Istri Bar-Bar Milik Pak Dosen

Istri Bar-Bar Milik Pak Dosen
Jangan Diberitahukan!


__ADS_3

"Apa maksud kalian?" tanya Mike dengan sorot mata yang tajam.


"Maaf Tuan! Tapi di saat kami sudah berhasil mendapatkan gambar wajah Nona Ella, tiba-tiba datang segerombolan orang dan langsung menyerang kami, kemudian mengambil kamera tersebut," jawab salah satu dari orang kepercayaan Mike.


Mike memijit hidungnya, bingung dengan situasi yang ada. Apa yang sebenarnya terjadi? Siapa yang sudah ikut campur, dan tau jika dia selalu mengawasi Alden dan Rara? Apakah Bryan? Tidak mungkin! Meskipun laki-laki itu memang sedang mencari kebenaran yang ada, tapi ia tidak mungkin melukai anak buahnya, laki-laki itu pasti justru mendukung dan ikut kerja sama. Lalu siapa dalang di balik ini semua? Apakah ini ada sangkut pautnya dengan kedua anak Fernandez?


"Lalu ke mana Alden membawa wanita itu?" tanya Mike dengan napas memburu. Ia benar-benar merasa kecewa sekaligus marah dengan putranya, bagaimana mungkin Alden pergi bersama wanita lain, sementara istrinya justru menunggu di tengah hujan yang sangat deras, bahkan pingsan. Jika boleh jujur, Mike ingin sekali menghabisi putranya sendiri. Sekarang Mike akan membiarkan keputusan yang akan diambil menantunya, sekali pun itu berupa perceraian, Mike akan menerimanya. Menurut Mike, Alden memang pantas mendapat hukuman yang setimpal, di mana air mata tidak akan berarti apa-apa lagi nanti, bahkan meskipun laki-laki itu menangis darah! Alden harus merasakan PENYESALAN!


"Maaf Tuan, tapi ketika kami ingin mengejar Tuan Alden, mereka mencegah kami sehingga kami tidak tau keberadaan mereka sekarang."


"Lalu bagaimana kondisi menantuku?" tanya Mike pada lima orang yang bertugas menjaga Rara.


"Nona Diandra sedang dirawat di rumah sakit Pondok Indah bersama laki-laki itu Tuan." Mike sedikit merasa tenang mendengarnya. Saat mendapat informasi jika menantunya pingsan, Mike benar-benar khawatir, takut terjadi apa-apa, ia bahkan ingin menyusul Rara, tapi ia urungkan niatnya itu.


"Lalu apakah kalian sudah mendapat informasi tentang Ella dan kedua anak Fernandez?" tanya Mike. Dari semalam orang-orang kepercayaannya tidak bisa mendapat informasi tentang Ella, wanita itu seolah-olah dijaga dengan ketat, sehingga mereka tidak bisa mendapat informasi pribadi Raya, mereka hanya tau alamat wanita itu, selebihnya tidak. Bahkan beberapa kali mereka justru dihadang dan dihajar saat mengikuti Rara yang bepergian.


"Maaf Tuan, kami sudah berusaha sabaik mungkin, tapi tetap saja kami tidak bisa menemukan informasi pribadi tentang Nona Raya. Sepertinya orang yang ada di belakang wanita itu cukup kuat. Nona Raya seperti dijaga dengan ketat," jelas salah satu dari mereka.


"Apa kalian tidak becus hah?!" teriak Mike dengan suara mengerikan.


Semua yang ada di dalam ruangan tersebut hanya mampu menunduk, takut dengan aura yang dikeluarkan Mike. Mereka juga merasa tidak becus. Bertahun-tahun bekerja dengan Mike, tapi baru kali ini mereka benar-benar mengecewakan Mike.


"Segera dapatkan informasi tentang semua ini! Kerahkan semua anak buah kalian! Lumpuhkan mereka semua!" ucap Mike dengan suara dingin.


Mereka semua mengangguk, kemudian pergi dari ruangan tersebut, untuk melakukan tugas mereka.


********

__ADS_1


"Reza?" Rara sedikit terkejut melihat keberadaan temannya. Apakah Reza yang mengangkatnya? Itu tidak mungkin! Reza yang memiliki tubuh lembek tentu tidak mampu mengangkat tubuhnya.


"Gimana keadaan lo?" tanya Reza, berjalan mendekati Rara, lalu menyodorkan plastik berisi bubur untuknya.


"Apa lo yang bawa gue ke rumah sakit?" Rara mengabaikan pertanyaan Reza, ia justru bertanya balik.


"Yaiyalah! Waktu itu gue nggak sengaja ngeliat ada orang yang duduk di taman, padahal hujan lagi deras banget. Pas gue nyamperin, ternyata itu lo, dan tiba-tiba lo pingsan. Gue kaget banget, apalagi liat darah yang mengalir dari kening lo, mana kena air hujan lagi, lo bayangin aja gimana penampilan lo, mana muka lo pucat benget," ucap Reza yang sedikit berbohong. Sebenarnya ia bukannya tidak sengaja melihat Rara, tapi ia memang mengikuti wanita itu, atas perintah abang sepupunya.


Rara sedikit meringis membayangi bagaimana wajah dan penampilannya saat itu, tentunya dengan darah yang menutupi wajahnya. Sementara Reza menatap sendu Rara, merasa kasihan dengan masalah yang sedang dihadapi wanita itu. Reza tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika Rara mengetahui semuanya. Ia benar-benar tidak sanggup membayangkan betapa hancurnya wanita itu nanti.


FLASH BACK


"Sumpah Bang, gue ketemu dan dengar sendiri kalau ternyata mereka itu sahabatan. Gue yang nanya sendiri namanya, dan dia jawab Raya Giesella. Bahkan yang lebih parahnya, mereka bilang kalau mereka adalah sahabat rasa saudara." Reza bahkan mengangkat dua jarinya untuk meyakinkan abang sepupunya. Reza memang tau tentang Raya, karena ia pernah melihat foto abang sepupunya dengan Alden dan Raya. Bahkan Bryan sering menceritakan apa saja padanya.


"Nggak Za! Itu nggak mungkin! Lo nggak lagi ngibulin gue, kan?" Bryan masih kekeh tidak mempercayai ucapan Reza.


"A-a-apa?" Bryan berusaha mencerna dengan baik ucapan Reza. Menganggap seperti putri mereka sendiri? Jadi ....


"Terus langkah selanjutnya yang akan Abang lakukan apa?" tanya Reza.


"G-gue nggak tau Za. Tapi, sebaiknya jangan diberitahukan dulu pada Rara, ada beberapa yang masih harus gue selasain dulu," jawab Bryan.


'Gue harus cari tau tentang penyakit wanita itu dulu. Entah kenapa gue ngerasain jika Ella berbohong' batin Bryan.


FLASH BACK OFF


'Gue bahkan nggak mampu ngebayangin gimana hancurnya lo saat tau semuanya Ra, segini pun gue udah merasa prihatin' batin Reza menatap sendu Rara.

__ADS_1


"Oh iya, gue belum ngasih tau ke keluarga maupun laki lo. Gue ngga ada nomornya," ucap Reza.


"Nggak perlu Za! Lo nggak perlu beritahu apa pun pada suami gue. Jika dia benar-benar peduli, dia bakal nyari gue. Gue perlu nenangin diri gue dulu, memikirkan langkah apa yang bakal gue ambil setelah ini. Entah bertahan dengan perasaan yang hancur, atau justru pergi. Udah cukup gue bertahan, gue juga perempuan yang punya perasaan, gue udah muak dengan semuanya." Tanpa sadar, Rara justru curhat pada Reza.


"Lo yang sabar, gue tau lo wanita yang kuat. Tunjukkan pada dunia kalau Diandra itu nggak lemah! Tunjukkan pada suami lo, kalo lo bukan wanita lemah dan wanita yang akan mudah luluh begitu saja. Jangan jadi wanita cengeng, karena sebelum lo menikah, gue nggak pernah ngeliat air mata lo. Orang tua maupun Abang lo nggak pernah nyakitin lo, jadi sedikit lancang jika air mata lo menetes hanya karena cinta! Gue tau jika cinta memang sangat berpengaruh pada kehidupan seseorang, tapi jangan sampai merubah lo yang kuat menjadi lemah." Tangan Reza terangkat mengusap pucuk kepala Rara dengan lembut.


"Makasih ya Za. Makasih karena lo udah bantuin gue, makasih karena lo udah jaga gue di sini," ucap Rara tulus.


"Gue boleh pinjam handphone lo?" tanya Rara. Ia berniat memberitahukan mertuanya untuk tidak memberitahu pada Alden di mana lokasinya saat ini.


Reza lalu memberikan hendphonenya. Rara lalu mengirim pesan kepada Mike, untungnya Rara masih ingat nomor Mike.


[Pah, Rara tau kalau Papah pasti tau di mana lokasi Rara saat ini. Rara mohon sama Papah untuk nggak ngasih tau sama Mas Alden. Rara perlu sendiri dulu Pah.]


"Yaudah lo makan gih! Perlu gue suapin?" tanya Reza lembut.


"Nggak perlu Za, gue bisa sendiri kok," jawab Rara, lalu segera memakan bubur yang sudah dibelikan Reza untuknya.


'Jangan harap kata memaafkan itu bakal keluar dari mulutku Mas! Sudah cukup! Aku sudah benar-benar muak dengan sikap kamu yang selalu berbohong.'


.


.


.


.

__ADS_1


Maaf banget kalo alurnya muter-muter kayak roller coaster ya >< .... ya mau gimana lagi, emang gitu alurnya wkwk ... bahkan cerita tentang siapa Camella yang sebenarnya (masa lalu) aja belum...


__ADS_2