
Ziano memalingkan wajahnya, Vita benar-benar terkejut.
"Siap-siap, kita akan pulang sekarang"
Vita langsung menganggukkan kepalanya dan membersihkan tubuh Kevin juga piring bekas makanan.
Ziano, Kevin dan Vita keluar dari ruangan. Vita celingukan mencari keberadaan Bianca.
"Dia sedang mengadakan meeting dengan sekretaris bagian. Jadi dia akan bekerja lembur hari ini" Vita menganggukkan kepalanya.
"Baik Tuan" kemudia dia meraih ponsel dan memesan ojeg online.
"Aku akan mengantarmu"
"Hah? Tidak, tidak usah Tuan. Saya sudah memesan ojeg online"
"Oh jadi Kamu lebih memilih mematuhi tukang ojeg daripada Aku?"
"Tidak, bukan begitu Tuan. Saya tidak ingin merepotkan Anda"
"Kamu merepotkan ku jika mengajakku berdebat seperti ini" Ziano memasuki lift dan diikuti oleh Vita.
Vita segera chat ojeg online tersebut "Pak, Saya tidak jadi diantar. Tapi saya tetap order, jadi bapak selesaikan sesuai aplikasi nanti saya bayar pakai **pay"
Triiing "Baik neng"
Ziano tersenyum karena mengetahui kalau Vita mengcancel orderannya.
__ADS_1
Vita naik di kursi mobil depan setelah Ziano dan Kevin menaiki kursi mobil belakang.
"Aku mau sama Kak Vita"
"Baik, kemari" Vita hendak mengambil Kevin, namun Ziano menahannya.
"Seharusnya Kamu yang pindah, bukan Kevin"
Vita terkejut kembali "Maaf Tuan, Tuan Muda Aku akan pindah ke belakang, tunggulah"
Ziano kembali tersenyum. Vita duduk di samping Ziano dengan menggendong Kevin.
Entah karena apa jalanan sangat macet, perjalanan yang biasanya ditempuh sekitar dua puluh menit, kini sudah lima puluh menit tapi belum juga sampai.
"Jalanan macet Tuan, Saya akan naik ojeg saja suapaya Anda tidak kemalaman"
"Kamu mengusir kami?"
"Duduklah, nikmati perjalananmu. Kevin saja tidak rewel" Kevin tersenyum "Kevin anak pintal Daddy"
"Tentu boy" Ziano mengusap kepala Kevin yang sedang berada di gendongan Vita. Tanpa sengaja Ziano dan Vita saling pandang, pandangan mereka terkunci untuk beberapa saat. Namun Vita segera memalingkan pandangannya. Wajahnya sangat merah terutama pipinya. Ziano tersenyum melihat Vita yang salah tingkah. Kevin yang menyadari itu melihat Vita "Kakak sakit? Pipinya meyah, kita ke doktel ya Kak"
"Tidak Tuan Muda, Aku... Aku tidak apa-apa"
"Wajar saja Kevin bertanya seperti itu, wajahmu sangat merah" Ziano berkomentar tanpa melihat ke arah Vita
"Apa? Dia melihat wajahku yang merah. Memalukan sekali" Batin Vita bergumam. Namun bukannya mereda, pipi Vita semakin memerah.
__ADS_1
"Menurut pandangan psikolog, apa penyebab wajah memerah? Terutama bagian pipi?" Ziano usil bertanya kepada Vita.
"I..Itu mungkin karena disebabkan perasaan yang tidak biasanya. Maksudku bisa perasaan marah, perasaan malu atau perasaan yang lainnya"
"Perasaan yang lain?" Ziano semakin mengusili Vita.
"Iya mungkin menahan sakit atau bisa juga demam Tuan"
"Kak Vita sakit?" Kevin memegang pipi Vita.
"Lalu perasaan mana yang kamu rasakan?"
Vita menundukkan kepalanya "Maaf Tuan, mungkin ini salah satu kelainan yang Saya miliki, wajah Saya mudah memerah"
"Tapi cantik..." Vita menatap tak percaya.
"Maksudku warna merahnya, kulitmu putih jadi telihat berwarna merah muda" Ziano mengalihkan pandangannya.
"Ma...Maaf Tuan"
"Itu bukan salahmu"
Mobil memasuki area perumahan Bianca yang terbilang terbilang sederhana.
"Sudah sampai Tuan, terimakasih" Vita hendak turun dari mobil.
"Sepertinya Kevin kelelahan karena satu jam perjalanan, jika sekarang kita langsung pulang maka Kevin akan mengalami tiga jam perjalanan" Vita menghentikan aksinya.
__ADS_1
"Apa Tuan berkenan untuk mampir terlebih dahulu? Maksudku supaya Tuan Kevin tidak kelelahan"
"Ayo kita turun Boy" Ziano mengajak Kevin turun. Vita hanya menggelengkan kepalanya karena Ziano dan Kevin benar-benar turun.