Istri Bar-Bar Milik Pak Dosen

Istri Bar-Bar Milik Pak Dosen
Hamil?


__ADS_3

..."Hamil itu adalah sebuah anugerah yang MAHAL harganya dari Tuhan"...


...Diandra Latasha Jonshon...


...-------------------...


"Bapak selingkuh sama Rara?" Satu pertanyaan konyol keluar dari mulut Reza, membuat Alden maupun Rissa langsung menatap horor Reza.


Reza yang ditatap seperti itu hanya bisa menelan salivanya secara kasar, ia merasa seperti diintrogasi.


"Siapa yang bawa istri saya ke sini?" tanya Alden dingin.


"Reza," cicit Rissa.


"Kenapa kamu membiarkan dia mengangkat istri saya?" tanya Alden dengan sedikit marah.


"Tadi sih mau saya seret pak," celetuk Reza.


Alden yang mendengarnya seketika menatap tajam Reza, berani-beraninya ia menyeret istri kesayangannya.


"Buset dah, santai pak. Lagian saya ini bukan peri yang cuman ngomong trilili trilala pow, langsung melayang si Rara, lalu sampai di UKS. Saya ini manusia pak, emang saya sangat menjijikkan ya pak sampai gak boleh megang istri bapak," ucap Reza yang entah darimana dapat keberanian untuk menceramahi dosennya yang terkenal sangat killer itu.


"Eh tunggu ... JADI RARA ISTRI BAPAK!" pekik Reza yang baru menyadari ada yang aneh.


"Za, lo bisa gak sih teriaknya pelan-pelan, gue lagi pingsan bego," ucap Rara membuka matanya.


"Eh maaf Ra, yaudah lanjutin aja acara pingsannya."


Rara hanya mengangguk saja, lalu kembali menutup matanya dan lanjut pingsan kembali.


"Ckk... gara-gara kamu istri saya jadi pingsan lagi," ketus Alden.


"Sayang bangun dong, jangan buat Mas khawatir," ucap Alden sambil menggenggam lembut tangan istrinya.


"Rara lagi pingsan pak," ucap Rara tanpa membuka matanya.


"Yaudah kalo udah bangun bilang sama Mas ya, kamu tenang aja, Mas udah panggil dokter supaya datang kesini," ucap Alden.


Sedangkan Reza terus mengelus dagunya seolah sedang berpikir.


"Lo ngapain ngelus dagu? Lo gak punya jenggot bego," ketus Rissa sambil tertawa karna merasa terhibur dengan sikap temannya itu.


"Gue lagi mikir Sa," ucap Reza.


"Ternyata lo bisa mikir juga," ejek Rissa.


"Lo ngerasa aneh gak sih Sa?" Reza justru bertanya.


"Apanya yang aneh?" tanya Rissa heran.


"Kok gue merasa ada yang aneh dengan situasi ini," ucap Reza yang terus berpikir keras.


"Iya sih, gue juga ngerasa ada yang aneh, tapi gue juga bingung," ucap Rissa membenarkan, lalu mereka berdua mengelus dagu seolah-olah berpikir.


Beberapa detik kemudian, mereka saling pandang, seolah mengerti arti pandangan itu, mereka lalu menatap Rara.

__ADS_1


"LO UDAH BANGUN RA!" teriak mereka secara bersamaan.


Gubrak


Alden langsung terlonjak karna terkejut mendengar teriakkan mereka yang sangat nyaring.


Rissa dan Reza langsung membekap mulut mereka menahan tawa, karna Alden terjatuh dengan posisi yang sangat tidak aesthetic.


"Astagfhirullah, Mas ngapain tidur dilantai?" tanya Rara polos.


Alden tak menghiraukannya, ia justru menatap tajam Reza dan Rissa karna sudah membuatnya malu, sedangkan mereka berdua langsung menunduk karna takut dengan tatapan sang dosen.


Tok...tok...


Sepertinya Dewi Fortuna sedang berpihak pada mereka, sehingga diberikanlah pertolongan berupa sang dokter yang tiba-tiba datang.


"Permisi," ucapnya lembut.


"Masuk!" perintah Alden dengan suara dingin.


"Aduh!" pekik Reza spontan sambil memegang dadanya.


"Ada apa?" tanya sang dokter dengan suara yang sedikit khawatir.


"Kok jantung saya berdetak lebih kencang pas buk Dokter masuk?" tanya Reza.


"Jantungan mungkin," celetuk Rara.


"Ckk... sembarangan lo Ra. Apakah ini yang dinamakan cinta pada pandangan pertama?" ucap Reza sambil senyum-senyum tidak jelas.


"Periksa istri saya segera!" perintah Alden dengan suara dingin.


Dokter tersebut hanya tersenyum tipis, ia lalu mulai memeriksa Rara sambil sesekali mengajukan pertanyaan seperti apa yang di alami Rara.


Setelah selesai melakukan pemeriksaan, sang Dokter langsung mengembangkan senyumnya.


"Wah gak benar nih dokter, masa orang sakit dia malah senyum-senyum gak jelas. Ini sih yang dinamakan bahagia dibawah penderitaan orang lain," celetuk Reza sambil menggeleng-gelengkan kepala, sungguh Reza sangat tidak memiliki rasa takut sedikitpun saat mengetahui jika pak Alden adalah suami temannya.


"Ckk... maksud buk Dokter apa senyum-senyum kayak gitu? Masa orang sakit situ malah senyum-senyum gak jelas," ucap Rara yang terprovokasi dengan ucapan Reza.


"Wah gak beres nih Dokter, jangan-jangan dia kesurupan," ucap Rissa yang ikut terprovokasi.


"Istri saya kenapa?" desak Alden yang juga sedikit terprovokasi dengan ucapan mereka.


"Maaf semuanya ... saya tidak bermaksud untuk bahagia disaat buk Diandra sedang sakit, hanya saja saya sepertinya memiliki berita bahagia?" ucap sang Dokter menjelaskan.


"Yakali orang pengen meninggal malah dibilang berita bahagia," celetuk Reza lagi.


"Kamu bisa diam tidak!" ucap Alden penuh penekanan sehingga membuat Reza langsung kicep.


"Berita bahagia apa? Anda kalau ngomong jangan setengah-setengah!" ketus Alden yang ikutan kesal.


"Dari hasil pemeriksaan saya, sepertinya buk Diandra sedang hamil," jelas sang Dokter sambil tersenyum tipis.


Semua yang ada diruangan sontak melotot mendengar ucapan sang Dokter, terlebih lagi Reza, matanya bahkan hampir keluar saking terkejut mendengarnya.

__ADS_1


"Yasudah kalau gitu saya permisi, untuk kejelasannya, kalian bisa pergi kedokter kandungan," ucapnya sambil tersenyum tipis.


"Ja-jadi ini alasan lo menikah sama pak Alden Ra?" tanya Reza setelah sang Dokter sudah pergi.


"Maksud lo?" tanya Rara yang masih belum mengerti maksud temannya itu.


"Jadi lo cepat-cepat nikah karna kebelet pengen en*-en*?"


"En*-en* apaan?" tanya Rara polos.


Sedangkan Alden langsung menatap tajam mahasiswanya itu.


"Hehe bukan apa-apa Ra," ucap Reza sambil cengengesan setelah melihat tatapan tajam yang diberikan sang dosen.


"Lo sejak kapan nikah?" tanya Reza yang masih penasaran.


"3 bulan yang lalu, mungkin."


"Lo kenapa gak ngundang gue bego," kesal Reza.


Alden kembali melayangkan tatapan tajam saat mendengar Reza yang mengatai istrinya, sedangkan Reza hanya berpura-pura tidak melihat.


"Ogah banget gue, yang ada kalau lo datang ke acara pernikahan gue, habis rendangnya lo bungkus," ucap Rara asal.


"Cih ... pelit amat lo," ketus Reza yang kesal karna apa yang diucapkan Rara sangat benar sekali.


"Kamu tidak ada niat untuk pergi?" tanya Alden dengan suara dingin.


"Ckk... sebenarnya saya dari tadi nungguin bapak ngasih upah," celetuk Reza.


"Upah?" beo Alden.


"Yaiyalah, orang saya udah capek-capek angkat bini bapak sampai-sampai tulang saya mau patah, masa bapak gak ada niatan ngasih upah, saya perlu ke tukang urut pak," cerocos Reza.


Karna merasa sudah sangat kesal dengan mahasiswanya itu, Alden lalu mengeluarkan 5 lembar uang berwarna merah, lalu memberikannya pada Reza.


Reza segera mengambil uang tersebut tanpa tahu malu.


"Kalo bisa sering-sering ya Ra pingsannya, lumayan sekali angkat dapet 500 ribu," ucap Reza sambil mengipas wajahnya menggunakan uang tersebut, lalu segera keluar dari ruangan itu.


"Sialan lo Za!"


.


.


.


.


Author.


Yeayy, setelah sekian abad akhirnya Rara hamil juga


Kira-kira anak siapa ya?? Ya anak Alden lah!!!

__ADS_1


__ADS_2