Istri Ceo

Istri Ceo
Kamar Vita


__ADS_3

Amanda menikmati masakan Kendra. Kenda membuatkan sup makaron.


"Enak banget Bie. Kalau Kamu memasak setiap hari, bisa gendut Aku Bie"


"Jadi apakah Aku harus memasak tiap hari?" Kendra mengusap kepala Amanda.


"Tidak Bie, jangan tiap hari. Mungkin seminggu tiga kali atau lima kali deh" Kendra tertawa sambil mencium pucuk kepala Amanda.


"Stop Daddy, anan cun Mommy lagi"


Kendra kembali tertawa melihat Cla yang memelototinya.


"Maafkan Daddy princess, itu karena Daddy sangat menyayangi Mommy mu"


"Cla juga sayang Mommy"


"Sudah sudah, Mommy sayang kalian. Sayang twins juga" Cla pun tersenyum mendengar ucapan Amanda.


Di Kota G Ziano sedang melakukan beberapa pertemuan dengan klien yang akan bekerja sama dengan anak cabangnya.


Kevin lebih banyak menghabiskan waktu dengan bermain, seperti saat ini. Kevin dan Vita sedang bermain di taman yang ada di sekitar hotel.


"Kak kejar Aku, Aku sangat kuat. Tidak ada yg bisa mengejarku" Kevin berlarian. Vita mengejarnya hingga kelelahan.


"Ampun Tuan Muda, Anda sangat kuat. Aku capek" Vita duduk di salah satu kursi taman.


"Ahh Kak Vita payah" Kevin tertawa melihat Vita yang kelelahan.

__ADS_1


Pekerjaan membuat Ziano pulang malam sampai di hotel. Kevin lebih sering tidur di kamar Vita seperti saat ini.


"Kak Vita, kenapa Kak Vita nggak tinggal di rumah Kevin?"


"Karena Kak Vita tinggal bersama Kak Bianca dan Ibu Kak Vita. Kasian mereka kalau Kak Vita tinggal"


"Kalau begitu Kevin aja yang tinggal di rumah Kak Vita"


"Tidak boleh, kasian Daddy kalau Kamu tinggal"


"Tapi Aku ingin tinggal dengan Kak Vita dan Daddy"


"Kan siang kita bisa barengan" Vita mengusap kepala Kevin yang mulai mengantuk.


"Kenapa Kak Vita tidak menjadi Mommy Kevin? Kan Mommy Kevin nggak ada, jadi Kak Vita bisa jadi Mommy Kevin"


"Mommy jahat Kak, dia pernah culik Aku. Setelah menculik, dia hilang entah kemana" Kevin bercerita dengan sekali-kali menguap.


"Diculik? Bagaimana mungkin? Dia kan ibumu?"


Namun Kevin tidak memberikan jawabannya dan hanya tertidur dengan tenang. Vita menarik selimut dan menyelimuti tubuh Kevin.


"Benarkah yang dikatakan Kevin? Jika benar, mengapa dia melakukan itu? Dan kemana dia pergi?"


Saat sedang melamun tiba-tiba ponselnya berdering. "Tuan Ziano menelpon?" Vita pun menempelkan benda pipih tersebut pada telinganya setelah menggeser tombol berwarna hijau.


"Ya Tuan"

__ADS_1


"Antar Kevin ke kamarku"


"Tuan Muda sudah tidur Tuan, dia baru saja tertidur"


"Aku akan ke kamarmu"


Vita begitu terkejut saat Ziano menutup telponnya.


"Bagaimana mungkin Tuan Ziano akan melihatku menggunakan jubah tidur seperti ini?" Saat ini Vita hanya menggunakan baju tidur yang sangat minim serta ditutupi jubah tidur.


"Lebih baik Aku ganti pakaian dulu" Namun tiba-tiba bel berbunyi.


"Tunggu sebentar" namun bel terus-terusan berbunyi dengan tidak sabar. Akhirnya Vita membuka pintu.


"Maaf Tuan" Vita menundukkan kepalanya. Ziano terkejut melihat Vita dengan pakaian seperti itu. Walaupun memakai jubah, tapi Ziano tahu baju apa yang digunakan di dalamnya. Pikirannya seketika menjadi menerawang. Vita melihat mata Ziano yang tak lepas dari tubuhnya.


"Ehm apa Saya harus memindahkan Tuan Kevin?"


Ziano tersadar dari lamunannya "Tidak, Aku akan memindahkannya sendiri"


Ziano menghampiri tempat tidur milik Vita dan hendak mengangkat tubuh Kevin. Namun Kevin tiba-tiba terbangun dan melompat ke arah Vita sambil memeluknya. "Jangan dekati Kevin" Sepertinya dia sedang bermimpi penculikan itu.


Vita mencoba menenangkannya "Tenang Tuan Muda, itu Daddy mu."


"Daddy? Aku mau tidur dengan Kak Vita"


"Besok Kita akan bermain lagi, kasian Daddy mu ingin beristirahat dengamu. Jadi anak baik ya"

__ADS_1


Akhirnya Kevin menuruti kata-kata Vita dan pergi ke kamar Ziano


__ADS_2