
"Halo?" Dengan malas Alden menjawab panggilan tersebut.
"Hai No, udah lama kita nggak ketemu, ya?" sapa Ella di seberang sana.
"Ada apa?" Alden tak menanggapi ucapan Ella, karena merasa sedikit tidak penting.
"Eum ... kamu kan udah janji mau nganter aku ke rumah sakit, kamu mau kan?"
Alden terdiam, bingung ingin memberi respon seperti apa. Ia sudah berjanji pada istrinya untuk menjemputnya di taman.
"Gue nggak bisa El! Gue ada janji sama istri gue. Tapi lo tenang aja, gue bakal kirim uang buat biaya pengobatan lo nanti. Gue mohon jangan ganggu gue! Gue nggak mau bikin istri gue kecewa lagi." Persetan dengan perasaan Ella, sekarang yang Alden pedulikan hanya istri dan anak-anaknya saja. Laki-laki itu bahkan mengubah gaya bahasanya menjadi lo gue.
"Ma-maaf ka-karena udah ganggu kamu No. Kamu nggak perlu kok ngirim uang buat aku. Aku lebih baik gini aja, lagian udah nggak ada yang peduli sama aku." Terdengar isakan kecil dari seberang sana.
"El, aku nggak bermaksud gitu, tapi tolong kamu ngertiin aku! Aku udah punya keluarga, aku udah punya istri, dan sebentar lagi aku akan menjadi Ayah! Aku nggak mau bikin istriku kecewa, udah cukup aku buat dia nangis atas apa yang udah aku lakuin ke dia. Tolong kamu mengerti." Alden memelas, berharap Ella mengerti akan posisinya sekarang. Alden menjadi sangat bingung, ia sangat tau bagaimana sikap Ella. Wanita itu memang selalu merasa tidak enak jika menerima bantuan dari orang lain begitu saja. Tapi, tidak seperti ini yang Alden mau. Hubungannya dengan Rara baru saja membaik.
"Iy- shhh auhh!"
Prang
Tiba-tiba saja panggilan terputus, saat terdengar ringisan dari Ella, dan diikuti benda jatuh, yang Alden yakini handphone milik Ella.
Seketika Alden menjadi gelisah, takut terjadi sesuatu pada Ella, mengingat wanita itu memiliki penyakit yang sangat serius.
Tanpa basa-basi Alden lalu menyambar kunci mobilnya, berlari menuju parkiran, dan mengemudi mobil dengan kecepatan yang cukup tinggi. Laki-laki itu benar-benar merasa khawatir dengan Ella.
Tak berselang lama Alden sampai. Ia langsung berlari dan masuk ke dalam rumah Ella tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Dapat Alden lihat wanita itu yang terduduk di lantai dan tangannya bersandar di sofa, seolah menahan sakit .
"Kamu nggak apa-apa El?" tanya Alden yang langsung berlari menghampiri Ella.
"No ... ja-jangan tinggalin aku." Ella sontak memeluk tubuh Alden, lalu menangis dengan hebat di dalam dekapan laki-laki itu.
"S-sakit No," ringis Ella lagi.
Medengar Ella yang meringis, Alden lalu mengangkat wanita itu dengan gaya bridal style, lalu berjalan keluar, kemudian memasukkan wanita itu ke dalam mobil.
__ADS_1
"Aku akan antar kamu El! Bertahanlah!" Alden lalu mengemudi mobil dengan kecepatan sedang. Laki-laki itu lagi dan lagi melupakan istrinya yang justru sedang menunggunya.
"No, bisa buka jendela mobil di sampingmu?" tanya Ella dengan suara pelan.
Alden mengangguk, kemudian membuka jendela mobil di sampingnya, tidak ada kecurigaan sedikit pun dengan permintaan Ella yang sedikit aneh, bukannya wanita itu bisa membuka jendela yang ada di sampingnya sendiri?
Tapi siapa sangka jika ada seorang wanita yang melihat mobil Alden membawa wanita lain.
*******
Melihat seorang wanita yang sedang mereka awasi pingsan, beberapa orang ingin berlari dan membantu wanita itu. Tapi, setelah melihat ada seorang laki-laki yang diperkiraan seumuran wanita itu, para lelaki itu mengurungkan niat mereka, memilih untuk menangkap gambar wanita itu dengan seorang laki-laki asing tersebut.
Ketika melihat laki-laki itu sedikit kesusahan mengangkat tubuh Rara, beberapa laki-laki turun tangan untuk membantu, dengan menyamar sebagai warga biasa. Tuan mereka sudah mengatakan jika laki-laki itu baik, dan membiarkan laki-laki itu membawa Rara.
*******
"Eughh." Rara terbangun, matanya menatap heran ruangan asing yang sedang ia tempati saat ini.
"Di mana ini?" gumam Rara sambil memegang kepalanya, berusaha untuk mengingat kembali apa yang sudah terjadi dengan dirinya. Seketika ingatannya kembali pada kejadian siang tadi, di mana hujan turun dengan sangat lebat.
FLASH BACK
"Wanita ini ...." Rara tentu terkejut saat melihat posisi suaminya yang memeluk wanita lain, hingga senyum manis suaminya saat berada di sebuah warung.
"Kenapa?" tanya Mike mengerutkan keningnya.
"Wanita ini kok menghadap belakang semua? Ini nggak ada yang menghadap ke dapan apa? Mana jaraknya jauh lagi! Kan Rara nggak bisa lihat wajahnya!" ketus Rara kesal. Bagaimana mungkin orang kepercayaan papah mertunya bekerja dengan sangat buruk seperti ini.
"Ya mau bagaimana lagi, kebetulan saat itu posisi mereka berada di belakang Ella, sehingga mereka tidak mendapat foto Ella menghadap kamera. Mereka tidak bisa berpindah posisi begitu saja, Alden cukup jeli melihat keadaan sekitarnya. Papah takut jika Alden tau jika Papah sedang mengawasinya, situasi akan semakin rumit," jelas Alden sambil menatap menantunya.
"Tapi ini cukup jelas kok, ini emang Ella."
"Yaudah, lain kali ambil gambarnya dari depan, ya? Biar Rara bisa lihat wajah si Ella ini," pinta Rara.
Mike mengangguk, ia akan meminta anak buahnya untuk mengambil gambar Ella menghadap depan kamera.
__ADS_1
Kenapa gue seperti mengenali postur tubuh wanita ini? Apakah kami pernah bertemu?
FLASH BACK OFF
"Siapa sih lo? Kenapa gue seperti mengenali lo? Tapi di mana kita pernah bertemu?" Rara berusaha mengingat kembali apakah ia pernah bertemu atau tidak dengan mantan kekasih suaminya. Tapi, semakin Rara mengingatnya, ia justru semakin pusing, terlalu banyak orang-orang yang pernah ia temui sehingga membuat ia tidak ingat sama sekali.
Rara lalu teringat jika ia pingsan saat itu, dan ketika ia memegang keningnya, ternyata ada perban, apakah keningnya berdarah saat itu? Mungkin saja, mengingat kursi tersebut tidak terbuat dari kayu, melainkan dari besi. Tapi, siapa yang sudah mengantar ia ke rumah sakit? Apakah orang itu sanggup mengangkat, sedangkan tubuhnya benar-benar berat. Tapi Rara tidak ambil pusing, yang terpenting bayi-bayi yang ada di kandungannya selamat.
Rara teringat dengan suaminya yang justru bersama wanita lain. Di saat ia sedang menunggunya dan yakin jika laki-laki itu pasti menjemputnya, laki-laki itu justru membawa wanita lain. Rara hanya tersenyum kecut, ternyata suaminya masih terikat dengan masa lalunya, hanya saja dengan alasan kasihan.
"Maafin Mommy ya karena udah terlalu bodoh sampai tetap diam di sana dengan hujan yang lebat. Maafin Mommy yang lupa jika ada kalian. Maafin Mommy yang udah buat kalian kedinginan." Rara merasa bersalah karena mau saja tetap diam di taman, padahal sedang hujan.
Rara lalu mengambil handphone miliknya. Untung handphonenya anti air sehingga tidak rusak terkena hujan tadi siang.
Rara dapat melihat pesan yang dikirim suaminya.
[Sayang, Mas minta maaf. Mas nggak bisa temanin kamu hari ini, soalnya Mas ada meeting mendadak yang nggak bisa dicancel .]
Rara tersenyum kecut membacanya, ternyata suaminya kembali berbohong dengan alasan pekerjaan. Alasan yang sama seperti yang sebelumnya. Rara tidak membalas, memilih untuk mematikan ponselnya, karena tidak mau Alden tau keberadaannya. Rara akan memberikan sedikit pelajaran pada suaminya itu, dengan tidak memberi kabar akan dirinya.
Ceklek
Tiba-tiba pintu dibuka dari luar, lalu muncullah laki-laki tampan yang tersenyum tipis ke arah Rara.
"Lo udah bangun?" tanya laki-laki itu lembut.
"Reza?"
.
.
.
.
__ADS_1