Istri Bar-Bar Milik Pak Dosen

Istri Bar-Bar Milik Pak Dosen
Kesepakatan Misterius


__ADS_3

"D - dia." Wanita itu benar-benar terkejut saat melihat gambar seorang laki-laki yang dulu pernah mengisi hatinya.


"Kenapa? Apa kau mengenalnya?" tanya Kenzo sambil menyembunyikan senyumnya.


"Katakan maksud kalian yang sebenarnya? Aku tau kalian ada maksud lain," ucap wanita itu dengan suara datar.


"Hehe Anda sepertinya sangat pintar Nona Raya Giesella." Kenzo terkekeh mendengar ucapan wanita itu yang terdengar sangat datar, ia bahkan menekankan kata Raya Giesella.


"D - darimana kalian tau namaku?" Raya cukup terkejut ketika orang di depannya mengetahui namanya.


"Saya rasa itu tidak penting Nona. Di sini saya ingin mengajak Anda bekerja sama, bagaimana?" Kenzo mengatakannya sambil tersenyum. Sementara Camella hanya diam saja, merasa muak dengan sikap sok manis Kenzo.


"Bekerja sama?" beo Raya yang tidak paham maksud laki-laki di depannya.


"Iya, bekerja sama. Saya hanya meminta Anda untuk mendapatkan kembali pria itu, buat dia jatuh ke dalam pelukan Anda atau bahkan Anda bisa hidup bahagia bersama dia. Bagaimana? Bukankah itu penawaran yang menarik?" tanya Kenzo sambil mengangkat sudut bibirnya.


"A - aku masih belum mengerti maksud kalian?" Raya benar-benar masih bingung dengan penawaran yang dimaksud laki-laki di depannya itu.


"Pria yang sangat kau cintai itu sudah menikah, dan istrinya sedang mengandung." Kenzo hanya menjawab secara singkat, lalu melihat reaksi wanita di depannya yang terlihat sangat terkejut.


"A - apa?"


Raya yang mendengarnya seketika membeku, ia benar-benar terkejut mendengarnya. Jadi, laki-laki yang dulu sangat berharga di hidupnya, kini sudah menikah, dan yang lebih mengejutkannya, laki-laki itu sebentar lagi akan menjadi seorang ayah. Tapi seperkian detik kemudian, wajah Raya memerah, ia sangat marah dengan laki-laki yang ada di depannya.


"Jika kau tau dia sudah menikah, lalu apa maksudmu ingin aku merebut dia kembali?" tanya Raya menggebu-gebu.


"Tidak perlu marah-marah Nona." Kenzo hanya terkekeh melihat wanita yang ada di depannya yang terlihat sangat marah.


"Apa Anda tidak ingin bersama dia lagi? Bukankah Anda masih mencintai dia?" lanjut Kenzo sambil tersenyum sinis.


"Cih ... saya masih terlalu waras untuk merebut suami orang. Lagian, Anda salah Tuan jika mengira saya masih memiliki perasaan pada dia, saya bahkan sudah melupakan dia," jawab Raya datar.


"Jadi, apa kau menolak kesepakatan ini?" Kenzo memasang wajah seolah-olah sedih.


"Tentu Tuan ... dia berhak bahagia, saya memang tidak tahu alasan mengapa Anda sangat ingin saya merebut dia kembali, tapi saya tidak akan pernah mau, ingat itu!"


Raya masih terlalu waras untuk merebut suami orang. Dia memang merindukan pria itu, tapi untuk cinta, ia sangat yakin jika perasaan itu sudah mati sejak lama. Ia sedikit bingung, mengapa laki-laki di depannya itu meminta ia melakukan hal seperti itu. Sudah cukup ia membuat pria itu menderita, meninggalkan pria itu tanpa alasan yang jelas karena ia memang tidak bisa mengatakan yang sebenarnya. Tidak mungkin ia datang di saat pria itu justru sudah hidup bahagia bersama istrinya, dan di tambah sebentar lagi pria itu pasti menjadi seorang ayah.


"Benarkah kau akan menolaknya? Lalu ... bagaimana dengan ini?" Kenzo mengambil map yang sudah ia siapkan, lalu menyodorkannya ke hadapan Raya.


Meski sedikit bingung, Raya tetap mengambilnya, lalu membukanya. Ketika membuka map itu, Raya seketika tercengang melihatnya. Jantung Raya seolah berhenti berdetak saat melihat dan membaca setiap kata yang ada di map itu.

__ADS_1


"Bagaimana Nona Raya?" Senyum miring terbit di wajah tampan Kenzo ketika melihat reaksi wanita di depannya.


"Da - darimana k - kau mendapat informasi ini?" Raya tentu tidak bisa menutupi keterkejutannya.


"Eum ... darimana ya? Kau tidak perlu tau Nona," kekeh Kenzo.


"So ... bagaimana Nona? Apakah Anda masih ingin menolak? Ini adalah kesempatan emas untuk Anda. Jadi menurut saya jangan di sia-siakan." Seketika Kenzo memasang wajah serius.


"Kenapa kalian ingin sekali menghancurkan mereka? Memangnya apa salah dia dengan kalian?" lirih Raya. Sekarang Raya berada di pilihan yang sulit, antara menerima atau tidak kesepakatan itu.


"Anda tidak perlu tahu Nona. Cepat putuskan keputusan Anda! Kesempatan emas tidak datang dua kali. Pikirkan lah keuntungan-keuntungan yang Anda dapat jika Anda menerima kesepakatan ini. Bukankah selain keuntungan ini, Anda juga bisa bersama dia?" Kenzo mengubah raut wajahnya menjadi serius.


"Sudah ku katakan berapa kali. Aku sudah tidak mencintai dia lagi!" ucap Raya penuh penekanan.


"Ya ya terserah kau saja Nona. Lalu ... bagaimana? Kau mau bekerja sama dengan kami?"


"A - aku ... "


"Tidak usah terlalu banyak berpikir Nona. Anda tidak mempunyai waktu banyak, segera putuskan sekarang!" Kenzo terus mendesak Raya agar segera menyetujui kesepakatan itu.


"Boleh aku bertanya dulu?" cicit Raya.


"Ckk ... silahkan." Dengan malas Kenzo mengiyakan.


"Enam atau tujuh bulan maybe," ujar Kenzo yang masih belum yakin.


Dan aku akan menjadi orang yang paling jahat jika menyetuinya, tapi ....


"A - aku tidak bisa," cicit Raya dengan suara pelan.


"Baiklah seperti katamu, maka kau akan kehilangan kesampatan emas ini." Kenzo lalu berniat mengambil kembali map itu, tetapi sebelum itu terjadi, Raya lebih dahulu menahannya.


"Kenapa?" sinis Kenzo.


"Ckk ... cepat putuskan! Aku memberi kamu waktu lima menit lagi, setelah itu cepat katakan keputusanmu! Jika kamu masih diam, maka aku anggap kamu menolak kesempatan emas ini." Kenzo menjadi kesal sendiri saat melihat wanita di depannya hanya diam saja.


Kenzo lalu menunggu lima menit lagi. Sementara Raya, ia bingung, ia bimbang keputusan apa yang harus ia ambil. Di satu sisi ia tidak mau menghancurkan rumah tangga orang lain, ia tidak ingin menghancurkan hati istri mantan kekasihnya itu, ia juga perempuan, ia dapat merasakaan sakit yang dirasakan wanita itu jika kekasihnya berkhianat. Tapi di lain sisi, ia tidak bisa menolak kesepakatan yang ditawarkan oleh laki-laki di depannya ini. Entah darimana mereka mendapat informasi tentangnya.


Lima menit telah berlalu, tetapi Raya masih larut dengan pikirannya, ia masih menimbang keputusan yang harus ia ambil. Sementara Kenzo, ia tentu sangat kesal dengan wanita di depannya ini, apakah wanita itu benar-benar tidak ingin bekerja sama dengannya? Padahal ia sudah menawarkan keuntungan yang banyak.


"Ckk ... waktu Anda sudah habis Nona. Saya anggap Anda menolak kerja sama ini." Kenzo lalu mengambil map itu kembali, tetapi sebelum itu terjadi, Raya langsung merebutnya.

__ADS_1


"Sabarlah ... apa kau tidak bisa bersabar sedikit saja?"


"Ckk ... saya sudah menghabiskan banyak waktu berharga saya hanya untuk menunggu Anda. Jadi, cepatlah!" ucap Kenzo dengan sedikit bentakkan.


Dengan ragu Raya mengambil sebuah pulpen yang ada di atas meja, tangannya bergetar antara setuju atau tidak, tetapi setalah ia pikir, ia harus menyetujuinya.


Tanpa sadar air mata menetes dari mata Raya, membayangkan sakit yang akan dirasakan istri mantan kekasihnya itu jika ia menyetujui kesepakatan ini. Tapi mau bagaimana lagi, ini kesempatan emas untuknya. Perlahan tangan Raya bergerak mencoret di pojok kertas, membentuk sebuah tanda tangan.


Kenzo dan Camella yang melihatnya sontak tersenyum miring, ternyata informasi yang mereka dapatkan bisa membuat Raya bertekuk lutut, tidak sia-sia mereka mengeluarkan uang yang cukup banyak untuk membayar orang mencari informasi pribadi tentang Raya Giesella.


Setelah selesai menanda tangani kesapakatan itu, Kenzo langsung merampas map itu, takut Raya berubah pikiran. Senyumnya semakin mengembang melihat tanda tangan indah milik Raya.


Ini balasan untuk Anda karena sudah berani bermain denganku.


'Sepertinya ini akan menjadi pertunjukkan yang sangat menyenangkan' batin Kenzo yang sudah membayangkan seperti apa bayangan-bayangan pertunjukkan itu nanti.


"Baiklah, kamu sudah menanda tangani ini. Jadi kamu harus mengikuti arahanku," ucap Kenzo serius.


"Baiklah, tapi bisakah engkau segera mengurusnya?" tanya Raya dengan sendu.


"Tentu, akan ku urus secepatnya. Kamu tenang saja, semuanya akan baik-baik saja, aku pastikan itu. Sekarang tugasmu hanya membuat dia kembali ke dalam pelukanmu, buat dia bimbang hingga akhirnya jatuh ke dalam pelukanmu. Untuk kau mau kembali atau tidak dengannya aku tidak peduli, aku hanya ingin kamu melakukan tugas kamu, MENGHANCURKAN MEREKA!" ucap Kenzo dengan penuh penekanan di akhir kalimat.


Raya hanya menganggu pasrah, ia tidak punya pilihan lain.


Kenzo mulai memberitahu apa saja yang perlu dilakukan oleh Raya, dari rencana pertama, yaitu membuat pria itu tidak sengaja melihat ia, setelah itu lanjut ke langkah kedua dan seterusnya.


"Apa kau gila!" Raya sontak berteriak mendengar rencana Kenzo. "Sampai kapan pun aku tidak akan mau melakukannya!"


"Ckk ... baiklah, terserahmu saja menyusunnya." Kenzo tau idenya sedikit gila, apalagi mengingat wanita itu adalah wanita baik, tidak mungkin ia melakukan hal menjijikkan itu.


"Sekarang silahkan pergi! Lakukan tugas pertamamu." Merasa sudah tidak ada yang perlu dibicarakan, Kenzo langsung menyuruh Raya pergi untuk melakukan tugas pertamanya seperti yang sudah direncanakan.


'Siapa pun kamu, aku minta maaf.'


.


.


.


.

__ADS_1


Author


Sebenarnya Raya ini orang baik atau kagak sih??


__ADS_2