
Saat ini di rumah Kendra sedang sibuk karena kondisi Amanda yang akan melahirkan.
Semua anggota keluarga berkumpul di L hospital untuk menyambut kedatangan anggota keluarga baru mereka.
Amanda yang sedang mengalami kontraksi membuat Kendra begitu panik.
"Bie, sakit banget..." Amanda terlihat begitu kesakitan.
"Dok, istri saya kesakitan. Cepat lakukan sesuatu atau Saya akan pecat kalian semua"
"Maaf Tuan, Kita hanya perlu menunggu pembukaan lengkap. Tidak ada obat apapun yang bisa kami berikan untuk meredakan rasa sakitnya" Dokter Seni dengan sabar menghadapi teriakan Kendra.
"Sayang, Aku mohon. Kita lakukan tindakan Caesar ya?" Kendra kembali membujuk Amanda. Dia benar-benar tidak tahan melihat istrinya kesakitan.
"Bie, Aku mohon. Suport Aku" Amanda menggenggam tangan Kendra.
"Baiklah Sayang" Kendra mengecupi tangan Amanda.
Keluarga sudah sangat khawatir karena sudah hampir seharian mereka di rumah sakit dan Amanda masih belum melahirkan.
Dokter Mila menghampiri keluarga dan memanggil Kendra ke ruangannya.
"Maafkan Saya Tuan, tapi kita harus segera memberikan tindakan kepada Nyonya Amanda. Saya hawatir kepada bayi yang ada di dalam kandungan Nyonya Amanda, kita semakin menjauh dari HPL"
__ADS_1
Kendra benar-benar merasa hawatir "Baik Dok, lakukan yang terbaik untuk istri saya"
Tak lama kemudian Amanda dibawa ke ruangan operasi.
"Maafkan Aku Sayang, Aku melakukan yang terbaik untuk kalian" Kendra mengecupi bagian kepala Amanda.
"Aku tau Bie, Kamu melakukan hal yang benar" Amanda berusaha menutupi ketakutannya. Amanda sangat takut ketika mendengar dirinya harus melakukan operasi caesar. Ibunya meninggal saat melahirkan dirinya.
"Aku boleh minta sesuatu Bie?" Amanda menggenggam tangan Kendra.
"Kenapa Sayang? Apapun akan Aku berikan"
"Aku titip Cla ya Bie" air mata Amanda lolos begitu saja dari sudut matanya.
Dokter membawa Amanda ke ruang operasi, Kendra menunggunya di luar. Kendra tidak diperbolehkan masuk ruangan operasi oleh Amanda.
Dia tidak ingin Kendra melihat perjuangannya melahirkan secara caesar.
Sudah hampir satu jam namun belum ada kabar dari dokter maupun perawat. Kendra terlihat gelisah.
"Tenanglah nak, Amanda akan baik-baik saja" Ibu mengusap kepala anak semata wayangnya itu.
Kendra kembali meneteskan air matanya, "Aku benar-benar takut bu" Kendra memeluk tubuh Ibunya. Dia jadi teringat akan perjuangan ibunya saat melahirkan dirinya.
__ADS_1
Ayah bilang kalau Ibu melahirkan Kendra dengan operasi caesar juga.
Terdengar suara bayi kaluar dari ruangan operasi. "Tuan Kendra silahkan ikuti Kami ke ruangan bayi"
Kendra mengikuti dokter Anak yang diketahui bernama Lauren tersebut.
"Selamat ya Tuan Kendra, Anak Anda lahir dengan sempurna. Sesuai prediksi, kedua anak Anda berjenis kelamin laki-laki"
"Terimakasih dok" Kendra mendekati dua keranjang bayi yang diletakkan berdampingan. Ditatapnya kedua bayi tersebut. Air mata kembali menetes dari kedua sudut matanya. "Lalu bagaimana dengan istri Saya?"
"Untuk kondisi Nyonya Amanda, Saya tidak berhak menyampaikannya. Semoga operasinya segera selesai dengan lancar"
"Baik dok terimakasih"
Kendra kembali ke ruang operasi, lampu emergency terlihat padam yang menandakan operasi sudah selesai.
Doker Mila menghampiri Kendra dan memintanya untuk mengikutinya menemui Amanda.
"Operasi berjalan dengan lancar."
Kendra tersenyum senang, dia mengucapkan terimakasih kepada Dokter Mila.
"Tetapi..."
__ADS_1
"Tetapi kenapa Dok?" wajah Kendra terlihat pucat