Istri Ceo

Istri Ceo
Babby Boy


__ADS_3

Kendra begitu bahagia saat mendengar kabar tersebut, dia menciumi pipi Amanda. Berbeda dengan Amanda, fikiran Amanda masih mencerna ucapan dokter Seni.


"Sayang? Kamu kenapa?"


"Sebenarnya apa yang terjadi Bie?"


"Kamu hamil sayang, kita akan menjadi orangtua, kita akan mempunyai bayi"


Amanda langsung memeluk tubuh Kendra, dia menangis bahagia.


"Terimakasih sayang"


"Tidak Bie, aku yang terimakasih" Amanda menatap Kendra dengan tangis haru nya.


Dokter Seni yang mengetahui kisahnya ikut menitikkan air mata. Dokter Seni menjelaskan bahwa usia kandungannya saat ini memasuki minggu kelima. "Semoga sehat selalu ya Nyonya. Saya akan memberikan resep untuk mengurangi mual karena seusia ini sangat mungkin apabila Anda mengalami morning sickness"


"Tapi dok, sebenarnya..." Kendra ragu untuk menjelaskan karena itu mungkin bukan gejala dari morning sickness.

__ADS_1


"Apa morning sickness bisa terjadi pada suami?" Amanda bertanya kepada dokter Seni


"Sangat bisa, karena sebenarnya morning sickness itu terjadi karena perubahan hormon dan perubahan itu bisa terjadi kepada ibu hamil ataupun suaminya"


"Lalu obat ini? Saya tidak mengalami morning sickness dok"


Dokter Seni tersenyum "Jadi maksud Anda Tuan Muda yang mengalami morning sickness? Ini obat mengandung asam folat yang dibutuhkan ibu hamil. Jadi apabila Tuan Muda mengalami morning sickness itu bisa dikurangi dengan makanan yang biasanya bisa mengurangi mual muntah seperti mangga muda atau jeruk atau apapun itu yang ada di fikiran Anda Tuan"


"Baiklah dok, sepertinya mulai saat ini aku akan lebih menikmati morning sickness ini" Kendra bersemangat. Amanda dan dokter Seni pun tertawa.


Bayi itu baru selesai dimandikan oleh perawat "Boleh aku membawanya ke ruangan Ibunya? Sepertinya ibunya membutuhkan bayi ini"


"Silahkan Nyonya" Perawat itu menyiapkan box bayi dan mengantarnya ke ruang rawat Sasa.


Sesampainya di ruangan Sasa, Kendra dan Ziano terkejut melihat Amanda dan dua perawat yang membawa Bayi serta perlengkapannya.


"Kenapa dia dibawa kesini?" Ziano menatap heran.

__ADS_1


"Sasa membutuhkannya. Tempatkan dia disamping ibunya" perawat tersebut mengikuti perintah Amanda.


"Tapi bayi ini masih sangat kecil, lebih baik dia berada di ruangan bayi" Ziano memprotes.


"Tidak ada tempat yang lebih baik bagi seorang anak selain berada disamping ibunya." Amanda menatap bayi itu.


"Aku rasa kita tidak bisa meragukan feeling seorang ibu" Kendra tersenyum melihat Amanda yang sedang menatap bayi itu.


"Tapi dia kan..."


"Amanda akan menjadi seorang ibu, dia sedang mengandung anakku" Kendra memotong pembicaraan Ziano dan menekan setiap katanya. Ziano membelalakkan matanya "Be..Begitu ya, selamat untuk kalian berdua" ada perasaan sedih dan kesal pada dirinya, "Kenapa anak Kendra yang dia kandung, kenapa bukan anaknya? Apa Amanda tidak menginginkan anakku berada di rahimnya?" fikiran Ziano menebak-nebak.


"Terimakasih bro, ngomong-ngomong siapa nama babby boy ini?"


"Aku akan menunggu Sasa sadar terlebih dahulu untuk memberikan namanya. Dia yabg mengandungnya jadi dia yang berhak memberikan nama untuk anaknya"


Tiba-tiba bayi itu menangis karena lapar, Amanda memberinya susu namun dia masih tetap menangis. "Kenapa sayang? Apa kamu merindukan ibumu?" Amanda menggendong bayi tersebut. Sasa menggerakkan jari-jarinya, Ziano segera memanggil dokter untuk segera memeriksanya.

__ADS_1


__ADS_2