
Pagi hari Ziano menemui salah satu orang yang bertanggung jawab di sekitar rumahnya. "Saya akan kembali ke Indonesia. Saya ingin rumah ini dijadikan untuk tempat bermain anak-anak dan mungkin suatu hari nanti Kami akan berkunjung" Ziano pun memberitahukan berita kehamilan Vita. Semua orang turut berbahagia dan mengucapkan selamat. Vita begitu senang karena dikelilingi orang-orang yang tulus menyayanginya.
"Maka dari itu, Kami pamit" Ziano dan Vita pergi meninggalkan pedesaan yang sangat nyaman itu. Vita pergi dengan berat hati, namun dia harus kembali ke rumahnya mengingat dirinya sedang hamil dan Ziano terlalu lama meninggalkan perusahaan.
"Mas, sepertinya aku cocok dengan suasana seperti ini" Vita duduk di dalam mobil dengan menyandarkan badannya di tubuh Ziano. Ziano mengelus kepala Vita dengan penuh cinta.
"Apa perlu Kita pindah ke pedesaan seperti itu?"
"Tidak Mas, tempat kerja mu di Kota."
"Kalau begitu Kita akan membeli sebuah Vila sederhana di tengan pedesaan. Bagaimana?"
"Mas, Kamu ini gimana sih? Mana ada Vila di tengah pedesaan"
"Kalau begitu Kita buat saja"
Vita mencubit perut Ziano, "Dasar orang kaya"
Ziano tertawa melihat istrinya yang mendumal.
Sesampainya di rumah Bianca, Vita disambut dengan penuh kebahagiaan. Vita memutuskan untuk beristirahat dulu karena Ziano meminta jet pribadinya untuk menjemput sehingga membutuhkan waktu cukup lama.
__ADS_1
"Jangan terlalu capek sayang, lebih baik Kamu istirahat dulu di kamar"
"Sejak tau hamil, dia jadi kuat. Bahkan tidak cukup satu kali" Ziano menghampiri Vita dan mencium keningnya. Pipi Vita seketika memerah, "Ih apaan sih Mas. Anakmu yang manja, pengennya dilongok terus" Vita mencubit lengan Ziano.
Bianc hanya tertawa melihat Vita yang masih terlihat polos itu.
"Itu namanya hormon ibu hamil"
"Bianca pun seperti itu. Bahkan menurutku dia lebih ekstrem. Masa ketika Kami selesai meeting dia mengajakku ke kamar hotel" Felix tertawa, namun Bianca memelototinya.
"Tapi dia seneng" Bianca mencubit lengan Felix.
"Siapa yang nggak seneng diajak istri sendiri" Felix hanya nyengir saat melihat Bianca yang menatapnya dengan tajam.
"Kamu hobinya langsung melakukan itu kan ya?" Ziano mengusili Vita.
"Aku mau tidur" Vita meninggalkan Ziano dan dengan secepat kilat Ziano menyusul Vita.
Felix dan Bianca hanya tertawa melihat tingkah mereka.
Malam hari Ziano dan Vita berangkat menggunakan pesawat pribadinya.
__ADS_1
"Janji ya nanti setelah lahiran temui Aku dan Ibu"
"Iya sayang, salam untuk Ibu ya. Maaf Aku belum bisa menemuinya. Dan doakan semoga persalinanku lancar" Vita dan Bianca pun saling berpelukan.
Selama perjalanan Vita terlihat kelelahan.
"Kenapa sayang?"
"Badanku pegal sekali Mas"
"Kemari, biar aku pijat" dengan senang hati Ziano memijat bagian punggung Vita. Namun tiba-tiba "Hoeeekkk... Hoeeekkkk..." Ziano mengeluarkan seluruh isi perutnya.
"Loh Mas? Kenapa?" Vita menyusul Ziano yang tiba-tiba lari ke kamar mandi.
Vita memberikan minyak angin di punggung Ziano, namun "Yank, bau banget. Jauhkan benda itu dariku. Hoeekkk hoeeekkk"
Vita kebingungan lalu melempar minyak angin tersebut. "Mas, nggak mungkin kan Kamu mabuk perjalanan? Atau mungkin... Kamu ngidam Mas?"
Ziano berpikir sejenak, "Ngidam? Apa itu?"
"Biasanya Ibu hamil mengalami perubahan hormon salah satunya terjadi mual muntah Mas, itu biasa terjadi pada Ibu hamil. Dan sepertinya dikehamilan ku saat ini, Kamu yang mengalami itu"
__ADS_1
Ziano memeluk Vita dengan penuh cinta, "Aku bersyukur karena Aku yang mengalami hal ini. Aku tidak akan kuat kalau melihatmu seperti itu. Aku ikhlas menggantikannya untukmu, untuk anak-anak Kita" Ziano mengecup perut Vita.