
..."Maaf, tapi bolehkah jika aku serakah? Aku ingin menggenggam tangan kalian berdua sekaligus. Aku tidak bisa memilih. Kalian berdua benar-benar berharga di hidupku. Istriku yang akan memberikanku buah hati, dan kekasihku yang sudah mengajarkan aku akan cinta"...
...Alden Reynoard Schiaparelli...
...•••••••••••••...
Alden terbangun saat dirinya merasakan cahaya masuk ke dalam kamar yang ia tempati, melalui celah-celah gorden. Laki-laki itu menatap langit-langit kamar yang terasa asing baginya. Kemudian mata elang miliknya melihat tangan yang sedang memeluk erat tubuhnya.
Cukup lama Alden menatap si pemilik tangan, sampai akhirnya Alden sadar. Ia menatap ke samping, dan terkejut saat melihat yang tidur dengannya bukanlah Rara, tetapi Ella!
Ingatan kejadian kemaren terlintas di kepala Alden. Apa yang sudah ia lakukan? Tidur dengan wanita lain?
Tiba-tiba Alden teringat akan istrinya, ia takutnya jika wanita itu masih menunggu dirinya di pantai, karena ia memang sudah berjanji akan menjemputnya.
"Halo sayang?" panggil Ande khawatir.
"Ada apa?" tanya Rara dengan suara datar dan dingin.
"Kamu di mana?"
"Di rumah," jawab Rara singkat.
"Oh, syukurlah. Mas kira kamu masih berada di pantai." Alden bernafas lega, saat tau jika istrinya sudah berada di rumah.
"Ha-ha-ha, dan Anda berpikir saya segila itu untuk menunggu Anda? Anda salah Tuan Rey, saya masih cukup waras menunggu orang seperti Anda di pinggir pantai. Bagaimana mungkin Anda lebih mementingkan pekerjaan kantor dibandingkan anak-anak Anda." Rara berbicara sambil tertawa garing. Rara benar-benar emosi, saat dirinya tak menemui suaminya di rumah. Dan yang membuat ia lebih marah adalah, suaminya bahkan tidak pulang atau bahkan mengabarinya.
Dada Rara terasa sesak, saat tahu jika suaminya lagi dan lagi tidak jujur padanya. Apa yang sebenarnya terjadi? Begitulah isi kepala Rara.
"Maaf." Hanya itu yang bisa Alden ucapkan.
"Semalam, tidur di mana?" tanya Rara tanpa menyebut Mas pada suaminya.
"A - aku nginap di rumah Bryan semalam," jawab Alden berbohong. Tidak mungkin kan ia mengatakan jika semalam tidur di rumah mantan kekasihnya?
"Benarkah?"
"Iya."
"Sepertinya Anda memang tidak punya sopan santun pak Rey. Bagaimana mungkin Anda menginap di rumah seorang yang sudah memiliki keluarga? Oh, atau mungkin Anda memang sedang bingung mencari alasan lain karena tidak ingin jujur? Ckk ... jika ingin berbohong, carilah alasan yang sedikit masuk akal. Apa perlu saya yang mengajarkan?" Sudah habis kesabaran Rara saat mengetahui suaminya berbohong lagi. Ah! Rara benar-benar sudah meragukan suaminya.
Alden terdiam di seberang sana, ucapan istrinya benar-benar membuatnya mati kutu.
"Maaf sayang." Hanya itu yang bisa Alden ucapkan.
"He'em."
"Baiklah, Mas mau siap-siap kerja dulu, ya? kayaknya Mas nggak pulang ke rumah deh, Mas mau langsung pergi ke kantor."
Rara mematikan panggilan tersebut secara sepihak tanpa menjawab perkataan Alden. Rara yang sedari tadi bersandar di dinding, kini tubuhnya sudah terduduk di lantai. Sesak? Tentu saja!
Rara merasa sesak, saat tau laki-laki yang ia cintai berani berbohong padanya. Rara bahkan tau jika apa yang diucapkan Alden semuanya bohong. Dan apa tadi? Alden bahkan tidak jujur padanya tentang di mana ia sebenarnya menginap.
FLASH BACK
Setibanya Rara di rumah, ia langsung menelpon Bryan. Untungnya Rara memiliki nomor telponnya.
"Halo?" jawab Bryan dari seberang sana.
"Eh lo kok jahat banget sih ngasih kerjaan banyak ke suami gue." Rara langsung menyeprot Bryan.
"Hah?" Bryan justru merasa bingung dengan maksud Rara.
"Hah huh hah. Nggak usah sok nggak tau lo babu Bryan. Lo ngapain ngasih pekerjaan banyak ke suami gue? Lo sendiri taukan kalo sebenarnya kita lagi liburan."
"Hah? Ini maksudnya gimana Ra? Pekerjaan? Gue emang sempat nelpon laki lo, tapi gue nggak nyuruh dia untuk datang ke kantor. Dan dia mana ada datang ke kantor."
"Hah?" Rara tentu terkejut, tapi suaminya mengatakan jika ke kantor tadi.
"Hah huh hah. Emang kenapa sih?"
__ADS_1
"Nggak apa-apa."
Tut ... tut ...
Rara segera mematikan panggilan tersebut. Jika Bryan mengatakan jika suaminya tidak berad di kantor, lalu ... kemana suaminya sebenarnya?
Rara merasa sangat sakit mengetahui suaminya berbohong. Kemana suaminya sebenarnya?
FLASH BACK OFF
Rara terkejut bukan main saat Bryan justru mengatakan jika ia tidak ada menyuruh Alden untuk datang ke kantor. Bryan hanya mengatakan jika Alden memiliki pekerjaan di kantor, tetapi ia tidak menyuruh Alden untuk datang ke kantor.
Rara hanya tersenyum, mungkin suaminya itu memiliki pekerjaan yang Bryan sendiri tidak tahu. Tapi, kenapa suaminya itu harus berbohong pada istrinya sendiri?
Setelah semalaman Rara menunggu kepulangan Alden, tetapi suaminya tidak menunjukkan batang hidungnya bahkan saat matahari sudah keluar dari peraduannya.
Karena sangat penasaran apakah suaminya benar-benar menginap di rumah Bryan atau tidak. Rara lalu menelpon Bryan, menanyakan apakah suaminya benar menginap di sana.
"Halo, Ra?"
"Iya, halo, Yan."
"Ada perlu apa nelpon gue?" tanya Bryan sedikit heran.
"Gue mau nanya, apa Mas Alden nginap di sana?" tanya Rara hati-hati. Rara merapalkan doa, berharap jika suaminya memang menginap di sana.
Bryan mengerutkan keningnya, heran. Apa maksud istri sahabatnya? Apakah Alden tidak pulang semalam?
"Alden? Apakah dia tidak pulang?" tanya Bryan.
"Eum ... itu ...." Rara seketika bingung ingin menjelaskannya.
Bryan membuang napas kasar di seberang sana. Ternyata apa yang ia takutkan benar-benar terjadi. Ia pikir Alden dan Ella tidak akan pernah bertemu kembali, tetapi nyatanya mereka bertemu kembali. Sudah dapat dipastikan jika Alden menginap di rumah Ella! Berduaan dengan wanita itu.
Bryan bertanya-tanya, mengapa wanita itu kembali lagi setelah meninggalkan Alden begitu saja?
"Sialan!" umpat Bryan tanpa sadar.
"Lo ngumpet siapa?" tanya Rara heran.
"Ah, i - itu ... nggak apa-apa kok."
"Oh iya, gue minta maaf karena sudah mengganggu lo."
"Santai aja Ra." Terdengar kekehan Bryan dari seberang sana.
"Eum ... gue boleh minta tolong?" tanya Rara sedikit ragu.
"Boleh, apaan?"
"Lo janji jangan kasih tau kalo gue nelpon lo dan nanyain ini, ya?" Rara benar-benar berharap Bryan tidak memberitahukan pada suaminya jika ia menelpon Bryan.
Bryan hanya diam. Sebenarnya ia ingin mengintrogasi Alden setelah ini, atau bahkan ia ingin sekali menampar wajah tampan sahabatnya itu. Bryan berani bersumpah jika Alden pasti sudah bertemu dengan Ella.
"Lo mau janji, kan Yan?" tanya Rara lagi.
"Hufh ... baiklah, gue janji nggak akan bilang ke Alden." Bryan hanya pasrah saja, memang tak seharusnya ia ikut campur urusan keluarga sahabatnya. Mungkin ia akan turun tangan jika sudah tepat waktunya.
"Makasih banyak ya Yan. Kalau gitu gue tutup ya telponnya, maaf karena udah ganggu waktu lo."
"Santai aja."
Tut ... tut
Setelah itu Rara mematikan panggilan tersebut. Rara benar-benar marah, berani-beraninya Alden berbohong padanya. Rara lalu mengambil segelas air, untuk meredam amarahnya.
"Apakah kamu kembali?" lirih Rara.
********
__ADS_1
Setelah panggilan telepon terputus, Alden hanya diam. Apakah yang ia lakukan salah?
"Selamat pagi No," sapa Ella saat membuka mata, lalu tersenyum manis.
"Pa - pagi," balas Alden sedikit terbata-bata.
"Kamu kenapa? Kok kayak gugup gitu?" tanya Ella yang merasa heran.
Alden hanya diam, ia bingung ingin memberikan alasan apa.
"Kamu menyesal ya karena udah nemanin aku semalam? Maaf ..." lirih Ella.
"E - enggak gitu El, aku nggak menyesal kok." Alden tersenyum untuk meyakinkan kekasihnya. Ah! Maksudnya mantan kekasihnya.
"Makasih ya, No." Ella lalu bangun, lalu memeluk tubuh Alden dengan manja.
"Iya, sama-sama. Aku juga nggak tega ninggalin kamu sendirian." Alden tersenyum sambil tangannya mengusap lembut pucuk kepala Alden.
Perasaan bersalah pada istrinya seketika hilang, digantikan perasaan bahagia bersama Ella. Alden melupakan Rara, melupakan seorang wanita yang sudah menjadi istrinya. Apakah Alden menyesal karena sudah dipertemukam dengan sang mantan kekasih lagi? Sepertinya tidak! Alden tidak merasa menyesal, karena ia sendiri sudah tahu alasan Ella meninggalkannya. Alden justru bersyukur karena wanita itu bisa kembali ke pulakannya.
Apakah laki-laki itu masih memiliki perasaan pada Ella? Entahlah, ia sendiri bahkan tidak tahu dengan perasaannya, apakah itu memang perasaan cinta atau hanya kasihan? Ia tidak tahu!
'Aku ingin egois. Aku ingin menggenggam tangan kalian berdua. Aku tidak sanggup jika harus memilih'
"Aku masih cinta sama kamu No," lirih Ella sambil menunduk.
Alden hanya diam, ia tidak tahu harus menjawab apa, ia sendiri bahkan tidak tahu dengan perasaannya.
Ella yang menyadari jika Alden tidak menjawab hanya tersenyum tipis. Sepertinya Alden memang sudah melupakannya.
"Maaf ... maaf karena sudah lancang mengucapkan kata itu," ucap Ella pelan.
"Nggak apa-apa kok. Ya udah, aku mau berangkat kerja dulu, ya? Kamu hati-hati di rumah." Alden berkata dengan sangat lembut.
"Kamu nggak sarapan dulu? Sekalian kita masak barang kayak dulu." Ella berkata sambil tersenyum manis.
"Engga dulu deh, ya? Soalnya aku sibuk hari ini," jawab Alden berdalih.
"Ya udah deh nggak apa-apa, tapi lain kali janji, ya?" Ella mengeluarkan puppy eyes, sehingga membuat Alden gemes sendiri.
"Ihh ... gemes banget tau nggak? Pacar siapa sih?" Tanpa sadar Alden mengeluarkan kalimat yang dulu sering ia katakan sewaktu berpacaran dengan Ella.
Ella hanya diam mendengar ucapan Alden. Ia ingat betul kalimat itu.
"Ah, maaf, aku tidak sengaja mengatakannya. Kalo begitu, aku pamit, ya? Lusa kita akan ke rumah sakit untuk check up."
Alden lalu pergi ke kantor dengan perasaan bahagia.
Bahagia? Kenapa? Karena Tuhan sudah berbaik hati mempertemukan mereka kembali setelah bertahun-tahun tanpa ada kabar. Bukankah dia memang harus bahagia?
Alden melupakan istrinya, wanita yang sedang mengandung darah dagingnya, tanpa tahu jika wanita itu sedang sakit, bahkan menangis.
Ella menatap kepergian Alden. Setelah Alden sudah tidak terlihat dari pandangannya, Ella tertunduk. Wanita itu benar-benar merasa sesak sudah melakukan hal yang menurutnya sudah cukup gila. Sebenarnya Ella sudah bangun sejak tadi, ia dapat mendengar dengan jelas suara istri Alden yang sepertinya benar-benar marah dan kecewa. Tapi satu yang mengganjal di hati Ella. Ia seperti mengenal suara wanita itu, tapi sayangnya ia lupa.
"Kenapa aku merasa kenal dengan suara itu," lirih Ella.
"Siapa pun kamu, maafkan aku ...."
.
.
.
.
Author
"Thor, tinggalin aja Alden, buat dia nyesell..."
__ADS_1
Itu seriusan >< kalo Alden ditinggalin, endingnya gimana wkwk?
Maaf banget untuk alur yang muter-muter hehe, kan nggak asik kalo langsung ke sakitnya ><