
Ziano dan Vita sedang diperjalanan menuju rumah mereka.
"Aku benar-benar bahagia, terimakasih Sayang" Ziano tidak henti-hentinya menciumi tangan Vita.
"Iya Mas, ternyata Kita masih diberi kepercayaan untuk mempunyai anak. Aku harus memberitahukan Ibu dan Kak Bica"
"Iya Sayang, kalau perlu beritahu seluruh dunia kalau Aku akan menjadi seorang Ayah" mata Ziano berbinar penuh bahagia.
"Aku mencintaimu. Aku mencintaimu sayang" Ziano kembali menciumi tangan Vita.
"Mas, fokus lah menyetir. Aku masih ingin bertemu anak-anak Kita"
"Iya baiklah Sayang, Aku akan fokus" Ziano tersenyum bahagia. Vita yang melihat kebahagiaan itu sangat bersyukur. Ini adalah kali pertama Vita melihat Ziano bahagia seperti ini.
"Terimakasih Engkau sudah memberikan kebahagiaan ini" Vita bergumam dan mengusap perutnya.
"Tumbuhlah dengan baik anak-anakku. Untuk kalian dan untuk kebahagiaan Daddy Kalian, Mommy akan menjaga Kalian dengan sangat baik" Tanpa terasa air mata membasahi pipi Vita.
Sesampainya di depan rumah, "Hati-hati Sayang, awas ada batu" Ziano memindahkan kerikil yang menghalangi jalan Vita dengan tangan yang tetap menuntun Vita. Vita hanya tertawa melihat tingkah Ziano.
"Mas, Aku baik-baik saja"
"Aku tidak ingin Kamu kenapa-kenapa sayang. Apa perlu Aku menggendongmu?" Ziano hendak menggendong Vita namun terhenti ketika sekelompok Anak menghampiri mereka.
"Kak Vita, Kamu baik-baik saja?"
"Tentu sayang, Aku baik-baik saja"
"Tapi tadi Kami melihat Kak Vita pingsan. Bahkan Bibi Shiira membawa Kak Vita ke rumah sakit Kota."
__ADS_1
"Kami juga melihat Kak Ziano menuntun Kak Vita" Anak-anak dengan tidak sabar mengintrogasi Vita.
"Aku baik-baik saja, mungkin tadi Aku kelelahan" Vita tersenyum lembut kepada anak-anak itu.
"Maafkan Kami karena membuat Kak Vita kelelahan" anak-anak itu memeluk Vita dengan bersamaan sehingga membuat Ziano tersingkir. Ziano hendak meraih Vita kembali namun Vita menahannya dengan senyuman. Akhirnya Ziano pun mengalah dan menarik napas panjang.
***
"Kamu sudah memberitahu Ibu dan Bianca?"
"Aku lupa Mas, Vita mengambil ponselnya dan menelpon mereka secara bersamaan"
Ibu dan Bianca sangat bahagia saat mengetahui Vita mengandung tiga bayi kembar.
"Maafkan Aku tidak bisa menemui mu. Akhir-akhir ini perutku sering mengalami keram. Mungkin karena perutku yang semakin besar"
"Tidak apa-apa Kak, besok Kami akan mampir sebelum Kami berangkat ke Indonesia"
"Kami sudah hampir satu tahun disini Kak"
"Kalau begitu hati-hati ya"
Vita menutup telpon dan kembali memeluk Ziano.
"Ini benar-benar seperti mimpi Mas"
"Iya, terimakasih Sayang. Aku benar-benar bahagia" Ziano mencium bibir Vita hingga ciuman itu memanas. Mereka sudah benar-benar dipenuhi kabut asmara. Ziano segera menghentikan aksinya.
"Aku lupa... Seharusnya tadi Aku menanyakan hal ini kepada dokter"
__ADS_1
Napas mereka terengah-engah. Ziano mengusap wajah Vita yang memerah. "Wajahmu merah sekali sayang, kenapa?" Vita hanya menundukkan kepalanya. "Aku... Aku menginginkannya Mas" blush... bukan hanya wajah Vita yang memerah, namun Ziano juga.
"Benarkah, kalau begitu Aku akan melakukannya dengan sangat hati-hati"
Ziano melakukan semuanya dengan sangat hati-hati. Ziano menutupi tubuh polos Vita dengan selimut yang sangat tebal. "Panas Mas..." Vita mengeluh.
"Sebentar, Aku matikan dulu AC nya. Aku tidak ingin Kamu masuk angin" Ziano mematika AC dan melanjutkan aksinya. Ziano sempat menghentikan aksinya ketika melihat Vita yang mulai kelelahan. Namun tak lama kemudian dia melanjutkan aksinya. Vita hanya pasrah saja dengan segala perlakuan Ziano, mengingat suaminya tidak mudah mencapai puncak kenikmatan itu.
Setelah tengah malam, Ziano mengakhiri ritualnya dengan mengeluarkan seluruh kenikmatan pada tubuh Vita. Keduanya terengah-engah dengan tubuh yang masih saling menempel.
"Maafkan Aku membuatmu kelelahan" Ziano mengusap keringat di sekitar wajah Vita.
"Tidak Mas, tidak usah minta maaf. Aku menyukainya" wajah Vita kembali memerah.
Ziano menyentuh wajah Vita, "Sayang, jangan bilang Kamu menginginkannya lagi?"
Vita menyelusupkan wajahnya pada badan Ziano "Tapi Aku menyukainya Mas" dan benar saja bagian-bagian sensitif dari tubuh Vita kembali menegang. Bahkan bagian milik Ziano dihimpit dengan ketat oleh milik Vita.
"Arrrgghh Sayang, milikmu masih begitu sempit"
Vita hanya melenguh dan mengerang saat dirinya mencapai puncak kenikmatan. Entah sudah keberapa kali Vita mencapainya. Namun dia merasa ingin lagi dan lagi.
"Sepertinya ini terjadi karena hormon kehamilan Mas" Vita kembali mengelus dada Ziano dan membuat Ziano kembali bergairah.
"Aku akan mengabulkannya" dan entah keberapa kali Mereka kembali menyatukan tubuh Mereka.
***
Masih belum end yaa Kakak Zheyeeeng
__ADS_1
But slow Up 🤗🤗