
Setelah keinginan Rara terpenuhi, yaitu menabok Papah Mike, mertuanya sendiri. Alden dan Rara lalu segera pergi dari sana dan pergi menuju rumah sakit untuk konsultasi dengan dokter kandungan.
"Sayang, kamu gak boleh kayak gitu sama Papah! Itu gak baik," tegur Alden.
"Ra - Rara minta maaf Mas, Rara benar-benar gak terkendali tadi, Rara gak tau tiba-tiba aja Rara senang ngeliat papah Mike jatoh, terus tiba-tiba aja Rara pengen cepat-cepat pergi tanpa perduli sama Papah Mike," ucap Rara jujur sambil menunduk. Rara benar-benar tidak tahu dengan dirinya sendiri, ia justru merasa puas saat melihat mertuanya kesakitan.
"Mas gak ada maksud marahin kamu sayang, Mas tau kalo itu keinginan anak kita, jadi gak papa kok, tapi kita minta maaf sama Papah ya?" ucap Alden lembut.
"Ckk... entah apa motif anak gue ngerjain kakeknya sendiri, kayaknya anak gue ada dendam tersembunyi dengan kakeknya," batin Alden sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Yaudah kamu telpon Papah deh, terus minta maaf," ucap Alden lembut sambil terus fokus ke depan.
Rara hanya mengangguk sambil sesekali menyeka air matanya yang terus mengalir karna sangat merasa bersalah dengan mertuanya. Rara lalu mengambil handphonenya, dan menelpon seseorang.
"Halo" ucap Rara saat panggilan tersambung.
"....."
"Iya, saya pesan pizza 2 kotak sama kentang gorengnya ya."
Alden yang mendengar pembicaraan Rara sontak menatap istrinya bingung, dengan siapa sebenarnya istrinya berbicara, bukankah ia tadi mengatakan ingin menelpon Papah Mike?
"......"
"Iya, nanti saya kirim alamatnya."
Tut tut
"Kamu nelpon siapa Yank?" tanya Alden sambil menautkan alisnya.
"Hehe tadi Rara pesan pizza dulu, soalnya Rara lagi pengen makan pizza," ucap Rara sambil cengengesan menunjukkan gigi putihnya.
Alden yang mendengarnya hanya bisa menepuk jidat, sungguh ada saja kelakuan istrinya yang menjengkelkan, meskipun situasinya sedang tidak memungkinkan.
"Yaudah buruan kamu telpon Papah!" ucap Alden sedikit jengkel.
"Bentar Mas, Rara ngeluarin air mata dulu. Hiks ... hiks... hiks .... " Rara berusaha untuk mengeluarkan air matanya, dan hasilnya tentu berhasil!
Alden hanya bisa menggeleng-geleng kepala dengan tingkah istrinya, padahal mereka hanya akan telponan bukan video call.
"Halo" ucap Rara saat panggilan tersambung.
"Halo." Ternyata yang menjawabnya Elena bukan Mike.
"Ha - halo Mah hiks ... hiks, bisa kasih ke Papah gak telponnya hiks." Rara berbicara sambil terus menangis, lebih tepatnya berpura-pura menangis.
"Ckk... bukankah itu terlalu berlebihan," batin Alden yang jengah dengan istrinya.
"Eh ... kamu jangan nangis sayang, ini Papah Mike ada disamping Mamah, bentar ya."
"Halo"
"Ha - halo Pah, Rara mau minta maaf soal tadi, Rara benar-benar gak sengaja, Rara gak bermaksud kayak gitu kok tadi hiks," ucap Rara dengan tangisan yang semakin dilebih-lebihkan.
"Sepertinya kamu tidak ikhlas meminta maaf menantu TERSAYANG Papah Mike," ucap Mike sambil menekankan kata tersayang.
"Hehe, Papah Mike tau aja. Rara dipaksa sama Mas Alden, katanya harus minta maaf sama Papah." Rara justru mengadu pada mertuanya.
"Yaudah tabok aja suami kamu itu."
"Emang boleh ya Pah?" tanya Rara dengan wajah berbinar.
"Boleh dong, sampai masuk ke rumah sakit juga gak papa," ucap Mike dari sana.
"Ishh Papah Mike gak boleh jahat kayak gitu, Mas Alden kan suami Rara, entar dosa kalau ngerjain suami sendiri."
"Ckk.. lalu kamu yang ngerjai mertua kamu sendiri, apakah tidak berdosa?" tanya Mike kesal.
"Hehe tadi Rara lupa kalau Rara punya dosa, sekarang Rara udah ingat kalau Rara udah punya banyak dosa. Rara gak mau kalau misalnya Rara meninggal, terus masuk neraka, Rara kan pengennya jadi peri." Rara justru curhat pada mertuanya.
"Astaga, kayaknya emang gue doang yang waras," batin Alden yang pusing dengan istrinya.
"Jadi, Papah maukan maafin Rara sama cucu Papah?"
__ADS_1
"Yaudah Papah maafin, yang penting cucu Papah puas karna udah berhasil ngerjain kekeknya."
"Yeay, makasih Papah. Sayang Papah Mertua banyak-banyak," ucap Rara senang.
Hanya terdengar kekehan Mike dari seberang sana. Setelah itu Rara mematikan telponnya.
Beberapa saat kemudian mobil sampai di rumah sakit. Setelah daftar, mereka lalu menunggu antrian. Rara hanya diam saja, karna dia tak tau tujuan Alden mengajaknya kerumah sakit untuk apa. Padahal sekarang bukan jadwalnya pemeriksaan.
"Mas, aku baru ingat. Kita ke sini mau ngapain?" tanya Rara polos.
"Eum ... ada yang perlu dikonsultasi sama dokter sayang," ucap Alden lembut.
"Konsultasi ap-"
"Ibu Diandra Latasha."
Alden bangkit, lalu mengajak istrinya untuk masuk.
"Udah telat nanya sekarang. Yaudah, yuk masuk!"
Rara dan Alden lalu masuk ke dalam ruangan dokter, lalu duduk di kursi yang ada di depan meja kerja dokter kandungan.
"Halo selamat sore, Bu Diandra, Pak Alden," sapa Dokter Sofia sambil menatap Rara dan Alden.
"I - iya selamat sore juga, Bu Dokter," balas Rara yang sedikit gugup.
"Ada keluhan apa Bu Diandra?"
Rara sedikit gelagapan, jujur saja ia tidak tau tujuan dirinya pergi ke rumah sakit. Padahal jadwal cek kandungannya bulan depan. Karna bingung apa yang perlu di tanyakan, maka Rara bertanya apa yang terlintas di pikirannya.
"Kalo orang lagi hamil, boleh gak sih nabok mertua Dok?" tanya Rara polos.
Dokter Sofia hanya mengerutkan alisnya bingung dengan pertanyaan Rara. Sedangkan Alden hanya meringis mendengar pertanyaan istrinya.
"Jadi gini Dok, saya mau nanya, apakah wanita hamil boleh melakukan hubungan intim?" tanya Alden langsung.
Duarr
Rara yang mendengarnya tentu sangat terkejut, bagaimana bisa suaminya bertanya hal se-vulgar itu? Rara benar-benar malu, padahal bukan dirinya yang bertanya.
"Wah, serius Dok?" tanya Alden dengan girang.
Rara yang melihat wajah bahagia suaminya justru benar-benar ingin mencakar-cakarnya. Kelihatan sekali jika suaminya ngebet ingin anu-anu dengannya.
"Cih... kalo masalah jatah aja langsung tuh wajah kayak emak menang arisan," gerutu Rara dalam hati.
"Iya, tapi dengan catatan. Kondisi ibu dan janinnya sehat. Jika melihat bayi yang ada di dalam perut Bu Diandra dan kondisi tubuhnya, bayinya cukup kuat dan tubuh Bu Diandra juga kuat. Jadi tidak masalah, jika dilakukan pada trimester pertama," jelas Dokter Sofia.
"Oh gitu ya, Dok." Alden manggut-manggut mendengarnya.
"Oh iya, untuk cairan s*s* kental manisnya, itu gimana Dok?" tanya Alden menanyakan perihal cairan kental dirinya.
"Oh, kalau itu harus dikeluarin di luar, Pak. Jika dikeluarkan di dalam, nanti takutnya akan terjadi kehamilan lagi."
"Oh, gitu ya, Dok. Lalu, untuk gayanya, apakah ada pantangan?"
"Untuk gaya, bebas, mau pakai gaya apa aja boleh. Tapi, jika posisi Bu Diandra dibawah, sebaiknya Pak Alden tidak terlalu menekan tubuh bapak, apalagi sampai menekan perut Bu Diandra. Dan juga, gerakannya harus pelan dan lembut ya, Pak. Jangan terlalu bersemangat dan terlalu kencang."
Wajah Alden langsung cerah saat mendengar penjelasan dokter itu, bahkan senyum manis terlihat jelas diwajahnya. Seperti menang undian, wajahnya benar-benar kegirangan.
Sedangkan Rara hanya diam, menunduk malu. Untuk mengangkat kepalanya saja dia tidak berani, karena saking malunya. Meskipun ia gadis bar-bar, tetapi jika membahas tentang dunia anu-anu, Rara justru menjadi gadis yang pemalu.
"Sial! Dasar jantan!"
Akhirnya Rara tau tujuan suaminya membawanya kerumah sakit, bukan untuk cek kandungan, tetapi untuk konsultasi masalah hubungan intim.
Setelah selesai konsultasi, Alden dan Rara lalu menebus vitamin yang diberikan oleh dokter tadi.
******
"Mau langsung pulang?" tanya Alden lembut.
"Enggak! Rara mau mampir ke neraka dulu," ketus Rara kesal.
__ADS_1
Alden tidak marah, ia justru mengulum senyum melihat reaksi yang diberikan oleh istrinya. Dia memang merahasiakan tujuan dirinya mengajak Rara untuk pergi ke rumah sakit. Jika Alden memberitahukan tujuannya di awal, ia takutnya jika Rara akan menolak.
"Kamu marah?"
"Enggak Rara ketawa," ketus Rara.
"Kamu kenapa ketus-ketus kayak gitu sayang?"
"Ya itu juga karna Mas, Mas ngapain sih nanyain kayak gitu ke dokter?" kesal Rara.
"Ya kalo Mas nanyainnya ke tukang urut, mereka gak paham sayang," balas Alden polos.
"Mas minta maaf sayang, tapi kamu juga harus ingat kalo Mas juga laki-laki normal, kita belum bercinta selama Mas tau kalau kamu ternyata hamil, Mas juga perlu bermesraan dengan istri Mas, Mas harap kamu mengerti akan itu, Mas juga pengen dikasih jatah," jelas Alden sambil menatap mata istrnya.
Rara yang mendengarnya sedikit tersentuh, apa yang diucapkan suaminya ada benarnya juga, sekarang ia merasa sedikit bersalah.
"Iya-iya Rara bakal ngelayanin Mas malam ini."
"Ahsyikk akhirnya Mas dapat jatah juga," ucap Alden seperti anak kecil.
Rara yang melihat perilaku lucu suaminya justru terkekeh. Dasar jantan! Image akan langsung hilang jika membahas masalah jatah.
Alden lalu menjalankan mobilnya pulang menuju rumah. Selama dalam perjalanan, Alden selalu tersenyum, tak sabar ingin melakukan adegan ehem-ehem bersama sang istri.
Rara yang mendapati suaminya tersenyum dari tadi hanya menatap jengah, lalu memilih memandangi jalanan saja.
Sesampainya dirumah, ternyata pengantar Pizza yang mengantarkan sesuai pesanan Rara sudah berada di rumah mereka lebih dahulu.
"Terima kasih," ucap Alden sambil menyerahkan 10 lembar uang berwarna merah. Sedangkan Rara sudah membawa pizza nya lebih duhulu kedalam rumah.
"Tapi harganya cuma 200 Pak."
"Gak papa, saya lagi bahagia hari ini, doa'in semoga semuanya berjalan lancar," ucap Alden sambil terkekeh.
Alden lalu segera masuk kedalam rumah, meninggalkan Pengantar Pizza tersebut.
"Eh Mwas, swini-swini, mwakan Mwas, inwi enwak bangwet," ucap Rara dengan mulut penuh dengan pizza.
"Mas gak laper sayang, kamu makan sendiri aja ya, Mas ke kamar dulu," ucap Alden yang langsung bergegas berjalan ke kamarnya.
Alden berada di kamar cukup lama, hingga membuat Rara heran. Akhirnya Rara menyusul suaminya, tetapi sayangnya pintunya dikunci dari dalam.
"Mas?" panggil Rara.
"Iya," sahut Alden dari dalam.
"Lagi ngapain, sih?" tanya Rara penasaran.
"Iya, bentar!"
Tak lama setelah itu, pintu kamar pun terbuka. Alden cengengesan, melihat istrinya sudah memasang wajah jengah. Wah, bahaya nih! Bisa-bisa nanti malam dia tidak akan bisa ehem-ehem dengan istrinya.
"Silahkan masuk, Tuan Putri!" ucap Alden sambil mempersilahkan Rara untuk masuk.
Rara pun masuk ke dalam, dan ia sedikit tertegun melihat suasana kamar sudah berubah. Lampu kamar sudah menjadi lebih redup, hanya ada pencahayaan dari lilin, belum lagi kelopak bunga mawar yang bertaburan di atas tempat tidur, membentuk love.
"M - Mas?"
"Iya kenapa sayang?" ucap Alden dengan terus mempertahankan senyum manisnya.
"Mas udah bangkrut ya?" tanya Rara polos.
"Bangkrut? Maksudnya?" Alden justru tidak mengerti maksud istrinya.
"Ini kita mau ngepet, kan?"
.
.
.
.
__ADS_1
Aku udah ganti judul yeayy wkwkwk