Istri Bar-Bar Milik Pak Dosen

Istri Bar-Bar Milik Pak Dosen
Ayah Rina Yang Sebenarnya


__ADS_3

Hari-hari telah berlalu, kini kondisi seorang gadis kecil, yaitu Rina mulai membaik. Sang ibu tentu merasa sangat senang, bahkan ia menghabiskan harinya hanya untuk bersama putrinya sesuai permintaan Rina. Ia bahkan mengabaikan pekerjaannya. Untungnya Kenzo memberi ia waktu beberapa hari, setelah itu lanjut melakukan pekerjaan yang sebentar lagi akan selesai. Entah apa maksud laki-laki itu, wanita itu tak ambil pusing.


"Yaudah Ina sama Bunda boleh keluar kata Buk Dokter. Jadi, kita akan ketemu sama Ayah!" ucap seorang wanita sambil mengelus lembut pucuk kepala putrinya.


"Asik! Lina udah nggak sabal pengen ketemu sama Ayah!" Rina bersorak bahagia mendengar ucapan bundanya.


Wanita itu hanya menatap sendu putrinya, merasa kasihan dengan putrinya yang sudah tidak bisa merasakan kasih sayang seorang ayah lagi. Tapi mau bagaimana lagi? Dirinya tidak bisa berbuat apa-apa.


Rina lalu duduk di atas kursi roda dengan di dorong oleh bundanya. Kemudian mereka masuk ke dalam taksi online yang sudah wanita itu pesan untuk mengantarkan mereka ke suatu tempat.


Sepanjang perjalanan Rina terus mengoceh tentang banyak hal, ia bahkan selalu menunjuk apa saja yang ia lihat. Mengingat Rina sudah cukup lama berada di rumah sakit, ia tentu jarang melihat apa saja yang ada di luaran.


Tak berselang lama, mobil sampai di sebuah pemakaman "Cempaka". Ibu dan anak itu segera turun dan berjalan menuju salah satu makam yang ada di sana. Sebelum berjalan, wanita itu sudah meminta supir untuk menunggu mereka sebentar.


"Ayah, Ina kangen!" teriak Rina saat melihat sebuah makam milik ayahnya.


Sang ibu langsung membantu Rina untuk turun dari kursi roda, membiarkan putrinya memeluk gundukan tanah yang sedikit basah akibat terkena hujan. Wanita itu merasa sedikit bersalah karena masih belum memberikan tempat nyaman pada suaminya, ia belum sempat mengeramik kuburan sang suami.


"Ayah, Ina kangen ... Ayah kenapa pelginya cepat banget." Rina terus menangis terisak memeluk kuburan ayahnya. Merasa tidak rela dengan kepergian ayahnya yang terlalu cepat.


Wanita itu hanya menatap sendu putrinya, sangat terlihat jelas di mata putrinya jika ia merasa sangat terpukul. Dirinya juga sama merasa terpukul dengan kepergian suaminya yang terlalu cepat.


'Mas, lihatlah, putri kita sekarang sudah besar. Dia merindukan kamu, kenapa kamu terlalu cepat perginya?'


Ketika wanita itu kembali teringat dengan kejadian beberapa tahun lalu.


FLASH BACK


"Diminum Kak Haikal."


"Makasih ya Ray," balas laki-laki yang baru saja dipanggil Haikal.


"Makasih banyak karena udah nganterin Raya Kak." Raya lalu duduk di samping Haikal. Ia merasa bersyukur karena Haikal yang sudah mengantarnya pulang di tengah hujan yang sangat deras.


"Santai aja Ray. Kakak kan udah nganggep kamu seperti adik sendiri." Tangan Haikal lalu terangkat mengacak rambut Raya.


"Ish jangan diacakin Kak! Kan jadinya kusut," kesal Raya sambil mengerucuti bibirnya.


Entah apa yang mendorong Haikal, laki-laki itu sontak saja mencium bibir Raya yang menurutnya menggemaskan. Merasa tidak ada penolakkan dari Raya, Haikal langsung kembali menyerang bibir manis itu dengan sedikit lu***an.


Raya memang terkejut dengan apa yang barusan dilakukan Haikal, tapi saat Haikal kembali menciumnya, entah kenapa Raya tidak menolak, tubuhnya justru bereaksi lain. Ia tau apa yang dilakukan mereka salah! Ia milik Alden, kekasih Alden! Tapi ia tidak bisa berbohong jika ciuman Haikal benar-benar memabukkan, membuatnya tanpa sadar membalas ciuman itu.


Ternyata benar kata orang-orang, jangan suka berduan! Karena yang ketiga pasti setan!


Siapa sangka mereka justru berjalan menuju kamar Raya dengan posisi bibir masih bertautan dan tangan wanita itu yang mengalung indah di leher Haikal. Mereka benar-benar sudah kehilangan akal sehat.


Entah bagaimana ceritanya, kini tubuh mereka berdua sudah benar-benar polos, tanpa sehelai benang sedikit pun. Dengan perlahan, Haikal membuka kaki Raya lebar-lebar. Raya hanya bisa pasrah, tak ada niatan untuk menghentikan permainan panas tersebut! Wanita itu bahkan lupa dengan kekasihnya akibat sentuhan lembut yang diberikan oleh Haikal.


Haikal mengarahkan adik kecilnya yang sudah berdiri tegak, siap memporak-porandakan lubang kenikmatan milik Raya.

__ADS_1


"Eugh ..." de**h Raya saat Haikal menggesek-gesekkan adik kecilnya pada lubang milik Raya, yang sudah sangat basah.


Dengan sekali hentakan, Haikal sudah masuk ke dalam lubang itu. Bergerak pelan, pinggulnya bergerak maju mundur.


Raya yang awalnya merasa sangat sakit, karena seperti ada yang robek pada daerah kewani***nnya perlahan mulai merasa nikmat akibat ulah Haikal. Ia hanya mampu meremas kuat sprei sambil terus meracau tidak jelas di bawah kungkungan Haikal.


"K-kak, aku ingin keluar," ucap Raya di sela-sela mengoyangkan pinggulnya.


"A-aku juga!"


Laki-laki itu lalu mempercepat ritme gerakannya, hingga akhirnya ....


"A-ahh!" d**ah keduanya saat mencapai kl***ks.


Haikal menyemburkan cairan putih nan kental itu di dalam rahim Raya. Haikal pun mencabut miliknya, dan cairan putih itu merembes keluar dari lubang milik Raya.


Seketika mereka berdua sadar dengan apa yang baru saja mereka lakukan. Tidak menyangka, niat hati yang awalnya hanya berniat mengantar Raya pulang, malah berujung di atas ranjang.


"M-maaf," sesal Haikal.


Raya hanya diam, tidak tahu harus memberi respon apa. Ini tidak sepenuhnya salah Haikal! Ia juga menikmati pergulatan panas itu. Tapi ia merasa bersalah karena sudah mengkhianati kekasihnya, Alden.


Setelah kejadian itu, mereka sepakat melupakannya. Melupakan kejadian yang nyatanya tidak akan pernah terlupakan oleh mereka berdua. Tapi apakah kata maaf bisa mengembalikan semuanya? Tentu tidak, kan?


********


Satu bulan kemudian.


Raya dan Haikal memang satu kelas, yang sebentar lagi mereka akan lulus karena ujian sudah dilaksanakan.


"A-apa?" Haikal benar-benar dibuat terkejut mendengar pengakuan Raya.


Raya hanya menatap sendu Haikal, takut jika laki-laki itu tidak mau bertanggung jawab dengan kehamilannya.


"Ta-tapi bagaimana dengan kekasihmu?" Haikal memang tau jika Raya memiliki kekasih.


"Aku akan meninggalkannya!" jawab Raya mantap. Tidak mungkin ia terus bersama Alden dengan keadaannya yang sedang mengandung. Ia lebih memilih bayi yang ada di dalam kandungannya dibandingkan Alden, karena bagaimana pun anaknya harus memiliki seorang ayah.


"Apa kau yakin?" tanya Haikal memastikan. Sebenarnya Haikal sudah memiliki perasaan pada Raya sejak lama. Tapi ia tidak ingin egois, ia tau jika Raya sudah memiliki kekasih.


Raya mengangguk mantap. Ia akan meninggalkan Alden!


Akhirnya mereka menikah setelah lulus SMA, dengan acara yang sangat sederhana, yaitu hanya ada pak Penghulu dan para saksi saja, tanpa adanya resepsi pernikahan. Mengingat Haikal bukanlah anak orang kaya. Haikal adalah anak yatim piatu, sama seperti Raya. Laki-laki itu bahkan harus bekerja di sebuah cafe untuk memenuhi kebutuhannya.


*******


Beberapa bulan kemudian Raya melahirkan seorang anak perempuan yang menggemaskan. Raya dan Haikal sepakat memberi nama Rina Salsabilla.


Hubungan Raya dan Haikal benar-benar romantis, bahkan Raya sudah jatuh ke dalam pelukan Haikal, dan tanpa sadar, nama Alden sudah terhapus dari dalam hatinya.

__ADS_1


Kini Rina sudah tumbuh besar, gadis itu sudah berumur satu tahun, bahkan ia sangat aktif, membuat Raya dan Haikal merasa sangat bahagai.


"Ayah, Bunda, kita jalan-jalan yuk!" Rina mengajak dengan wajah yang berseri-seri.


Melihat wajah berseri Rina. Raya dan Haikal tidak mampu menolak, mereka tersenyum dan mengiyakan permintaan putri tersayang mereka. Mereka lalu bersiap-siap untuk berangkat ke salah satu taman yang tidak jauh dari rumah mereka, dan memilih untuk menemani putri mereka bermain di sana.


Rina berniat bermain bola dengan kedua orang tuanya, sepanjang perjalanan ia memantulkan dan sesekali melempar bola tersebut ke udara.


"Yah, bolanya," keluh Rina saat bola tersebut terlepas dari genggamannya, dan berada di tengah jalan raya.


Raya dan Haikal yang saat itu sedang berbicara, tidak terlalu memperhatikan putri mereka, hingga mereka sadar, Rina tidak ada di depan mereka.


"Rina!" panggil Haikal dengan suara yang sedikit nyaring.


"Iya, Ayah!" balas Rina sambil melambai-lambaikan tangannya.


Haikal sedikit terkejut melihat sang putri yang berada di jalan raya. Ketika ia hendak mendekati sang putri, Haikal dibuat semakin terkejut saat melihat sebuah truck yang melaju dengan sangat kencang. Tanpa basa-basi Haikal langsung berlari dan mendorong kuat putrinya, dan ....


Brukk


Tubuh Haikal terpental sangat jauh, dan membuat ia meninggal di tempat.


******


Satu tahun setelah kejadian meninggalnya Haikal. Rina dinyatakan positif terkena penyekit Leukimia. Hal itu tentu membuat Raya semakin terpuruk, mengingat mereka tidak memiliki uang yang cukup untuk biaya pengobatan.


FLASH BACK OFF


Mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu, membuat air mata Raya merembes keluar, tidak menyangka jika suaminya akan secepat itu meninggalkan dia dan putrinya.


"Ina jahat banget ya Yah? Ina jahat kalena udah buat Ayah meninggal." Rina terus menangis dan menyalahkan dirinya, merasa jika kepergian sang ayah akibat ulahnya.


"Ina, ini bukan salah kamu kok sayang. Ina harus kuat! Jangan nangis! Entar Ayah sedih kalo ngeliat Ina nangis." Raya terus menguatkan putrinya, ia sangat sedih melihat putrinya yang cukup terguncang mentalnya karena merasa bersalah atas kematian ayahnya. Apalagi gadis itu melihat dengan jelas bagaimana ayahnya terpental dengan sangat jauh.


"Enggak Bunda, Ina jahat sama Ayah. Ina pengen ikut Ayah aja. Ayah bawa Lina!" Rina meracau tidak jelas, saat ingatan itu kembali lagi.


"Sayang ...."Raya memeluk putrinya, tidak tau harus berbuat apa lagi, ini yang ia takutkan jika membawa Rina ke pemakaman Haikal.


Mas, putri kita merindukan kamu


.


.


.


.


Author

__ADS_1


Untuk yang bilang part semalam nggak nyambung, sambungannya di part 82/83 yašŸ™


__ADS_2