Istri Ceo

Istri Ceo
Masa Lalu Luna


__ADS_3

Pagi hari Nathar dan Flo bertemu kembali di lobby. Flo menatap Nathar dengan sinis.


"Kenapa?"


"Tidak." Flo memalingkan wajahnya.


"Apa begitu cara mu menyapa ku?"


"Selamat pagi. Tuan mesum." Flo masih memalingkan wajahnya.


"What? Siapa yang mesum? Apa Kamu lupa bagaimana Kamu mengagumi tubuh ku? Aku tahu semuanya."


"Aku? Mengagumi tubuh Anda? Oh no, Anda salah Tuan."


Mobil Nathar lebih dulu. Nathar segera menaiki mobil tersebut dan meninggalkan Flo sendirian. "Jangan sampai terlambat lagi, Nona kaca mata."


Flo membelalakkan matanya, dia tidak berani membalas Nathar kemudian memalingkan wajahnya.


Di tempat lain, Luna sedang bersiap untuk menuju Kota D. Saat sedang berkemas, Tuan Jordan menghampiri Luna.


"Berapa lama?"


"Mungkin tiga sampai lima hari Ayah."


"Selama itu? Memang acara apa sampai selama itu?"


"Aku sudah katakan kalau ini adalah acara reuni. Kami akan bertemu besok malam, dan sisanya Aku akan menghabiskan waktu ku bersama sahabat-sahabat ku."


"Kalau begitu hati-hati ya."


Luna tersenyum dan menganggukkan kepalanya, "Baik Ayah."


Ponsel Luna berdering menandakan panggilan masuk. Nama Tuan Nathan muncul di layar ponsel, Jordan melihat itu. "Tuan Nathan?"


"Oh... Iya Ayah, mungkin ada sesuatu yang penting."


"Ayah dengar hubungan Kalian semakin dekat."


"Emm, Aku angkat dulu telponnya ya Ayah."


Luna segera menuju kamarnya, "Hallo Tuan Nathan."


"Hai, emm Aku ingin mengajak mu makan malam."


"Aku..."


"Apa Kamu sudah punya acara?"


"I-iya sih, sebenarnya Aku akan menghadiri acara bersama teman-teman ku."


"Oh begitu, oke have fun ya."


"Maaf ya Tuan."


"Its oke, semoga lain kali Kamu tidak menolakku."


Luna tersenyum, "Tentu saja."

__ADS_1


Luna pun segera berangkat saat mobil jemputannya tiba. Luna sengaja tidak membawa mobil, dia memesan mobil jemputan.


"Hati-hati."


"Iya Ayah."


Luna yang dibesarkan oleh Sang Ayah tentu sangat dekat dengannya. Sang Ibu pergi meninggalkan Luna bersama Jordan saat Luna berusia remaja, lebih tepatnya saat perusahaan yang dipimpin oleh Jordan sedang terpuruk. Ibu Luna memilih pergi dengan laki-laki lain yang lebih mapan.


Hal itu membuat Luna geram, dia berjanji akan tetap bersama Sang Ayah apapun yang terjadi.


Namun Mereka cukup beruntung. Perusahaan L, perusahaan yang dipimpin oleh Kendra mengulurkan tangannya. Kendra mengajak perusahaan X untuk bergabung dengannya hingga akhirnya Mereka kembali bangkit.


Luna kini berada dalam perjalanan menuju Kota D. Luna memutuskan untuk memesan sebuah kamar di hotel ternama dan tanpa dia sadari, dia memesan hotel yang sama dengan Nathar.


"Semoga Andra tidak membuat ulah lagi. Aku harus bisa menyelesaikan semuanya, Aku tidak ingin lagi berhubungan dengan laki-laki itu."


Tiba-tiba pikiran Luna berkelana pada beberapa tahun yang lalu. Tahun saat pertama kali Luna bertemu dengan Andra.


Luna bertemu dengan Andra di sebuah pesta yang diadakan oleh salah satu sahabatnya. Luna terkenal dengan kutu buku. Dia tidak punya waktu untuk mengenal laki-laki lain selain Sang Ayah.


"Luna ya?"


"Ya?" Luna tampak bingung.


Andra menceritakan dirinya begitu mengagumi Luna sejak Mereka berada di universitas yang sama. Andra sering mengikuti Luna yang keluar masuk perpustakaan. Luna hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


Tanpa disadari, hubungan Mereka semakin dekat. Luna begitu tergila-gila kepada Andra, laki-laki yang kini mengisi hatinya.


Saat Luna menceritakan semuanya kepada Jordan, Jordan meminta Andra untuk menemuinya. Namun Andra selalu menolak dengan berbagai alasan.


"Kenapa Kamu bisa mabuk seperti ini?"


Di luar hujan deras, mau tidak mau akhirnya Luna memesan sebuah kamar di hotel tempat Andra dan teman-temannya berpesta.


"Bagaimana ini? Apa yang harus Aku lakukan? Aku tidak tahu bagaimana menangani orang yang sedang mabuk seperti ini."


Andra masih tidak sadarkan diri, dia tertidur di atas tempat tidur.


"Lebih baik Aku segera pergi, sebelum tengah malam. Mungkin besok pagi Andra akan sadar."


Luna meraih buku dan pulpen di atas meja, dia hendak menuliskan pesan untuk Andra.


Namun tiba-tiba Andra memeluknya dari arah belakang dengan sangat erat.


"Sayang? Kamu sudah sadar?"


"Luna... Aku mencintai mu. Sangat mencintai mu." Andra terus saja meracau.


"Aku tahu, tapi lepaskan Aku. Aku harus pergi."


Namun bukannya melepaskan, Andra mengecupi tengkuk Luna. Luna tampak terkejut. "Sayang, lepaskan Aku."


Andra masih tidak melepaskan Luna, kini tangannya menjelajahi tubuh Luna. Luna semakin terkejut saat tangan Andra memasuki pakaiannya dan memainkan dua benda sensitifnya.


"Sayang..."


Andra semakin menggila, dia terus memijat dua benda tersebut. Tanpa disadari, Luna mengeluarkan desahannya.

__ADS_1


"Ahhh Sayaaang..."


"Iya Sayang, Kamu suka?" Andra menjilati tengkuk Luna.


"Eemmmh..." Luna menjadi hilang kendali.


Tanpa pikir panjang, Andra menjatuhkan tubuh Luna di atas tempat tidur. Andra melepas seluruh pakaian Luna.


Luna tersadar, dia menarik selimut dan menutupi tubuhnya yang polos. "Sayang, Aku tidak bisa."


"Kenapa?"


"Aku tidak bisa."


"Apa karena Ayah mu? Aku janji besok Kita akan segera menemui Ayah mu, Aku akan meminta restu darinya dan segera menikahi mu."


Luna terdiam.


"Tapi, Aku tidak akan memaksa mu." Andra hendak berdiri dan meninggalkan Luna.


"Kamu janji?"


Terlihat seringai di bibir Andra, "Ya Aku janji, apa Kamu tidak mempercayai ku?"


Luna menggelengkan kepalanya.


"Kalau begitu, apa Kita bisa melakukannya?"


Luna menarik nafas panjang, kemudian dia menganggukkan kepalanya.


Malam itu menjadi malam yang panjang bagi Mereka berdua. Suara hujan dan ******* saling bersahutan.


Waktu terus berlalu, Andra lagi-lagi tidak menepati janjinya. Dia terus saja beralasan, namun lagi-lagi Luna mempercayainya.


Kegiatan itu menjadi kegiatan rutin saat Mereka bertemu, Luna tidak bisa menolak karena dia Merasa Andra sudah merenggut semuanya dan dia harus bertanggung jawab. Luna tidak ingin Andra meninggalkannya begitu saja.


Hingga akhirnya Luna jengah dan ingin mengakhiri semuanya, mengakhiri hubungan yang tidak pasti. Luna ingin meninggalkan Andra dan melupakan masa lalunya.


Andra tidak menerima keputusan Luna, tanpa diketahui Luna, Andra mempunyai rekaman saat Mereka tengah melakukan hubungan terlarang itu. Kini rekaman itu dijadikan senjata oleh Andra.


Luna menggelengkan kepalanya untuk mengusir masa lalu dari pikirannya.


"Menjijikkan. Aku tidak menyangka jatuh kepada laki-laki brengsek seperti dia."


...----------------...


...----------------...


...----------------...


Haii zheyeeenk, di chapter ini Aku menceritakan masa lalu Luna. Entah lah apa di sini Luna sebagai pelaku atau korban.


Yang jelas, ambil hikmah dari kisah Luna yaa (loh ko jadi ceramah) 😂😂


Oh ya jangan lupa tinggalkan jejak Like, Komentar dan Vote Kaliaan yaa Zheyeeenk. Yang banyaaaakkk supaya Aku banyak juga Up nya 😂😂


Bersyukur banget bisa berada di titik ini. Semoga Kalian selalu menyukai karya ku dan terima kasih buat Kalian yang selalu setia dengan karya-karya Ku. Sayaaang Kaliaaaan 🥰🥰🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2