
Cuupp
Dengan gerakan cepat, Alden langsung mendaratkan ciuman pada bibir cerry Rara.
Rara hanya memejamkan matanya, saat bibirnya dilum*t oleh Alden. Rara sudah terbiasa dengan suaminya yang sangat mesum itu. Bahkan, Alden sering menyet**uhi istrinya tanpa pandang tempat.
Entah itu di dapur, di ruang tamu, di kamar, atau pun di kamar mandi, yang pastinya jika tidak ada bik Asih. Awalnya Rara tidak terbiasa, tapi lama kelamaan wanita itu mulai terbiasa mengimbangi sifat mesum suamnya.
Seperti saat ini, Alden dengan beraninya mencium dirinya di ruang tamu, untungnya bik Asih sedang ijin cuti selama seminggu karena kondisi anaknya yang sedang sakit. Tangan Alden mulai merayap di bukit kembar Rara, tapi buru-buru ditahan Rara.
"Kenapa?" tanya Alden dengan deru napas yang sudah memburu.
"Jangan di sini, di kamar aja ya ...." Rara memelas berharap suaminya tidak mengajaknya bermain di ruang tamu ini.
Alden tersenyum, ia juga tidak ingin menyetubuhi istrinya di ruang tamu karena menurutnya kamar lebih bagus dan leluasa.
Alden lalu menarik tengkuk Rara, lalu mendaratkan kecupan lembut di kening istrinya itu. Rara yang di cium hanya diam saja, menikmati ciuman suaminya.
Cup
Cup
Cup
Alden menghujani wajah Rara dengan ciuman. Gelak tawa terdengar dari keluar mulut Rara, dan meminta suaminya untuk berhenti menciumnya.
******
Alden menyandarkan kepalanya. Tubuhnya ia tutupi dengan selimut sampai ke pinggang.
Sementara istrinya Rara sudah terlelap, kelelahan setelah dibuat lelah oleh Alden. Sedari tadi Alden terus membuat Rara mend**ah dan mengerang kenikmatan di bawah kungkungan tubuhnya, hingga akhirnya wanita itu terkulai lemas dan tertidur.
Tiba-tiba Alden teringat dengan wanita yang tidak sengaja ia lihat di lampu merah. Wanita yang awalnya sangat ia rindukan, wanita yang selalu ia tunggu kembali kedatangannya. Tapi itu dulu! Sebelum perasaan cinta pada Rara muncul.
Ella! Ya, Alden melihat wanita itu yang sedang duduk manis di kursi depan sebuah toko. Alden benar-benar binggung dengan dirinya sendiri. Di satu sisi, ia tak mau kehilangan istrinya, ia sudah mencintai wanita itu, di tambah sebentar lagi buah hatinya akan lahir. Tapi di lain sisi, hatinya goyah setelah melihat Ella, apalagi tatapan wanita itu ketika berada di lampu merah benar-benar tatapan yang Alden rindukan. Entah sudah tersingkir atau tidak nama Ella di hatinya, Alden sendiri tidak tahu. Tapi Alden bersumpah tidak akan kembali pada masa lalunya! Ia akan fokus pada masa depannya bersama istri yang sebentar lagi akan memberikannya buah hati yang pasti sangat menggemaskan.
"Sial!" Tanpa sadar Alden mengumpat sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
Rara yang sebenarnya belum benar-benar tertidur tentu mendengar umpatan suaminya. Rara lalu membuka mata indahnya dan menatap suaminya.
"Mas belum tidur?" tanya Rara sambil beranjak duduk, lalu menutupi tubuhnya dengan selimut.
__ADS_1
Alden tersenyum saat melihat rambut istrinya yang berantakkan, di tambah peluh keringat yang masih sedikit menempel, belum lagi tanda merah yang ia tinggalkan di tubuh putih istrinya. Hal itu tentu terlihat menggoda.
Cup
Alden kembali mencium badan Rara, lalu menerjang wajah serta tubuh Rara sehingga membuat Rara terkejut.
"Ihh Mas ... udah!" keluh Rara dengan napas yang terengah-engah.
"Kita main sepuluh ronde lagi, ya?" rengek Alden dengan wajah memelas.
Rara yang mendengarnya sontak melotot dengan apa yang baru saja di ucapkan suaminya. Bagaimana mungkin ia bermain sebanyak sepuluh ronde, sedangkan ia harus mencapai kli**ks sebanyak empat kali, setelah itu baru suaminya mencapai puncak.
Bisa di bayangkan jika ingin membuat Alden mencapai kli**ks sebanyak sepuluh kali? Ah ... tidak! Rara tidak akan sanggup! Yang ada ia akan meninggal mungkin.
"Ngak!" Dengan cepat Rara menolak.
"Dua puluh?"
"Gila kamu Mas! Kamu mau bunuh aku?" ketus Rara.
"Enggak kok, aku malah pengen buat kamu merasakan kenikmatan bersama-sama," balas dengan suara rendah seperti berbisik. Hal itu tentu membuat Rara merinding.
Tanpa menunggu persetujuan istrinya, tangan nakalnya mulai mendaki gunung dan bermain-main di sana, hingga membuat Rara kembali mend**ah karena merasa nikmat.
Suara de**han kenikmatan terus terdengar jelas di kamar milik mereka, peluh keringat sudah membanjiri tubuh mereka. Bahkan pendingin ruangan sepertinya tidak berfungsi pada mereka.
"M - Mas ... " keluh Rara saat merasa akan mencapai kli**ks.
"Keluarin saja, sayang!" ucap Alden sambil terus menambah ritme permainan.
"A - ahhhh." Tubuh Rara menggelinjang hebat setelah pelepasan. Napas wanita itu tersendat-sendat merasakan nikmat yang luar biasa.
Tak berselang lama, Alden juga mencapai puncak. Alden terkulai lemas di samping istrinya. Peluh membanjiri tubuh mereka berdua. Alden lalu membawa istrinya yang sudah tak berdaya ke dalam pelukannya.
Alden memeluk tubuh mungil istrinya itu, mencium aroma tubuh milik istrinya dan sesekali mendaratkan kecupan di tubuhnya. Alden merasa puas pada dirinya kerena bisa membuat istrinya mend**ah hebat di bawah kungkungannya.
Abimanyu, Elmira, Mike dan Elena ikut bahagia dengan keharmonisan keluarga anak mereka, mereka berharap hubungan anak mereka selalu langgeng.
"Jika pun kamu kembali, aku tidak akan kembali El!" lirih Alden saat menyadari istrinya sudah tertidur.
Alden mengecup kening Rara dengan penuh kasih sayang, setelah itu ikut terlelap dengan posisi tubuh yang masih telanjang, dan sambil berpelukan.
__ADS_1
Tetapi sayangnya, Rara masih bisa mendengar suara lirihan suaminya, ia sedikit heran, bertanya-tanya dalam hati siapa itu El? Tapi karena kelelahan dan rasa kantuk yang menyerang, Rara melupakannya dan langsung terlelap.
******
"Jadi gimana?" tanya Kenzo sambil menatap wanita di depannya.
Raya menghembuskan napasnya, merasa apa yang ia lakukan sangat buruk jika merebut pria yang sudah beristri.
"Seperti keinginanmu, aku duduk di kursi depan toko di dekat lampu merah. Aku sudah melihat dia dengan istrinya di dalam mobil, di lampu merah." Raya menjelaskan.
"Dan kau melihat istrinya?" Kenzo sangat penasaran apakah Raya sudah melihat sosok wanita itu atau tidak.
Raya menggeleng. "Tidak, dia menggunakan masker sehingga aku tidak melihat wajahnya. Tapi entah kenapa, aku sangat familiar dengan dia, aku merasa dia kayak seseorang yang aku kenal." Raya kembali mengingat wajah istrinya Nono! Ya, Nono adalah mantan Raya.
"Masa, sih?" tanya Kenzo tak percaya, lebih tepatnya pura-pura tidak percaya.
"Iya aku sepertinya mengenalnya, tapi aku lupa." Raya hanya mengangkat bahunya acuh.
"Bagaimana kesepakatan kita?" tanya Raya.
"Kamu tenang saja, aku sudah transfer uang satu triliun ke rekeningmu."
"Kenapa banyak sekali?" Raya tentu dibuat terkejut dengan nominal yang diberikan oleh Kenzo.
"Tidak apa-apa, aku sedang baik." Kenzo sama sekali tidak keberatan dengan jumlah uang yang ia berikan, menurutnya uang itu tidak seberapa jika Raya benar-benar mau menjalankan tugasnya setelah tau siapa istri Alden sebenarnya.
"Terima kasih," ucap Raya tulus. Entah ia harus berterima kasih atau tidak pada laki-laki di depannya, tetapi ia benar-benar memerlukan uang itu, ditambah keadaan yang harus membuat ia segera mendapatkan uang dengan jumlah yang besar.
"Hmm ... pergilah! Urus segera pengobatannya sebelum terlambat," ucap Kenzo.
Raya mengangguk, kemudian pergi.
"Bukankah ini menyenangkan? Semuanya akan terkejut setelah mengetahui kebenarannya." Kenzo terkekeh, membayangkan seperti apa pertunjukkan yang sebentar lagi akan tayang.
.
.
.
.
__ADS_1
Author
Ihh Kenzo kayak Saiko yaa, kejam abiss ><