
Ziano dan Vita duduk berdua di kursi taman, Vita merasa gelisah. Perasaannya saat ini benar-benar sedih.
"Maafkan Aku, Aku tidak bermaksud membuatmu menangis"
"Ti...Tidak apa-apa Tuan"
"Aku bukan Tuan mu lagi Vita"
"Ma...Maaf Tuan, mak-maksudku..." Vita kembali menangis.
"Aku mendengar apa yang kalian bicarakan" Vita menatap Ziano, dia tidak mengerti dengan apa yang diucapkan Ziano.
"Aku ingin Kamu mendapatkan kebahagiaan itu. Aku ingin Kamu mencapai keinginanmu. Aku tidak bisa memberikan kebahagiaan yang utuh kepadamu"
"Apa Kamu tau apa yang membuatku bahagia?" Vita menatap Ziano.
"Masa depanmu masih panjang, tidak seharusnya Kamu terjebak bersamaku"
"Aku tidak merasa terjebak. Aku bahagia bersama kalian" Vita menundukkan kepalanya.
"Itu tidak benar, Kamu tidak bisa bahagia bersamaku" Ziano menarik napas panjang.
"Maafkan Aku, Aku benar-benar tidak tau diri. Aku hanya seorang pengasuh tapi berharap lebih. Maafkan Aku" Vita hendak meninggalkan Ziano sambil menangis. Namun sejurus kemudian Ziano menggenggam tangannya dan menuntunnya kembali untuk duduk.
"Bukan... Bukan itu. Aku tidak pernah mempermasalahkan itu. Kamu terlalu spesial untukku yang kekurangan ini"
__ADS_1
Vita menatap Ziano "Maksudmu?"
"Aku... Aku tau Kamu menginginkan banyak anak. Tapi..."
Vita menatap Ziano tak mengerti. Apa karena alasan iti Ziano menolaknya?
"Aku tidak bisa memberikanmu anak"
"Apa maksudmu? Aku benar-benar tidak mengerti"
"Aku... Aku bersrlingkuh dari Amanda karena dia tidak bisa memberikan ku keturunan. Namun..." Ziano menceritakan semua masa lalunya.
Vita sulit mempercayainya, setega itu Ziano kepada Amanda.
"Ternyata.. Ternyata Aku yang tidak bisa mempunyai keturunan. Amanda tidak bermasalah, Aku yang bermasalah" Vita menutup mulutnya tak percaya.
"Aku mendapatkan karma itu, Kevin bukan anak kandungku"
Vita semakin terkejut, dia benar-benar tidak menyangka kehidupan Ziano seperti itu. Air mata kembali mengalir di pipinya.
"Jadi, Aku tidak ingin Kamu berada disamping orang sepertiku. Raihlah kebahagiaanmu"
"Aku... Aku..." Vita kembali menangis sesegukan.
"Kembalilah ke kehidupan sebelum Kamu mengenalku. Maafkan Aku karena Aku sudah menjebakmu beberapa waktu lalu"
__ADS_1
"Aku tidak bisa, Aku sudah terlalu nyaman dengan semua ini. Kevin sudah menjadi bagian dari hidupku, sama seperti Kevin di matamu" Vita menatap Ziano. "Tidak adakah sedikitpun perasaan itu untukku? Ziano yang Aku kenal sekarang, tidak seperti Ziano yang Kamu ceritakan. Itu sangat bertolak belakang."
"Vita, apa Kamu tidak mengerti. Aku mandul" Ziano mulai mempertegas kata-katanya.
"Kebahagiaan tidak hanya datang dari anak, Aku lebih percaya kepada Tuhan daripada apapun. Aku tau Tuhan memberikan keahlian kepada manusia, tapi takdir Tuhan tidak bisa diubah oleh ucapan manusia. Bagitupun perasaanku" Vita menatap Ziano.
"Tapi Aku peduli pada masa depanmu"
Vita membuang napas kasar. "Aku tidak akan memaksakan kehendakmu. Kamu berhak untuk memilih" Vita berdiri dan meninggalkan Ziano.
Ziano memikirkan kata-kata Vita.
GREP....
Tubuh Vita terdorong saat pelukan mendarat di tubuhnya.
"Aku sudah memilih, Aku sudah memilih" Ziano berbisik tepat di telingan Vita. Vita membalikkan badannya, "Lalu...?"
"Aku memilihmu. Aku memilihmu. Maukan Kamu melengkapi segala kekuranganku? Maukah Kamu menjadi wanita terakhir yang mengisi hatiku? Maukah Kamu mendampingi laki-laki yang penuh dengan kekurangan ini?" Ziano berlutut di hadapan Vita dengan dikelilingi lampu taman dan air mancur yang berada tepat di belakang Ziano.
Vita begitu terharu, dia tidak menyangka Ziano memutuskan secepat ini.
Dengan penuh keyakinan Vita menganggukkan kepalanya. Ziano berdiri dan memeluk tubuh Vita.
***
__ADS_1
Sebentar lagi end nih Kak... 😢😢