
Vita dan Bianca diantar Ibu menuju pelaminan. Ziano dan Felix sudah berada disana.
Semua tamu begitu kagum melihat kecantikkan yang terpancar dari Kakak beradik itu.
Mereka yang jarang sekali berpoles kini terlihat sangat cantik dengan polesan sederhana yang menghiasi wajahnya.
Sesampainya di pelaminan, Ziano menjemput Vita begitupun Felix yang menjemput Bianca.
Ibu benar-benar terharu dapat mengantarkan kedua putrinya hingga ke pelaminan.
Semua tamu menghampiri mereka dan mengucapkan selamat.
"Selamat Bro, Gue turut bahagia" Kendra memeluk Felix dan Ziano.
"Terimakasih bro, doain gue supaya punya anak kembar kaya lo" Felix mengusap pipi gembul Nathan dan Nathar.
"Iya semoga bro..." Kendra dan Amanda kembali menuju meja tamu.
Beberapa jam mereka melayani para tamu yang datang untuk mengucapkan selamat.
"Sayang, ini terakhir kalinya orang-orang bisa menyentuhmu. Aku pastikan mulai besok tidak ada yang bisa menyentuhmu selain Aku" Ziano berbisik kepada Vita.
"Ih apaan sih Mas, mereka kan hanya mengucapkan selamat kepada Kita. Lagian tamu undanganmu banyak sekali" Vita mulai merasa lelah.
__ADS_1
"Kamu benar, menyesal Aku mengundang mereka"
Setelah tamu berkurang mereka melakukan sesi foto di area yang berbeda. Mereka melangsungkan pesta pernikahan di taman bunga yang sangat luas. Aroma bunga menghiasi acara yang sakral ini.
Pesta berlangsung hingga pukul sepuluh malam. Vita benar-benar merasa kelelahan.
"Aku nggak mau nikah lagi Mas, pegel banget kaki Aku" Vita melepas sepatu berhak tinggi itu dan menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur.
"Buang saja sepatu itu sayang, Aku tidak suka pada sesuatu yang menyakitimu" Ziano mendekati Vita dan meraih kakinya.
"Loh mau ngapain Mas?" Vita segera menyingkirkan kakinya dari Ziano.
"Kamu sangat pegal kan sayang? Biarkan Aku memijatmu"
"Oh ya Aku suamimu?"
"Iya Mas, Kamu sekarang kan suamiku" Vita melihat Ziano sudah tersenyum penuh arti. Pipinya tiba-tiba memerah.
"Berarti Aku boleh mendapat hak Ku sebagai suami?"
"Emm, itu... Aku..."
"Boleh?"
__ADS_1
Vita hanya menundukkan kepalanya dengan pipi yang sangat merah.
Saat ini mereka berada di salah satu kamar hotel milik Ziano. Kamar yang sangat mewah dan dihiasi bunga di seluruh bagian kamar.
Ziano meraih wajah Vita, ditatapnya wanita yang kini menjadi istrinya itu. "Terimakasih sayang sudah bersedia menjadi istriku" Ziano mengecup pipi Vita yang semakin memerah itu. Vita hanya menundukkak kepalanya.
Perlahan kecupan itu mulai menjalar ke bibir Vita, Ziano menikmati setiap sentuhannya. Kecupan demi kecupan yang berakhir menjadi lum*tan. Mereka saling melum*t satu sama lain. Seolah tak puas, tangan Ziano mulai bergerilya. Sentuhan di tengkuk Vita kini berpindah semakin kebawah ke daerah b*kongnya. Vita tidak memberikan reaksi apapun selain menikmatinya. Dia membiarkan Ziano mengeksplor seluruh tubuhnya hingga kini tubuh Vita berada di bawah tubuh Ziano.
Bibir Ziano berpindah menuju tengkuk Vita. Tanpa disadari Vita melenguh setiap kali Ziano menyentuhnya. Karena malu, Vita menggigit bibi bagian bawahnya agar tak mengeluarkan suara. "Keluarkan Sayang, Aku senang mendengarnya" Ziano mel*mat kembali bibir Vita. Pandangan mereka sudah dipenuhi kabut asmara. Vita mulai mengeluarkan beberapa desahan saat Ziano bermain-main di area dadanya.
"Mas..."
"Iya sayangku"
"A..Aku tidak bisa melakukan itu sekarang"
Ziano tiba-tiba menghentikan aksinya, "Kenapa sayang? Apa Kamu keberatan Aku melakukan secepat ini? Aku tidak akan melakukannya tanpa seijinmu sayang" Ziano duduk dan mengecupi tangan Vita.
"Bukan begitu Mas, maksudku.. Apa Aku boleh mandi dulu? Tubuhku sangat lengket sehabis kita berpesta tadi"
Ziano pun tersenyum lega kemudian merengkuh tubuh Vita. "Baiklah sayang, kalau begitu izinkan Aku memandikan pengantinku" Ziano membopong tubuh Vita.
"Mas turunin, Aku bisa mandi sendiri Mas. Aku malu"
__ADS_1
Namun bukannya menurunkan Vita, Ziano mel*mat bibir itu dan membawa tubuh Vita menuju kamar mandi.