
..."Perempuan bisa merasakan susahnya mencari uang, tapi ... laki-laki tidak akan pernah bisa merasakan hamil dan melahirkan"...
...Unknown...
...---------------------...
Setelah mengetahui jika istrinya kemungkinan sedang hamil, Alden langsung membawa Rara pergi kerumah sakit untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut.
"Yaudah sayang, ayok kita ke rumah sakit!" ucap Alden bersemangat, untungnya Rara sudah dipindahkan kedalam ruangan pribadinya.
"Kita pulang dulu!" ucap Rara.
"Kenapa mesti pulang dulu, kan bisa langsung kerumah sakit," ucap Alden yang sedikit bingung.
"Ihh pokoknya pulang dulu!" kesal Rara sambil mengembungkan pipinya.
Karna tidak ingin membuat istrinya lebih kesal, Alden hanya menuruti permintaan istrinya itu. Mereka lalu pulang kerumah terlebih dahulu.
Tak berselang lama, mereka akhirnya sampai, Alden dan Rara lalu masuk kedalam rumah.
"Yaudah kamu ganti baju sana!" ucap Rara ketus.
"Hah? Kenapa?" tanya Alden yang sedikit bingung dengan permintaan istrinya.
"Ihh ganti baju pokoknya!" ketus Rara.
Rara sangat kesal melihat penampilan suaminya yang sangat keren, kemeja hitam dengan bagian tangannya yang digulung sampai siku, serta dua kancing baju yang sengaja dibuka. Jika seperti itu, suaminya akan menjadi bahan tontonan kaum hawa. Rara tentu tak ikhlas suaminya menjadi pusat perhatian kaum hawa. Tidak iklas sampai kapan pun!!
"Ya ampun, kenapa mesti ganti baju sih sayang," ucap Alden yang semakin bingung, biasanya istrinya tidak pernah mempermasalahkan penampilannya.
"Dede bayinya gak suka liat Mas pakai baju itu," celetuk Rara menggunakan alasan konyol.
"Astagfhirullah, maafkan hamba ya Allah karna sudah memperlibatkan anak yang tidak bersalah ini," batin Rara sambil meringis.
Alden tertegun sejenak saat mendengar ucapan istrinya barusan. Dia pernah dengar kalau ibu hamil itu mood-nya sering berubah-ubah, dan ngidam yang aneh-aneh juga.
Alden lalu tersenyum, kemudian berjongkok, mensejajarkan wajahnya dengan perut rata milik istrinya.
"Oh ... jadi dede bayinya gak suka liat Daddy pakai baju kayak gini, ya udah bentar, Daddy ganti dulu ya," ucap Alden lembut, lalu mencium singkat perut Rara.
Setelah mengecup singkat perut Rara, Alden lalu masuk kedalam kamar untuk mengganti pakaiannya.
"Gila kali ya," gumam Rara yang melihat sikap aneh suaminya.
Tak berselang lama, Alden keluar dengan menggunakan kaos hitam lengan pendek dipadukan dengan celana pendek selutut. Rara yang melihatnya kembali berdecak kesal, bagaimanapun penampilan suaminya, tetap saja dia tampan!
"Gimana?" tanya Alden sambil memperlihatkan pakaiannya.
"Yaudah buruan!" ketus Rara, lalu segera pergi dahulu.
Alden yang mendengar suara ketus istrinya hanya bisa mengelus dada, setelah itu segera menyusul istrinya sebelum mendapat amukan.
Alden lalu mulai menjalankan mobilnya. Perjalanan mereka menuju rumah sakit ditemani oleh lagu 'Goyang Dumang' , Rara tentu melenggok-lenggokkan tubuhnya, sedangkan Alden, ia hanya diam menikmati setiap alunan musik yang menggema didalam mobil.
__ADS_1
Hingga akhirnya mobil tiba di rumah sakit. Alden dan Rara langsung keluar dari mobil, dan berjalan menuju bagian kandungan. Saat mereka sedang menunggu giliran, Rara sedang melihat ibu-ibu yang sedang memegangi perut mereka yang buncit.
Terlihat rona kebahagiaan di wajah mereka, karna mereka sudah tidak sabar ingin bertemu dengan malaikat kecil mereka. Malaikat yang selalu mereka nanti kehadirannya.
"Mama, kok tante itu pelutnya kecil? Gak kayak punya Mama, besal. Emang ada dedek bayinya?" tanya anak kecil sambil menunjuk perut Rara.
"Ckk.. tante tante, orang masih muda juga," ketus Rara sambil menatap tajam anak kecil tersebut.
"Sayang gak boleh kayak gitu sama anak kecil!" tegur Alden pada istrinya.
"Ja-jadi Mas belain dia dibandingkan Rara hiks ... " ucap Rara yang langsung menangis.
Alden hanya bisa menepuk jidat saat melihat istrinya yang langsung menangis hanya karna masalah kecil, sepertinya Alden harus ekstra sabar dengan bumil yang satu ini.
Alden lalu mengerakkan tubuhnya seolah meminta maaf pada ibu anak itu, dan ibu itu yang melihat Rara justru tersenyum, karna ia juga pernah seperti Rara.
"Kamu gak boleh ngomong gitu sayang!" tegur mama anak itu.
"Minta maaf sama kakaknya ya sayang?" pinta wanita itu pada anaknya, dan dibalas anggukan oleh anak laki-laki yang menggemaskan itu.
"Maafin aku ya kakak," ucapnya sambil membungkuk dihadapan Rara dan Alden.
Rara hanya menatap tajam anak kecil tersebut, tapi sedetik kemudian ia tersenyum manis. Alden yang melihatnya tentu sedikit geli dengan istrinya, ia bertanya-tanya apakah bumil memang seperti itu.
"Iya, gak papa kok sayang," ucap Rara lembut.
"Kok kamu malah manggil dia sayang sih yang," kesal Alden.
"Ckk... ya gak papa dong Mas," ucap Rara yang ikutan kesal.
"Oh iya, di dalam perut kakak ini ada dedek bayinya, tapi masih kecil," jelas Alden pada anak kecil tersebut.
"Sekecil apa, Om?"
"Sekecil upil," ucap Alden asal.
Anak kecil tersebut hanya mengangguk dan tersenyum.
Alden terlihat sangat suka bermain dengan anak kecil. Rara yang melihatnya tersentuh, ternyata suaminya sangat menyukai anak kecil, Rara yakin suaminya sangat menunggu kehadiran buah hati mereka. Awalnya Rara berpikir Alden tidak suka dengan anak kecil, tapi pemandangan di depannya membuat Rara yakin kalo Alden adalah pilihan yang terbaik.
"Nama kamu siapa?" tanya Alden sambil memangku anak kecil itu.
"Edgal! Nama aku Edgal! Teman-teman biasanya panggil aku Gal," ucapnya dengan cadel.
"Edgal?" tanya Alden memastikan.
"Ihh bukan Edgal Om, tapi Edgal!" ucapnya lagi.
"Iya, Edgal kan?" tanya Alden bingung.
"Ih ... Om!" Anak kecil itu justru kesal sendiri karna Alden yang tak memahami maksudnya.
Rara yang melihatnya hanya tertawa, apalagi saat melihat wajah bingung suaminya yang tak mengerti maksud anak kecil itu.
__ADS_1
"Mungkin maksudnya Edgar kali Mas," ucap Rara sambil terkekeh kecil.
"Oh ... jadi nama kamu Edgar?" ucap Alden baru mengerti.
"Iya ... nama aku itu Edgal! Bukan Edgal!"
"Astaga kamu cadel sih, jadinya kan Om gak paham," kekeh Alden.
Edgar hanya memanyunkan bibirnya layaknya seperti orang yang sedang kesal, hal itu tentu membuat Rara dan Alden semakin gemes.
Tak berselang lama, mama Edgar keluar dari ruang pemeriksaan, dia hanya tersenyum sopan, lalu mengajak Edgar pulang.
"Dadah Om, dadah Tante Tante," ucap Edgar mengejek Rara.
Rara yang mendengarnya sontak melotot menatap anak kecil tersebut, bisa-bisanya ia mengejek seperti itu, sedangkan Alden hanya terkekeh kecil saja.
"Ban*sat" umpat Rara kesal.
Rara dan Alden lalu menunggu giliran mereka untuk dipanggil.
"Kamu pengen punya anak cowok apa cewek Mas?" tanya Rara tiba-tiba.
"Bencong mungkin," jawab Alden asal.
"Sembarangan kamu Mas," ucap Rara kesal sambil memukul tangan suaminya dengan cukup keras.
Alden lalu menangkup wajah istrinya dengan penuh kasih sayang.
"Mau itu cowok ataupun cewek, Mas gak masalah kok sayang. Yang penting kamu dan anak kita sama-sama selamat," ucap Alden lembut.
"Kalo misalnya Rara enggak selamat gimana?" celetuk Rara.
"Ya Mas bakalan cari istri baru," ucap Alden asal.
"Ihh kok Mas jahat banget sih," ketus Rara kesal.
"Kamu juga nanya nya kayak gitu! Mas gak suka kamu ngomong kayak gitu!" balas Alden sedikit kesal.
"Maafin Rara Mas," ucap Rara sambil meremas jari-jarinya karna merasa sedikit takut dengan suaminya.
"Mas gak bermaksud marahin kamu sayang, Mas cuman gak suka kamu ngomong kayak gitu," ucap Alden lembut, lalu membawa istrinya kedalam dekapannya. Sedangkan Rara hanya mengangguk didalam dekapan suaminya.
Tak berselang lama, giliran Rara yang akan diperiksa. Alden tentu ikut masuk menemani istrinya.
Alden tersenyum senang saat sang Dokter mengatakan jika istrinya 'positif', Alden bahkan tak henti-hentinya bersyukur, karna jujur ia sudah lama mendambakan malaikat kecil di kehidupannya.
.
.
.
.
__ADS_1
Author
Huwaa, aku lagi ada di fase malas menulis, biasanya 1 hari aku bisa bikin 2-3 eps, tapi aku lagi malas banget sumpahh, cuman nyampe 1 eps doang.