingga darah segar mengalir dan mengotori lantai putih tersebut.
Setelah berhasil masuk, Rara mengunci pintu kamar mandi, kemudian menyalakan shower. Terduduk lemas, dan menangis di bawah tetesan air yang terus membasahi tubuhnya. Tidak peduli lagi dengan kondisi kesehatannya, yang sekarang ia pikirkan hanya ingin MATI, dan pergi dari dunia yang begitu kejam untuk dirinya yang lemah.
"Hiks ... Hiks ..." Rara menangis saat ia kembali teringat dengan cacian yang ia baca tadi.
"Gue baru sadar kalau ternyata dunia ini terlalu mengerikan! Gue pikir gue akan terus hidup bahagia. Tapi apa? Bahkan hidup gue terlalu cepat untuk hancur!" lirih Rara.
__ADS_1
********
Alden yang sedang melamun sontak tersadar saat mendapati handphonenya berdering. Ia pikir istrinya yang menelpon, tapi ternyata Rissa.
Mata Alden membulat saat mendengar penuturan Rissa. Ia sontak membuka media sosial miliknya, dan benar saja, ada begitu banyak cacian yang dilontarkan anak-anak kampus pada Rara.
Napas Alden memburu saat banyak dari mereka yang mengatakan jika istrinya seorang j*l*ng dan wanita murahan. Alden lalu membuat sebuah postingan, dan mengatakan jika Rara sudah resmi menjadi istrinya, bahkan sebelum ia hamil. Tidak hanya itu, Alden bahkan mengatakan akan membawa kasus ini ke pengadilan atas dasar pencemaran nama baik, dan akan memastikan menuntut mereka yang menghina istrinya.
Tanpa basa-basi Alden langsung mengendarai mobilnya dengan sangat kencang. Tidak memperdulikan kesalamatannya, yang ia pikirkan saat ini hanya istrinya. Alden benar-benar takut wanita hamil itu akan sangat stres.
Tak berselang lama ia akhirnya sampai. Untungnya Abimanyu dan Elmira sedang pergi, sehingga Alden dengan leluasa masuk ke dalam rumah tanpa harus bertemu mertuanya.
"Sayang?" panggil Alden saat membuka pintu kamar Rara. Mata Alden membulat saat melihat pecahan kaca di lantai, dan yang lebih membuat Alden terkejut adalah darah yang masih segar di lantai.
Alden lalu belari, dan menggedor pintu kamar mandi, karena yakin Rara pasti ada di dalam sana. Tidak ada sahutan, yang ada hanya suara gemercik air dan tanggisan yang Alden yakini itu adalah Rara.
"Ra kamu di dalam, 'kan? Buka sayang!" teriak Alden sambil menggedor pintu kamar mandi.
Karena tidak mendapat sahutan, Alden langsung saja mendobrak pintu itu dengan beberapa kali sentakkan.
Mata Alden semakin membulat saat melihat wajah pucat istrinya, dan air mata yang terus mengalir mata Rara.
"Sayang!" teriak Alden. Laki-laki itu langsung mematikan shower, lalu memeluk tubuh istrinya yang sedikit menggigil.
"Ma-Mas, Rara capek! Ke-kenapa Tuhan nggak ngijinin Rara buat bahagia? Kenapa hidup Rara sehancur ini? Ra-Rara pengen mati aja." Rara benar-benar stres saat ini, ia bahkan tidak menolak pelukan suaminya. Rara justru menangis di dalam dekapan Alden.
"Sayang kamu jangan berbicara seperti itu. Mas udah atasin semuanya. Tolong jangan seperti ini!" Alden ikut menangis melihat kondisi istrinya yang memprihatinkan. Bahkan Alden meringis melihat darah yang terus mengalir dari telapak kaki Rara, yang bercampur dengan air.
"Rara ca-capek," lirih Rara. Setelah mengatakan kalimat itu, kesadaran Rara hilang, ia pingsan di dekapan suaminya.
"Rara!"
.
.
.
.
Gak kebayang sih jadi Rara. Pasti sakit banget dapat cacian kayak gitu, jadi wajar aja dia stres. Aku aja yang dapat komen buruk dari readers langsung ngedown😆
Cerita ini bakal tamat kemungkinan nggak sampai 100 eps (Tapi masih kemungkinan ><)... entah berakhir dengan happy ending atau sad ending, aku lagi pertimbangkan wkwk.
Kalau nggak sesuai dengan keinginan kalian, aku minta maaf. Aku emang suka banget sama cerita yang berakhir dengan penyesalan yang luar biasa. Jadi ... ya gitu dehh aku bakal buat.
__ADS_1
Makasih banyak buat kalian yang udah ngikutin cerita ini sampai eps ini, walaupun masih banyak yang belum paham sama alur aku ><