Istri Ceo

Istri Ceo
Meminta Bantuan


__ADS_3

Ziano pergi meninggalkan Sasa dan Kevin yang sedang menangis. Sasa terus berfikir bagaimana caranya untuk membuat Ziano yakin. Kemudian dia menelpon seseorang.


"Kau bisa membantuku? Apa? Bagaimana mungkin kamu tidak bisa membantu hal sekecil itu? Sudahlah jangan banyak alasan, aku tidak percaya kepadamu"


Sasa kembali menelpon seseorang.


"Hallo Amanda"


"Iya kenapa Sa?"


"Please tolong aku Manda, sekarang masa depanku sedang dipertaruhkan"


"Kenapa Sa? Apa yang bisa aku bantu?"


Sasa menceritakan semuanya, Kendra yang sedang memeluk Amanda mendengar semuanya kemudian menggelengkan kepalanya.


"Tapi Sa, apa yang harus aku lakukan?"


"Aku dengar Z Hospital ada kerja sama dengan L Hospital. Bisakah kamu meminta bantuan Kendra kali ini. Aku mohon Manda" suara Sasa terdengar bergetar.


"Aku... Aku tidak berani Sa. Setahu ku Kak Kendra orang yang profesional, dia tidak akan mungkin mau melakukan hal itu. Maafkan aku Sa"

__ADS_1


"Aku mohon Manda, Aku mohon" Sasa mulai menangis. "Mungkin di mata mu aku egois, tapi aku melakukan ini untuk masa depan Kevin Manda. Aku mohon"


Kendra yang jengah mengambil ponsel Amanda "Bukankah kehadiran Kevin itu untuk menyelamatkan masa depan mu? Bahkan kamu melakukan cara yang sangat kotor. Seharusnya kamu tahu resiko apa yang akan terjadi. Jadi berhenti melibatkan kami dalam masalahmu" Kendra menutup panggilannya. Amanda kebingungan kenapa Kendra menjadi seperti ini sejak pulang dari rumah sakit? Dia lebih banyak berdiam diri dan hanya memeluk sambil sesekali mencium Amanda.


"Kenapa Bie?" Amanda mengecup bibir Kendra sekilas.


"Aku hanya mempertahankanmu dan anak kita. Aku tidak ingin ada orang lain yang mengganggu kalian" Kendra kembali mencium bibir Amanda, kali ini Kendra melum*tnya.


"Tapi siapa yang akan mengambil kita darimu? Aku tidak akan mungkin meninggalkan suami dan Daddy sebaik dirimu Bie" kali ini Amanda duduk di pangkuan Kendra sambil melingkarkan tangannya di leher Kendra.


"Si baj*ngan itu, dia mulai menyesal karena telah meninggalkanmu demi perempuan mur*han itu"


"Jangan sebut namanya dengan bibir mu, bibir ini hanya boleh menyebut nama ku"


"Iyaa Sayang, Kamu harus yakin kalau aku sangat mencintaimu" Amanda memeluk tubuh Kendra.


"Aku bahkan lebih mencintaimu" Kendra membalikkan tubuh Amanda sehingga terjadilah hal-hal yang diinginkan (hohoho).


"Hasilnya akan keluar dua minggu lagi pak"


"Apa? Selama itu?" Ziano memarahi beberapa perawat disana.

__ADS_1


"Kami sudah melakukan beberapa tes dasar seperti tesa darah dan hasilnya sama"


"Aku tidak butuh itu, bahkan darahku dan darahmu mungkin saja memiliki golongan yang sama" Ziano terlihat sangat marah.


"Seharusnya kalian menciptakan alat yang lebih canggih. Dasar bod*h"


Semua perawat terlihat menundukkan kepalanya, Ziano meninggalkan ruangan dengan wajah yang sangat kesal.


Ziano memasuki ruangan Kevin, Sasa terlihat mengusap air matanya.


"Kenapa? Apa kamu takut aku mengetahui semuanya? Sebaiknya kamu bicara sebelum hasil Tes DNA keluar, karena mungkin resikonya akan sedikit berkurang"


Sasa hanya menangis sambil menundukkan kepalanya.


"Sekarang bawa anak ini pulang. Aku tidak ingin kamu tinggal disini terlalu lama. Kamu mungkin saja bisa melakukan kecurangan yang lainnya" Ziano meninggalkan mereka berdua.


Sasa menggendong tubuh Kevin, dia memilih menggendongnya walaupun perawat sudah menyediakan kursi roda.


Saat di lobby dia terkejut karena tidak mendapati mobil Ziano disana. Tiba-tiba Pak Sobri sopir Ziano dan Sasa menghampiri "Silahkan Nyonya, Tuan berpesan untuk mengantarkan Anda dan Tuan Kecil ke rumah"


Tanpa banyak bertanya Sasa memasuki mobil tersebut, sepanjang perjalanan dia hanya menangis sambil menatap wajah Kevin. "Maafkan Mommy ya sayang"

__ADS_1


__ADS_2