
Sudah terhitung tiga hari Rara tidak pulang ke rumah. Alden tentu sangat terpuruk, ia sudah pergi ke mana saja untuk mencari Rara, tapi tidak menemukannya. Bahkan laki-laki itu sudah pergi ke rumah Satya dan Rissa, tentu dengan alasan ingin mampir, sedangkan istrinya sedang malas ikut, begitulah alasan yang diberikan Alden saat Rissa menanyakan keberadaan Rara.
Alden benar-benar tidak terurus, penampilannya benar-benar memprihatinkan. Rambut yang acak-acakkan, bajunya yang kusut, kantung mata yang menghitam, lalu di atas bibir dan area dagunya ditumbuhi oleh rambut, tidak hanya itu, kini tubuh laki-laki itu sedikit kurus.
Selama tiga hari Alden tidak tidur, dia hanya duduk di ruang tamu, menunggu kedatangan istrinya, makan pun ia sangat sulit. Andai saja Bryan tidak memaksa ia makan, maka ia tidak akan makan sama sekali.
"Kamu kenapa nggak pulang sayang?" tanya Alden menatap kosong ke depan.
"Kamu nggak ada niatan mau ninggalin Mas, kan?" Alden terus berbicara sendiri. Sepertinya laki-laki itu sudah benar-benar gila. Tidak menyangka jika istrinya akan pergi selama ini, dan yang lebih parahnya ia tidak tau keberadaan Rara. Meskipun ia sudah menyewa beberapa orang untuk mencari keberadaan istrinya, ia tetap kalah karena Alden yakin Rara dijaga ketat oleh Mike.
Selama tiga hari ini juga Alden selalu datang ke rumah orang tuanya, memohon dengan terus berlutut di depan kaki mereka. Tapi sayangnya baik Elena maupun Mike sama-sama menutup mulut, tidak mau memberitahukan tentang keberadaan Rara.
"M-Mas minta maaf sayang. M-Mas nggak bermaksud seperti itu hiks ...." Alden terus menangis di ruang tamu tersebut. Laki-laki itu sangat merasa kehilangan sosok istrinya yang biasanya sangat manja. Tapi sekarang, jangankan berbicara, melihat keberadaan istrinya saja tidak bisa. Sekarang pikirannya dipenuhi oleh bayang-bayang Rara. Laki-laki itu tidak bisa hidup tanpa Rara di sampingnya.
"Arghh!" keluh Alden sambil menyugar rambutnya ke belakang.
Rindu? Tentu! Alden sangat merindukan istrinya, ditambah ia tidak tahu keberadaan dan kondisi istrinya. Apakah wanita itu baik-baik saja? Alden benar-benar rindu dengan aroma tubuh Rara, tatapan tawanya, bahkan senyum wanita itu. Alden benar-benar rindu dengan semua yang ada pada Rara.
Ternyata ada orang yang memperhatikan dan mendengar isakkan Alden. Dia adalah Bryan. Bryan berniat membawa makanan untuk sahabat sekaligus bosnya. Meskipun Bryan tau keberadaan Rara, tapi ia tidak berniat memberitahukannya pada Alden, laki-laki itu memang perlu sedikit pelajaran agar tidak berbuat sembarangan lagi.
"Nih!" Bryan menyodorkan plastik yang berisi makanan pada Alden.
"Gue nggak laper Yan," jawab Alden lemah.
"Lo harus makan Al! Jangan kayak gini!" tegur Bryan yang merasa kasihan melihat perubahan Alden yang benar-benar berantakkan, bahkan laki-laki itu tidak pernah pergi ke kantor hanya karena ingin menunggu kepulangan Rara.
"Lo udah tau di mana keberadaan Rara Yan?" Alden mengabaikan ucapan Bryan, ia justru bertanya.
"Udah!" jawab Bryan santai, lalu pergi ke dapur mengambil piring.
Alden yang mendengarnya sontak melebarkan matanya. Apa ia tidak salah dengar? Bryan mengatakan jika ia sudah mendapatkan informasi tentang Rara?
"Di mana?" tanya Alden dengan mata yang berbinar.
__ADS_1
"Nih, makan dulu! Nanti gue kasih tau." Bryan justru menyodorkan piring yang berisi makanan itu pada Alden.
Alden yang mendengarnya sontak mengangguk dengan patuh, lalu memakan makanan tersebut dengan cepat, tidak sabar mendengar di mana keberadaan istrinya. Saking terburu-burunya, Alden sampai tersedak, untungnya Bryan sudah menyiapkan minuman untuknya.
Bryan yang melihatnya tersenyum tipis. Sepertinya Alden sudah cukup tersiksa.
"Udah! Sekarang di mana istri gue?" tanya Alden yang sudah selesai makan dalam waktu yang sangat singkat.
"Apa yang bakal lo lakuin kalau gue kasih tau?" tanya Bryan santai.
"Yan, gue mohon kasih tau ke gue. Lo jangan ikut-ikutan kerjasama dengan bokap gue. Gue mohon kasih tau gue. Gue nggak sanggup kehilangan Rara." Alden bahkan menjatuhkan dirinya di lantai, memohon kepada Bryan dengan berlutut.
Bryan tentu terkejut dengan ulah bosnya, bagaimana mungkin Alden rela berlutut kepadanya hanya karena ingin tahu keberadaan Rara? Sepertinya laki-laki itu sudah benar-benar terpukul dengan kepergian Rara. Tapi satu yang Bryan khawatirkan, apakah Rara akan memaafkan kesalahan Alden? Sementara wanita itu sampai harus menginap di rumah sakit karena demam akibat terlalu lama terkena hujan.
"Rara akan kembali kok," ucap Bryan akhirnya. Reza sudah memberitahukannya jika Rara akan pulang hari ini. Tapi, Reza sendiri tidak tau kemana Rara akan pulang.
********
Rara tersenyum saat melihat Reza yang tidur di sofa yang ada di ruangan. Selama Rara menginap di rumah sakit, Reza selalu ada untuknya. Laki-laki itu yang selalu menemaninya, bahkan membantunya jika ingin pergi ke toilet.
Seketika Rara tersenyum miris, bagaimana mungkin yang mengurusnya justru laki-laki lain? Bukankah yang seharusnya mengurus ia adalah Alden? Bukankah yang seharusnya menemani dia adalah suaminya?
Rara sudah memutuskan semuanya dari semalam, ia sudah memutuskan langkah apa yang akan ia lakukan nanti.
"Lo udah bangun Ra?" tanya Reza yang baru bangun.
Rara tidak menjawab, ia hanya mengangguk sambil tersenyum. Rara tidak menyangka jika Reza yang ia kira laki-laki menyebalkan, sekarang justru menjadi pahlawan untuknya.
"Yaudah bentar gue beli makanan buat lo." Reza lalu berjalan ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya, setelah itu keluar dari ruangan Rara, berjalan menuju kantin rumah sakit. Rara tersenyum setelah kepergian Reza, kenapa laki-laki itu menjadi sangat peduli padanya?
Tak berselang lama, Reza kembali dengan membawa plastik berisi makanan.
"Yaudah nih makan," ucap Reza lembut sambil menyerahkan semangkok makanan pada Rara.
__ADS_1
Rara kemudian mengambil dan memakannya, karena jujur saja ia merasa lapar, apalagi anak-anaknya juga perlu makan.
"Kata Dokter lo udah boleh pulang hari ini. Lo mau pulang ke mana?" tanya Reza sambil memakan makanannya.
"Ya mau kemana lagi kalau nggak ke rumah laki gue," kekeh Rara yang merasa pertanyaan Reza sedikit konyol. "Bagaimana pun gue harus segera menyelesaikan semuanya Za. Gue nggak bisa terus menghindar kayak gini," lanjut Rara.
"Emangnya gimana keputusan lo?" tanya Reza penasaran.
"Entahlah." Rara memilih untuk tidak menjawab. Reza yang menyadari jika Rara memang tidak berniat menjawab memilih untuk diam saja. Menurutnya ia sedikit lancang jika terus menanyakan perihal rumah tangga Rara.
"Makasih banyak karena lo udah ngejagain gue selama di rumah sakit Za. Makasih karena lo udah ngerawat gue. Gue minta maaf kalau gue udah ngerepotin lo," ucap Rara tulus.
"Santai aja Ra, itu emang udah tugas seorang teman. Gue ikhlas kok bantuin lo," sahut Reza menatap mata Rara.
"Yaudah lo istirahat gih! Biar gue aja yang beberes. Siang nanti gue bakal antar lo pulang, soalnya lo baru boleh pulang kalau air infusnya udah habis."
Rara mengangguk, lalu memilih untuk istirahat kembali. Sementara Reza hanya mampu memandang sendu Rara, kemudian memilih beberes baju-baju milik Rara yang ia beli menggunakan uangnya, karena tidak mungkin mengambil baju dari rumah pak Alden.
'Keputusan gue udah bulat' batin Rara.
.
.
.
.
Alden udah menderita tuh, kurang jahat apalagi coba aku >< (Jahat kok bangga wkwk)
Kurang penderitaan Alden? Ini masih pertengahan, belum nyampe puncak konflik kok, jadi sabar ya :)
Reza perhatian banget ya. Jangan-jangan ....
__ADS_1