
Amanda kembali menitikkan air matanya "Kak, apa secepat ini ?"
"Ini tidak terlalu cepat Amanda, sudah lama aku ingin membahagiakanmu"
Amanda langsung menghambur ke pelukan Kendra dan menangis "Terimakasih Kak" Kendra memeluk erat tubuh Amanda yang bergetar "Jangan menangis lagi"
"Aku mau Kak, Aku mau" Amanda menatap Kendra dengan air mata di pipinya. Kendra kembali memeluk Amanda, mencium keningnya dengan penuh kasih sayang.
"Terimakasih"
Mereka melanjutkan makan malam dengan perasaan yang berbunga.
***
__ADS_1
Esok hari Meri dan Selly sudah kompak menunggu kedatangan Amanda. "Tumben dia belum datang, biasanya kan sampai duluan"
Amanda datang dengan sedikit tergesa-gesa. "Kenapa baru datang Amanda ?" Selly menghampirinya. "Aku tidur larut semalam, jadi bangun kesiangan" Meri dan Selly terkejut.
"Kencan yaa ? Cieee..." Selly menyenggol tubuh Amanda. Amanda refleks memegang meja untuk menahan tubuhnya. "Wah ada cincin... Itu pasti cincin mahal. Siapa calonmu Amanda ? Kenapa tidak memberitahu kami ?" Meri meraih tangan Amanda dan membolak-balikan tangannya untuk memastika kalau cincin itu asli dan baru.
"Nan..Nanti aku kenalkan, tapi nggak sekarang"
"Kenapa ? Kamu pasti takut kami merebutnya darimu ya ?" Selly dan Meri tertawa meledek Amanda. Amanda sudah terlihat memerah.
Waktu sudah menunjukkan jam kerja, Kendra seperti biasa berkeliling kantor untuk memastikan tidak ada keterlambatan pada karyawannya. Tiba di ruangan Amanda, Kendra tersenyum senang ketika melihat pujaan hatinya. Berbeda dengan Amanda, dia terlihat salah tingkah, hatinya berdebar tak karuan. Amanda berusaha untuk mengabaikan Kendra namun hatinya tidak bisa dibohongi. Meri dan Selly yang melihat hanya tersenyum dengan saling memberikan kode.
Setelah beberapa menit, Kendra meninggalkan ruangan tersebut.
__ADS_1
Selly berbalik melihat Amanda "Manda, kamu lihat Pak Kendra ? Kenapa dia sangat tampan ya ?" wajah Amanda memerah
"Benar, dia laki-laki idaman. Apa dia masih jomblo ya ?" Meri menimpali.
"Sepertinya dia masih jomblo deh Mer, dia belum pernah mengenalkan wanita manapun" Selly mengedipkan matanya
"Ah iya benar, kalau begitu bagaimana kalau kita taruhan. Kita akan sama-sama mendekati Pak Kendra, siapa yang berhasil maka dia boleh meminta satu permintaan"
"Ayo, sudah dapat laki-laki tampan, kaya, eh dapat dorprise juga, siapa yang nggak mau ? Oh babang Kendra" Selly tampak bersemangat.
"Apaan sih kalian, nggak baik memperlakukan orang seperti itu. Lagian siapa bilang dia masih jomblo ?" Amanda terlihat sewot. "Sejak kapan kalian memperhatikan Pak Kendra ?"
Meri dan Selly tersenyum puas "Memangnya kenapa ? Dia tidak pernah memperkenalkan wanita manapun. Jadi hak kita dong untuk berebut menaklukannya" Meri tersenyum nakal. "Apa kamu bisa bayangkan, Pak Kendra laki-laki orsinil, tidak ada wanita manapun yang pernah menyentuhnya. Kalau kamu mendapatkannya maka kamu perempuan pertama yang bisa menyentuhnya. Kamu bisa bayangkan bagaimana tubuhnya yang atletis, pasti sangat menggoda." Meri meneruskan pendapatnya.
__ADS_1
"Sepertinya aku wanita pertama yang akan menyentuh dada bidangnya itu, membayangkannya saja sudah membuatku bahagia" Selly menambahkan. Amanda semakin kesal mendengar celotehan teman-temannya. Dia pergi begitu saja tanpa permisi kepada teman-temannya. Sepeninggalan Amanda, Meri dan Selly tertawa senang "Dia pasti akan mendatangi Pak Kendra, hahaha" mereka tertawa puas karena rencananya untuk menggoda Amanda berhasil.
Amanda memasuki ruangan Kendra tanpa mengetuk pintu, "Kenapa kamu mendatangi ruangan karyawan setiap pagi ?" Kendra terkejut ketika melihat Amanda.