
"Felix...???"
"Selamat yaa Kak. Semoga lancar sampai pernikahan nanti"
"Makasih bro... Gue kira lo udah balik ke London"
"Nggak Kak, kayanya Gue betah disini deh" Felix melirik Bianca. Bianca hanya menundukkan kepalanya.
"Oh ya boleh Saya bergabung Nona Bianca?"
"Silahkan Tuan"
Felix duduk di samping Bianca. "Jadi lo beneran mau nikah sama adiknya Nona Bianca Kak?"
"Iya, Gue jadi adik iparnya Bianca sekarang. Oh iya kenalkan ini Ibunya Bianca dan Vita"
Felix meraih tangan Ibu dan menciumnya "Salam kenal Tante"
"Panggil Ibu saja nak..."
"Felix bu" Felix tersenyum ramah.
"Oh iya nak Felix. Jadi kalian saling kenal?"
__ADS_1
"Dia sepupu Saya Bu, sejak kuliah dia sudah menetap di London. Baru kali ini dia kembali"
"Oh begitu toh" Ibu menganggukkan kepalanya.
"Dan Saya juga mengenal putri Ibu yang ini" Felix tersenyum melihat Bianca. Bianca hanya menundukkan kepalanya dengan pipi yang bersemu merah. Ziano yang melihat itu hanya tersenyum, dia sangat tahu sifat Vita dan mungkin Bianca pun memiliki sifat yang sama.
"Bu, ikutlah denganku untuk menemui Vita. Bujuk Aku untuk segera menikah dengannya. Sepertinya dia masih tidak percaya kalau Aku ingin segera menikahinya" Ziano memasang wajah memelas sehingga Ibu tidak tega untuk menolaknya.
"Baiklah, Ibu akan berbicara kepadanya. Kenapa anak itu? Seharusnya dia senang kalau Nak Ziano ingin segera menikahinya. Apalagi kalian sudah lama saling mengenal" Ibu terus mengomel sambil beranjak untuk berdiri. "Nduk, Kamu disini saja dulu ya, nanti Ibu akan kembali menemui mu" Ibu mengusap kepala Bianca.
"Ba...Baik Bu" Bianca mengusap lengan Ibu.
"Oh ya Felix, Gue rasa kalian harus menyelesaikan pekerjaan lo yang belum selesai" Ziano mengerlingkan matanya.
Ziano dan Ibu pergi meninggalkan mereka berdua.
"Maaf Tuan, kalau untuk membahas pekerjaan sepertinya Saya belum siap. Saya tidak membawa apapun hari ini" Bianca menatap Felix.
"Oh begitu ya Nona Bianca. Tapi sepertinya Anda membawa apa yang Saya butuhkan" Felix tersenyum melihat Bianca.
"Yang Anda butuhkan? Maksud Anda Tuan"
"Hatimu. Aku membutuhkan hatimu untuk melengkapi kekosongan di hatiku Nona Bianca. Maukah Anda mengisi kekosongan ini?"
__ADS_1
Bianca menutup mulutnya tak percaya, selama ini mereka memang sering berkomunikasi bahkan pergi berdua, namun selalu ada bisnis diantara mereka. Dan saat ini Felix benar-benar membuat Bianca terkejut.
"Ma...Maksud Anda Tuan?"
"Aku nyaman bersamamu Bianca, dan Aku rasa Kamu juga merasa nyaman saat bersama ku. Jika kita sudah sama-sama merasa nyaman, tidak ada salahnya kalau Aku ingin memiliki hubungan yang lebih dari sekedar rekan bisnis. Aku ingin Kamu mejadi pendamping hidupku Bianca"
Bianca menatap Felix tak percaya, cairan bening lolos begitu saja di pipinya. "Anda tidak sedang bercanda Tuan?"
"Aku mencintaimu Nona Bianca"
"Tuan... Benarkah?"
"Benar, Aku mencintaimu. Aku mencintaimu Nona..."
Bruk... Bianca memeluk Felix dengan tangis haru. "Aku juga mencintaimu Tuan Felix"
Felix membalas pelukan Bianca, mereka benar-benar merasa bahagia karena cinta mereka saling membalas.
"Terimakasih Nona Bianca" Felik mengecup kening Bianca dan mengusap pipinya yang dipenuhi air mata.
"Sebaiknya kita berbicara kepada Ibu mu kalau Aku ingin segera menikahi putrinya yang lainnya"
Prok...Prok...Prok...
__ADS_1
Tiba-tiba semua orang memberikan tepuk tangan kepada mereka berdua. Bianca begitu terkejut, namun tidak dengan Felix. Felix yakin kalau Ziano tau betul apa yang diinginkan Felix.