Istri Bar-Bar Milik Pak Dosen

Istri Bar-Bar Milik Pak Dosen
Air Mata & Air Hujan


__ADS_3

...Mencintai ibaratkan menggenggam sekuntum bunga mawar. Semakin aku berusaha menggenggamnya erat, semakin dirinya melukaiku....


...Apakah mencintai harus sesakit ini? Sampai aku harus terluka dan pergi, baru kamu tau aku mencintaimu lebih dari siapa pun!...


...Diandra Latasha Jonshon...


...•••••••••••...


Kini hubungan Alden dan Rara perlahan membaik. Rara memutuskan untuk memaafkan Alden, karena tidak mungkin ia terus diam dan tidak berbicara sedikit pun. Bagaimana pun laki-laki itu sudah jujur dan menceritakan segalanya, dan memang cerita suaminya sama persis seperti cerita yang disampaikan oleh papah mertuanya. Meskipun sakit, tapi jujur bukankah lebih baik?


Alden selalu berusaha memperbaiki hubungan dirinya dengan istrinya. Ia bahkan tidak peduli dengan janjinya kepada Ella untuk mengantarkan wanita itu ke rumah sakit. Alden berusaha untuk melupakan Ella. Lagi pula, wanita itu tidak pernah menghubunginya, entah apa alasannya Alden tidak peduli. Ia hanya ingin rumah tangganya dengan Rara baik-baik saja.


"Pagi kesayangan Mas suami," sapa Alden saat melihat Rara membuka matanya.


"Pagi," balas Rara tersenyum.


Alden lalu merapikan rambut Rara yang cukup berantakkan akibat pergulatan panas mereka semalam.


"Oh iya Mas, hari ini kita bakal check up, kan?" tanya Rara. Hari ini memang jadwal Rara untuk check up.


"Iya, nanti kita pergi sama-sama. Tapi Mas harus ke kantor pagi ini, kamu nggak apa-apa kan sendirian?" Alden mengelus lembut pucuk kepala istrinya dengan penuh kasih sayang. Jadwal check up Rara memang jam satu siang. Sehingga Alden pikir, lebih baik ia ke kantor terlebih dahulu, karena ada pertemuan penting yang tidak bisa diwakili oleh Bryan.


"Nggak apa-apa kok. Yaudah Mas siap-siap sana! Entar telat." Rara memang tau jika suaminya ada pertemuan penting hari ini.


Alden mengangguk, lalu mencium singkat kening dan bibir Rara. Kemudian berjalan dan masuk ke dalam kamar mandi.


Rara segera bangkit, memungguti pakaian dan memasangnya, lalu turun ke bawah untuk membuat sarapan.


********


"Yaudah Mas pergi, ya? Baik-baik di rumah!" ucap Alden saat mereka sudah selesai sarapan.


"Iya, nanti jangan lupa ya!" peringat Rara lagi.


Alden mengangguk, lalu membungkuk di depan perut istrinya. Laki-laki itu kemudian mengelus perut istrinya yang sudah membesar, karena kandungan Rara yang sudah memasuki tujuh bulan lebih. Kemudian Alden mendaratkan kecupan di sana.


"Daddy pergi dulu, ya? Jangan rewel sama Mommy, soalnya Daddy pergi buat cari uang buat lahiran dedek-dedek nanti," ucap Alden lembut. Laki-laki itu mengembangkan senyumnya saat merasakan tendangan anak-anaknya.


Alden lalu mencium kening istrinya, setelah itu berangkat menuju kantor dengan perasaan yang bahagia.


*******

__ADS_1


"Ini adalah tugas pertamamu, setelah itu tugas kedua, dan kemudian kau boleh pergi," ucap Kenzo.


"Berarti hanya dua tugas lagi? Setelah itu aku boleh pergi?" tanya Raya memastikan.


Kenzo mengangguk, karena ia yakin setelah tugas kedua Raya, maka Diandra akan pergi dari kehidupan Alden. Raya sendiri hanya mengangguk, merasa sedikit lega, karena tugasnya hanya tersisa dua lagi. Maskipun ia tidak tau tugas yang kedua.


"Pergilah! Lakukan tugas pertamamu!" usir Kenzo.


'Aku tidak sabar mengakhiri permainan ini'


Raya mengangguk, kemudian segera keluar dari ruangan Kenzo.


'Tinggal dua lagi, aku yakin hubungan Nono nggak akan sampai hancur'


*********


Saat Alden sedang fokus mengerjakan beberapa berkas yang tersisa, tiba-tiba handphonenya berdering. Terpampang nama 'Istri Kesayangan' di ponselnya.


"Halo Sayang?" jawab Alden setelah menekan icon terima.


"Halo Mas. Rara lagi pengen jalan-jalan ke taman depan komplek nih, soalnya Rara sumpek di rumah. Jadi, gimana kalo Mas jemput Rara langsung di taman aja?" usul Rara.


"Yaudah, kamu hati-hati! Nanti Mas bakal jemput kamu di sana," jawab Alden lembut.


"Iya-iya sayang, ini Mas udah selesai kok. Mas langsung jalan," kekeh Alden yang gemes dengan sikap istrinya.


Alden tersenyum setelah mematikan panggilan telepon. Baru saja ia beranjak dari tempat duduk, tiba-tiba handphonenya kembali berdering, dan terpampang nama 'Ella' . Meski malas, Alden tetap mengangkat panggilan tersebut.


*******


"Ish kok Mas Alden lama banget sih," gerutu Rara yang merasa sudah cukup lama duduk di kursi taman.


"Mana udah jam satu lewat lagi, niat nganter nggak sih!" Rara terus menggerutu, tapi sayangnya wanita itu tidak beranjak dari tempat duduknya. Ia masih setia menunggu suaminya, merasa yakin jika Alden tidak mungkin mengingari janjinya lagi.


Jam sudah menunjukkan jam dua tepat, yang artinya Rara sudah menunggu Alden selama dua jam lebih.


"Nggak mungkin kan kamu mengingkari janjimu lagi Mas?" gumam Rara menatap kosong.


Seketika awan menjadi mendung, sepertinya sebentar lagi akan turun hujan. Rara bangkit, merasa suaminya tidak akan menjemputnya. Rara tentu kecewa dengan Alden, bagaimana mungkin laki-laki itu mengingkari janji untuk yang kedua kalinya! Tapi meskipun demikian, Rara tetap berpikir positif, mungkin suaminya ada pekerjaan mendadak, itulah kalimat yang ia isi di pikiran untuk menguatkan dirinya.


Ketika Rara berniat pergi, wanita itu tak sengaja melihat mobil suaminya. Senyum Rara mengembang, ternyata suaminya tidak mengingkari janjinya. Tapi siapa sangka jika mobil suaminya justru melaju dengan kencang tanpa berhenti.

__ADS_1


Rara terdiam, tubuhnya membeku saat melihat siapa yang ada di dalam mobil bersama suaminya. Rara dapat melihat dengan jelas jika ada seorang perempuan di sana, karena kaca mobil Alden yang dibuka. Meski Rara tidak melihat dengan jelas wajah perempuan itu, tapi lagi dan lagi Rara merasa familiar dengan postur tubuh itu.


Rara kembali terduduk lemas di atas kursi yang ada di taman tersebut. Jadi, suaminya mengingkari janji hanya karena mantan kekasihnya lagi?


Air mata Rara luruh, apakah mantan kekasih suaminya lebih penting dari pada dirinya?


Bertepatan air mata Rara luruh, hujan mulai turun, merasa ikut bersedih dengan apa yang terjadi dengan Rara. Air mata Rara terus merembes keluar, wanita itu bahkan tidak beranjak dari tempat duduknya. Wanita itu seakan menikmati tetesan air hujan yang membasahi tubuhnya, menghapus air matanya.


"M-Mas ... kamu anggap apa aku?" lirih Rara. Wanita itu terus menangis di tengah hujan yang semakin deras. Sama sekali tidak berniat untuk bangkit, ia bahkan tidak peduli dengan kondisi tubuhnya yang mulai merasa kedinginan.


"A-ku hanya wanita lemah, wanita lemah yang bersembunyi di balik topeng kuat. Hatiku tidak terbuat dari baja! Aku bisa sakit! Aku bisa terluka! Aku bahkan bisa menangis!" Rara terus meracau, sambil menepuk dadanya yang terasa sesak. Bagimana mungkin suaminya kembali berbohong di saat hubungan mereka mulai membaik.


"A-Ayah, sakit ...."


"Bu-Bunda, Rara capek ...."


"A-Abang, Kenapa bukan Abang aja suami Rara?"


"Tuhan, entah apa rencana-Mu, tapi ini terlalu menyakitkan!"


"Hiks ... hiks ...." Rara terus menangis, bahkan wajah wanita itu semakin memucat. Bagaimana tidak pucat, wanita itu sudah menangis selama hampir satu jam, di tambah hujan yang justru semakin deras, dan angin yang semakin membuat tubuh wanita itu kedinganan.


"Kenapa? Kenapa kau harus datang di saat aku sudah jatuh cinta padanya?" gumam Rara menatap kosong.


"Lalu, apakah aku harus terus bertahan, sementara kamu terus menyakitiku? Apakah aku tetap dikatakan egois jika memilih untuk pergi? Apakah aku akan menjadi wanita yang paling jahat yang sudah memisahkan anak dan ayahnya? Apakah anak-anakku nanti akan membenciku?" tanya Rara pada dirinya sendiri.


"Ta-tapi aku manusia! Aku bisa merasa sakit! Dan aku udah nggak sanggup! Wanita mana yang sanggup bertahan melihat suaminya bersama wanita lain?"


"A-aku nggak kuat Mas!"


Wanita itu terus menangis hampir satu jam lebih. Tubuhnya semakin melemah, wajahnya semakin memucat, badannya menggigil dengan kodisi mata dan hidung yang sembab.


"Ma-maafin jika p-pada akhirnya Mo-Mommy memilih untuk m-me-menyerah sayang," lirih Rara sambil mengelus perutnya, bahkan suara wanita itu bergetar menahan rasa dingin yang menusuk kulitnya.


Setelah mengucapkan kata itu, pandangan Rara mulai mengabur, tubuhnya semakin melemah. Perlahan matanya tertutup, ia tidak mampu menahan tubuhnya sehingga wanita itu pingsan dengan kepala yang terhantuk pinggiran kursi. Ia sempat merasa sakit, tapi kemudian matanya benar-benar tertutup, tidak peduli dengan apa yang akan terjadi dengannya nanti.


"Astaghfirullah!"


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2