
Vita kembali ke ruangan Ziano, dia mencari keberadaan suaminya itu.
"Mas... Kamu dimana?"
Vita membuka toilet, mencari ke arah pantry, namun Ziano tetap tidak ditemukan.
"Tidak mungkin dia keluar tanpa memberitahuku" Vita mencari ke ruangan pribadi Ziano, lebih tepatnya kamar minimalis yang ada di ruangan yang sangat luas itu.
"Mas, apa Kamu di dalam?"
Vita membukanya namun disana sangat gelap. Vita mencoba mencari tombol untuk menyalakan lampu. Dia meraba bagian dinding hingga akhirnya tubuhnya membentur sebuah ranjang. Vita tidak setabil hingga tubuhnya menindih seseorang dan seseorang itu memeluknya dengan sangat erat.
"Aaarrrgh... Tolong, tolong Aku" Vita menjerit dan meronta saat orang itu semakin memeluknya.
"Mas tolong Aku, lepaskaaaan..." tiba-tiba tangannya di pegang dan dirahkan kepada wajah orang tersebut. Vita mulai meraba wajah tersebut dan memeluknya. "Kamu menakutiku"
"Tidak akan ada yang berani menyakitimu Sayang"
"Tapi Kamu mengejutkanku Mas"
Ziano menyalakan lampu kamar tersebut, dilihatnya Vita sangat ketakutan dengan air mata yang berhamburan.
"Sayang, Kamu menangis? Maafkan Aku sayang, Aku tidak bermaksud menakutimu. Aku hanya lelah dan ingin membaringkan tubuhku. Aku tertidur dan tidak menyadari kalau Kamu mencariku. Maafkan Aku sayang"
"Lalu kenapa Kamu langsung memelukku seperti itu?"
__ADS_1
"Aku sedang tertidur dan tiba-tiba Kamu menindihku Sayang. Maafkan Aku"
"Sebegitu yakin kalau itu Aku? Bagaimana kalau itu orang lain Mas?" Vita terlihat cemberut
"Aku sudah sangat mengenalmu Sayang, Aku sudah melihat dan menghapal seluruh bagian tubuhmu. Bahkan jika dinding memisahkan kita"
"Benarkah?"
"Kau meragukanku?"
"Tentu saja tidak Mas"
"Oh iya Kamu bilang Kita harus profesional, sekarang lakukan tugasmu"
"Tapi ini kantor kan Mas?"
"Tapi Aku berani"
"Kalau begitu lakukan tugasmu" Ziano merebahkan tubuhnya di atas kasur. Vita kebingungan dengannya, apa yang harus dilakukannya.
"Bagaimana Mas?"
"Lakukan apa yang Kau mau, dan penuhi yang Aku mau"
Jantung Vita semakin berdebar saat melihat dada bidang suaminya, menurutnya itu adalah tempat ternyaman yang ia temukan. Vita tidak bisa menolak saat melihat dada bidang milik Ziano, dia selalu inging memeluknya.
__ADS_1
Setelah berpikir panjang, Vita memeluk tubuh Ziano dan menyelusupkan kepalanya ke dada milik Ziano. Ziano hanya diam saat Vita mulai mengenduskan hidungnya.
Perlahan Vita membuka kancing kemeja milik Ziano, Vita meraba bagian favoritnya itu. Vita mulai memberikan beberapa ciuman kemudian membuka seluruh kemeja milik Ziano. Ziano yang sudah tak sabat mulai mengambil alih, seperti biasa dia lebih aktif dibandingkan Vita. Vita hanya pasrah saja saat Ziano mulai menjamahnya. Vita benar-benar melakukan tugasnya untuk memuaskan Ziano.
Seperti biasa, Ziano tidak puas dengan satu kali. Ketika energi Ziano kembali stabil tiba-tiba dia mendengar suara pintu diketuk. Vita dengan refleks kembali mengambil seluruh pakaiannya. Namun Ziano menghentikannya.
"Tunggu disini, biar Aku yang membukanya"
"Tapi Mas?"
"Istirahat dulu sayang" Ziano mengecup kening Vita. Vita hanya menganggukkan kepalanya.
"Siapa Mas?" Vita menghampiri Ziano saat dia yakin kalau tidak ada orang lain selain suaminya di dalam ruangan itu.
"HRD, dia sudah menemukan orang yang tepat untuk menjadi sekretarisku"
"Syukurlah, tapi apa Kamu yakin kalau dia sudah memenuhi kriteria yang Aku berikan?"
"Kalau tidak memenuhi, Kamu bisa memecatnya Sayang" Ziano memeluk tubuh Vita.
"Ih Mas, Aku nggak suka loh pas Kamu pecat orang seenaknya. Mereka itu tulang punggung keluarga, ketika Kamu memecatnya bayangkan berapa orang yang kehilangan rezekinya?"
Ziano terdiam, "Baiklah Sayang, maafkan Aku"
***
__ADS_1
Maaf kalau agak telat dan kadang nanggung, perlu review oleh pihak mangatoon sebelum karya itu di upload.