Istri Bar-Bar Milik Pak Dosen

Istri Bar-Bar Milik Pak Dosen
Se br*ngsek itukah?


__ADS_3

Melihat penolakkan istrinya, Alden hanya bisa diam. Sudah sepantasnya Rara marah padanya. Lalu, bagaimana jika Rara tau jika ia menginap di rumah wanita lain? Alden yakin wanita itu akan semakin sakit.


Alden segera masuk ke dalam kamar mandi untuk menenangkan adik kecilnya.


Sementara Rara, ia berbaring di atas kasur, sambil memainkan handphonenya. Membuka akun WhatsApp yang ia miliki yang sudah lama tidak ia kunjungi.


Ada begitu banyak pesan yang masuk, tapi Rara mengabaikannya. Lalu matanya melihat sebuah pesan dari nomor yang tidak asing. Yaya Gicela, nama kesayangan yang Rara berikan pada sahabatnya.


Yaya Gicela :[Hai, Ra! Kamu kok udah nggak pernah ke kampus?]


Rara :[He-he, gue emang udah nggak pernah ke kampus lagi, soalnya gue lagi hamil Ya]


Rara terkekeh membaca pesan yang dikirim oleh Raya. Rara memang belum mengabarkan perihal dirinya yang sedang berbadan tiga pada sahabat SMA nya itu.


Ah, andai saja Raya tidak menolak kebaikkan orang tuanya untuk membantu biaya kuliah Raya, sudah pasti di kampus akan ada kelompok 3R (Rara, Rissa, dan Raya). Tapi sayangnya, wanita itu selalu menolak, dan memilih untuk bekerja di kampung saja, padahal Raya sudah dianggap anak sendiri oleh orang tua Rara, bahkan Rara sudah menganggap Raya seperti saudara kandungnya sendiri.


Kehidupan Raya sedikit mengerikan. Sewaktu SMA, ia harus merasakan pahitnya kehidupan, di mana orang tuanya bercerai! Sedari kecil Raya sudah melihat yang namanya kekerasan fisik. Hampir setiap hari ia melihat ibunya yang selalu dihajar oleh ayahnya. Raya yang saat itu masih kecil, hanya bisa diam, menangis tersedu-sedu di pojok tanpa berani menolong ibunya.


Hingga suatu hari, ibu Raya meninggal dunia karena memiliki penyakit mematikan! Raya terpukul, bahkan sangat terpukul! Sebulan kemudian, ayahnya mengalami kecelakan parah sehingga membuat ayahnya meninggal di tempat. Hancur sudah kehidupan Raya! Ia tidak mempunyai siapa pun lagi di dunia. Tapi, di saat ia sudah menyarah akan kehidupannya, keluarga Jonshon datang, dan membiayai sekolahnya hingga lulus SMA. Itu semua berkat Rara yang menceritakan tentang kehidapan Raya pada orang tuanya. Tapi, karena merasa sangat merepotkan, Raya akhirnya memutuskan untuk tidak melanjutkan sekolahnya dan memilih untuk bekerja. Sejak saat itu, Rara tidak tau bagaimana kehidupan Raya selanjutnya, karena keluarganya pindah ke Jakarta.


Yaya Gicela :[Oh gitu, selamat ya Rara cayang. Kapan-kapan mampir dong]


Rara :[Iya-iya bawel! Besok deh, gimana? Tapi nggak di cafe dekat kampus, kan kalo di situ bisa barabe. Tapi, kalo lo free sih]


Yaya Gicela :[Oke, kebetulan besok aku free. Yaudah kirim aja lokasinya, kebetulan aku juga pengen curhat]


Saat ingin membalas pesan dari Raya, tiba-tiba Alden keluar. Rara mengurungkan niatnya untuk membalas pesan tersebut, lalu meletakkan handphonenya di atas nakas, kemudian menarik selimut berniat untuk segera tidur.


Alden yang melihat Rara tertidur hanya bisa menghembuskan nafas. Laki-laki itu lalu naik ke atas kasur setelah memakai pakaian. Alden menatap langit-langit kamar, mengingat kejadian semalam dirinya dengan Ella.


FLASH BACK


"Makasih ya No, karena udah mau nganterin aku." Ella tersenyum manis.


"Sama-sama El, aku juga nggak tega ninggalin kamu," balas Alden.


"Yaudah, aku pergi, ya?" Alden lalu beranjak, berniat untuk pergi karena merasa tidak ada yang penting lagi.


"Eh, tunggu No!"


"Kenapa?"


"Jangan buru-buru, aku nggak enak kalo kamu udah nganterin aku, terus pergi gitu aja. Kamu nggak mau minum dulu?" tanya Ella dengan suara lembut.


Alden terdiam sejenak, ia tau betul sifat Ella. Wanita itu memang memiliki sikap yang tidak enak jika ia tidak membalas kebaikkan orang lain.


"Yaudah, boleh!" jawab Alden tersenyum, seketika ia lupa dengan istrinya yang sudah menunggu di pinggir pantai.


Ella tersenyum lembut, lalu berjalan ke arah dapur untuk membuatkan Alden secangkir kopi. Tak berselang lama, Ella datang dan membawa secangkir kopi.


"Diminum, No!" Ella meletakkan secangkir kopi tersebut di depan Alden.


Alden tersenyum, lalu meminum kopi tersebut.

__ADS_1


"Kamu nikah udah berapa lama, No?" tanya Ella lembut.


"Eum ... hampir satu tahun," jawab Alden.


"Oh, gitu. Terus istri kamu udah hamil berapa bulan?" tanya Ella lagi.


"Enam bulan lebih," jawab Alden dengan sedikit lirihan.


Ella yang mendengarnya hanya tersenyum kecut. Ia merasa seperti wanita yang paling jahat karena akan menghancurkan rumah tangga Alden, padahal istri Alden tidak tahu apa-apa. Dia hanya berharap semoga keluarga itu nanti tidak akan hancur seperti apa yang ada di pikirannya.


"Maaf." Tiba-tiba saja kata itu lolos dari mulut Alden.


"Kenapa?" tanya Ella heran.


"Maaf karena udah menikah dengan wanita lain," lirih Alden.


"Nggak apa-apa kok No, aku paham. Wajar aja kalo kamu sudah mencintai wanita lain." Ella hanya tersenyum tipis.


"Enggak!" potong Alden cepat. "Awalnya aku nggak mencintai wanita itu, kami hanya dijodohkan." Alden justru menjelaskan perihal pernikahannya, padahal Raya tidak bertanya.


"Seriusan? Terus?" Ella menjadi tertarik dengan cerita Alden.


"Tiap hari aku nungguin kedatangan kamu, tapi ... kamu tak kunjung kembali. Hingga aku memutuskan untuk melupakan kamu, dan itu berhasil! Aku sudah melupakan kamu. Dan siapa sangka, jika nama istriku perlahan-lahan bertahta di hatiku." Alden tersenyum mengingat awal pernikahan mereka sampai Rara yang ngidam aneh.


"Kamu udah ngelupain aku?" tanya Ella.


"Iya, El! Aku minta maaf karena nama kamu memang sudah benar-benar terhapus dari dalam hatiku! Tapi tenang aja, aku bakal tetap ada di samping kamu, aku akan membantu kamu untuk pergi ke rumah sakit," ucap Alden tersenyum manis.


Ella sedikit bersyukur mendengarnya, setidaknya rumah tangga Alden tidak akan hancur dengan kedatangannya, begitulah pemikiran Raya.


"Eum ... boleh aku peluk kamu No," cicit Ella.


Alden terdiam mendengarnya, tapi seperkian detik kemudian, ia merentangkan tangannya pertanya iya. Raya lalu mendekat dan memeluk tubuh Alden, menghirup aroma tubuh Alden yang dulu sangat disukai oleh dirinya.


"Makasih ya No." Ella mendongkan kepalanya menatap wajah Alden.


"Sama-sama cantik." Alden dengan sengaja mencolek hidung Ella dengan gemes.


Ella sedikit berdecak dengan ulah Alden. Alden yang melihat Ella mengerucutkan bibirnya merasa gemes.


Cuup


Tanpa sadar Alden mengecup bibir manis Ella. Ella sedikit terkejut, tubuhnya menegang mendapat ciuman tiba-tiba dari Alden.


Entah setan apa yang sedang merasuki Alden, secara perlahan wajahnya kembali mendekat ke wajah Ella, lalu menempelkan bibirnya ke bibir Ella, mencium bahkan mel**at bibir itu dengan sangat lembut. Ella hanya menutup matanya, ia bahkan tidak menolak ciuman Alden, justru ia menikmati, karena ciuman Alden yang sangat lembut.


Entah bagaimana ceritanya, mereka sudah berada di dalam kamar Ella dengan bibir yang tidak terlepas, Alden terus mel**at bibir Ella, bahkan lidahnya sudah bermain di dalam sana, mengabsen setiap gigi putih milik Ella. Tidak hanya itu, tangan Alden bahkan mengusap pelan punggung Ella yang masih terbalut baju. Sementara tangan Raya sudah mengalung indah di leher milik Alden.


"Eughh." Satu de**han lolos dari bibir Ella saat Alden melepaskan pagutan mereka.


Alden tersenyum senang, lalu menyerang bibir manis Ella kembali, sambil menuntun Raya menuju kasur, lalu menghempaskan wanita itu dengan pelan ke atas kasur tanpa menghentikan kegiatan mereka.


Alden lalu mengelus perut rata milik Ella, hingga tangan nakalnya naik ke atas, mengelus mengelus gunung kembar milik Ella dengan ciuman yang tidak terlepas.

__ADS_1


"Ahhh ...." Ella mend**ah akibat ulah Alden yang meremas gunung miliknya.


Tangan Alden lalu turun, berniat mengelus barang berharga milik Ella.


Ella seketika sadar dengan apa yang mereka lakukan. Ia lalu memegang tangan Alden agar memberhentikan ulah laki-laki itu.


"Kenapa?" tanya Alden dengan suara berat. Sepertinya napsu Alden sudah tidak terbendung lagi, sudah sangat ingin bermain-main di dalam sana.


"Kamu punya istri," lirih Ella.


Alden terdiam mendengarnya. Benar! Ia memiliki istri! Astaga, Alden benar-benar lupa jika di hidupnya sudah ada Rara. Tanpa mengucap sepatah kata pun Alden bangkit dan berjalan masuk ke dalam kamar mandi yang ada di rumah Ella untuk menenangkan adik kecilnya. Sementara Ella hanya menggeleng kepala, ini sudah benar-benar kelewatan! Ia bahkan terbuai dengan permainan Alden! Untungnya ia segera sadar saat Alden memegang berang berharga miliknya. Meskipun Ella ditugaskan untuk menghancurkan rumah tangga Alden, tapi Ella benar-benar tidak berniat untuk sejauh ini.


"Hampir saja," lirih Ella.


Hampir setengah jam Alden berada di kamar mandi, entah apa yang dilakukan oleh laki-laki itu. Ella hanya diam, duduk di pinggir kasur sambil menatap kosong ke depan, entah apa yang ada di pikiran wanita itu.


Ceklek


Alden keluar dengan wajah sedikit kaku saat melihat Ella.


"E - El, kayaknya aku harus pergi," ucap Alden sedikit terbata-bata.


"No, bisakah kamu menemani aku malam ini?" tanya Ella dengan wajah sendu.


Alden terdiam mendengarnya.


"A-aku hanya takut, aku ingin menghabiskan malam bersama kamu, kamu maukan nemanin aku?" cicit Ella.


Karena merasa tidak tega, Alden mengangguk. Ia juga merasa khawatir dengan kondisi kesehatan Ella.


"Untuk kejadian tadi, tolong lupakan! Aku hanya khilaf, aku tidak mencintai kamu lagi. Di hatiku hanya ada nama istriku," ucap Alden datar.


Raya tidak membalas, ia hanya tersenyum mendengarnya. Kemudian mereka tidur bersama dalam keadaan berpelukkan.


FLASH BACK OFF


"Sial!" gumam Alden.


Jika saja Ella tidak menyadarkan dirinya saat itu, mungkin pergulatan panas akan terjadi di dalam kamar tersebut.


Alden mendekatkan tubuhnya pada Rara, memeluk wanita itu dari belakang. Mengusap perut Rara yang sudah sangat membesar.


Alden tersenyum, saat merasakan tendangan dari bayi-bayi yang ada di dalam perut Rara. Kemudian ia memberikan kecupan di rambut Rara yang sangat wangi.


"Se br**gsek itukah aku?"


"Maafin daddy, Nak ...." gumam Alden.


Perasaan bersalah menelusup masuk ke dalam hatinya. Ia benar-benar merasa bersalah karena secara tanpa sadar sudah mengkhianati istrinya.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2