Istri Ceo

Istri Ceo
Isi Hati


__ADS_3

"Terimakasih... Terimakasih Vita. Aku laki-laki paling beruntung di dunia ini" Ziano mengeratkan pelukannya.


"Dan Aku wanita paling beruntung di dunia, seorang pengasuh mendapatkan hati seorang big boss" Vita dan Ziano tertawa bersama. Rasanya tidak ada yang mengganjal lagi di hati mereka.


Ziano memutuskan untuk membawa Vita makan malam di sebuah restoran. Namun Vita menolak, Vita mengajak Ziano berkuliner di sekitar taman.


"Kamu yakin makan disini?"


"Iya yakin, coba deh. Nanti Kamu pasti ketagihan"


Vita memesan dua mangkok mie instan full dengan toping sayur dan bakso.


Mie instan sudah berada di tangan mereka, "Ayo cobain"


"Aku bukannya ngga suka mie instan, tapi..."


"Kebersihannya terjamin ko, nih cobain" Vita menyodorkan sesendok mie kepada Ziano, dengan ragu Ziano membuka mulutnya.


"Gimana? Enakkan?"


"Hmm lumayan, ternyata jajanan pinggir taman seenak ini" Ziano mengunyah mie dan mulai menikmati mie miliknya.


"Aku sering makan seperti ini ketika sedang berkuliah" Vita menatap Ziano yang sedang menikmati mie di tangannya.


"Hati-hati makannya, tadi bilang ngga mau. Sekarang udh mau habis aja" Vita tertawa melihat Ziano yang sangat menikmati malam ini.


"Kalau Kamu tertawa terus, Aku makan mie punyamu"


"Eh beneran mau?"


Ziano tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Ya udah nih habiskan" Vita begitu bahagia karena menemukan sisi lain Ziano. Ziani yabg dulu terlihat angkuh dan pemarah, ternyata memiliki hati yang lembut dan tidak memandang kasta.


"Sudah malam, pulang yu" Vita melihat jam di tangannya menunjukkan pukul sepuluh malam.

__ADS_1


"Besok pagi Aku jemput Kamu ya"


"Loh bukannya Aku udah dipecat?" Vita memicingkan matanya.


"Iya, lalu siapa yang akan menyuruhmu mengasuh Kevin?"


"Lalu?"


"Temani Aku, besok Kita akan membeli cincin untuk acara lamaran"


Vita membelalakkan matanya, "La...Lamaran?"


"Iya, Kamu mau kan?"


"Secepat ini?"


"Jadi, Kamu tidak setuju secepat ini?" Ziano terlihat kecewa.


"Tidak tidak, apa Kamu benar-benar yakin kepadaku?"


"Sangat yakin, Aku tidak ingin membuatmu menunggu kembali" Ziano menggenggam tangan Vita.


"Jangan menangis lagi, Aku mohon. Aku tidak ingin melihat air matamu"


"Tapi ini tangisan bahagia" Vita merenggangkan pelukannya.


"Air matamu sangat berharga bagiku, air mata ini tidak sebanding dengan apa yang Aku berikan saat ini" Vita kembali memeluk Ziano dan semakin menangis.


Ziano mengantarkan Vita pulang, di sepanjang perjalanan Ziano terlihat bahagia begitupun Vita, tangan mereka saling bertautan.


"Jangan tinggalkan Aku" Ziano mengecup jari tangan Vita.


"Iya, memangnya Aku akan meninggalkanmu kemana? Kamu pasti akan dengan mudah mencariku" Vita terkekeh melihat Ziano yang terlihat kesal.


"Tidak romantis"

__ADS_1


"Aku kira big boss ku tidak bisa gombal"


"Aku tidak gombal, Aku hanya mencoba mencurahkan isi hatiku" Ziano kembali mencium tangan Vita dengan mata yang masih fokus melihat jalanan.


"Terimakasih karena sudah memilihku" Vita menatap Ziano.


"Tidak tidak, Kamu yang memilihku. Aku yang berterimakasih kepadamu"


"Iya iya, Aku pilih Kamu, dan Kamu pilih Aku. Adil kan?"


Ziano tersenyum menatap Vita, "Tidak salah Aku memberikan hatiku untukmu" pipi Vita terlihat memerah, dia tersenyum mendengar kata-kata Ziano.


"Aku suka melihatmu memerah seperti ini, bahkan sejak pertama melihatnya Aku langsung menyukainya"


Mobil Ziano memasuki area parkir rumah Bianca.


"Maksudmu? Sejak???"


"Aku tidak tau sejak kapan itu, tapi Aku mencintaimu Vita"


"Aku... Aku juga mencintaimu... Mas"


Ziano mengalihkan padangannya, "Katakan sekali lagi"


Vita hanya tertunduk malu, menyembunyikan wajahnya yang memerah.


"Aku menyukai panggilan itu, katakan sekali lagi" Ziano kini duduk menghadap Vita. Vita menaikkan pandangannya "Aku mencintaimu Mas"


Ziano memeluk tubub Vita, kemudian tubuh mereka merenggang. Dengan perlahan Ziano mengelus rabut Vita, mengalus pipi dan berakhir pada bibirnya yang tipis dan terlihat merah. Ziano begitu menginginkan bibir itu.


Dengan perlahan wajah Ziano mendekati Vita, jarak mereka hanya beberapa senti. Vita memejamkan matanya dan Ziano memegang tengkuk Vita.


Ceklek... Pintu rumah terbuka.


Ziano langsung menjauhkan tubuhnya, "Se...Sepertinya Kita harus mempercepat pernikahan ini"

__ADS_1


"Hah...?"


"Besok Aku akan langsung melamarmu sayang"


__ADS_2