Istri Kedua Mafia

Istri Kedua Mafia
Chapter 36


__ADS_3

"Kenapa tidak di makan? apa makanannya tidak enak?" Tanya Sean pada istrinya.


"Tidak berselera, aku ingin ke kamar saja!" Jawab Amara kemudian ia beranjak dari meja makan.


Sean mengerutkan keningnya heran melihat sikap aneh istrinya pagi ini.


"Sayang, kau kenapa?" Tanya Sean ikut menyusul istrinya.


"Aku sedang malas melakukan apa pun hari ini, aku ingin menonton drama saja!"


"Hem, lakukanlah sesuka hati mu!" Jawab Sean.


Dan benar saja, saat masuk kamar Amara langsung menghidupkan televisi yang berukuran sangat besar. Pilah pilih drama yang sedang ingin di tonton. Film tentang psikopat menjadi pilihan Amara.


"Kenapa kau menonton film seperti ini?" Tanya Sean tidak suka.


"Apa sih, gak usah gak ganggu deh!" Sahut Amara tampak kesal.


Sean menghembuskan nafas karas.


"Mau kemana?" Tanya Amara saat suaminya hendak keluar kamar.


"Ke markas sebentar!" Jawab Sean.


"Temani aku, jangan kemana-mana!" Pintanya.


Sean begitu penurut, mau tidak mau pria ini duduk di samping istrinya.


Tak banyak bicara, mereka menonton yang sedikit dingin. Sean memperhatikan istrinya yang sama sekali tidak takut melihat adegan sayat menyayat dan potong memotong daging manusia di dalam sana.


"Kau tidak takut melihat darah yang banyak di dalam televisi sana?" Tanya Sean.


"Tidak, sepertinya darah itu tampak segar." Ucap Amara membuat Sean merinding.


"Sayang, apa kau sehat?" Tanya Sean lagi.


"Aku sehat, kenapa memangnya?"


Sean menggelengkan kepalanya.


Menonton sampai dengan selesai, bukannya ekspresi mual atau pusing yang di tunjukan Amara melainkan wajah segar.


"Katanya mau ke markas, pergilah. Aku mau pergi membeli camilan dan makanan yang aku suka." Ucap Amara.

__ADS_1


"Hanya untuk berbelanja, tidak ada acara pergi ke tempat lain." Ujar Sean sedikit melarang.


"Iya, aku ingin membeli beberapa makanan sesuai selera ku!"


"Hem, pergilah. Hati-hati, aku harus menyelesaikan pekerjaan ku sebentar."


Sean mengecup kening istrinya, setelah itu pria ini pergi ke markas begitu juga dengan Amara. Sejak ia menemukan jalan pintas, Amara sering pergi membeli makanan yang ia suka di antar supir yang biasa di panggil Sindu.


Minimarket langganan Amara, setelah membeli apa yang dia mau Amara juga pergi ke salah satu toko kue langganannya.


"Sindu, kau ingin makan kue apa?" Tanya Amara.


"Biasa, kue pai susu!" Jawab Sindu.


"Tidak ada bosannya, banyak kue kenapa kau selalu memakan kue itu?"


"Karena aku suka!" Jawab Sindu yang lebih tua lima tahun dari Amara.


Sindu yang terkenal cuek hanya memutar bola matanya menanggapi ucapan Amara.


Amara pun membuka pintu mobil kemudian keluar. Belum sempat Amara masuk ke dalam toko kue, dua orang pria bertopeng menarik paksa Amara masuk ke dalam mobil yang parkir tepat di belakang mobil Amara.


Sindu yang melihat kejadian tersebut langsung keluar dari dalam mobil, tapi ia langsung di keroyok tiga orang lainnya. Anak buah Sean yang selama ini berjaga dari kejauhan pun tak sempat menolong Amara, hanya perkelahian yang terjadi di sana sedangkan Amara sudah di bawa pergi sejak tadi.


Tidak ada yang menjawab, tiba-tiba saja Amara di bius sampai pingsan.


Di sisi lain, Sean yang mendapat kabar jika Amara telah di culik anak buah Remon sangat marah besar. Tidak bisa menyalahkan anak buahnya karena memang Sean sendiri yang mengatur jika anak buahnya harus berjarak tiga puluh meter dari Amara.


"Remon bajingan!" Umpat Sean dengan rahang mengeras. "Daren, siapkan semua anak buah. Kita serang markas Bruiser sekarang juga!"


"Baik tuan...!"


Mereka pun pergi, tapi saat keluar dari area hutan langsung di tahan oleh Leon.


"Kenapa?" Tanya Sean tidak terima saat jalannya di halangi.


"Jangan gegabah seperti ini, jika kau menyerang Remon dengan banyak anak buah seperti itu sama artinya kita akan mengundang keributan besar. Sean, biasanya kau ini berpikir jernih."


Sean hanya diam, mau tidak mau pria ini menuruti perkataan Leon meskipun dalam hatinya merasa sangat khawatir sekarang.


Sementara itu, saat ini Amara yang sedang berada di salah satu ruangan, lebih tepatnya di markas Remon yang berada tepat di pinggir sungai jauh dari kawasan pemukiman.


Perlahan Amara membuka mata, di lihatnya beberapa orang tak di kenal di depannya.

__ADS_1


"Siapa kalian?" Tanya Amara. "Oh, sudah pasti orang jahat yang sudah menculik ku." Jawabnya sendiri.


"Istri kedua Sean, ternyata kau cantik juga!"


"Kau musuhnya Sean?" Tanya Amara tampak santai tak ada takutnya sedang suaminya saat ini sedang kalang kabut memikirkan rencana untuk menyelamatkannya.


"Seharusnya aku menghabisi kau sekarang agar Sean menangis darah." Ucap Remon menakuti.


"Kenapa dia harus menangis darah?" Tanya Amara. "Seberapa penting aku dalam hidupnya sampai dia harus menangis darah?"


Remon mengerutkan dahinya.


"Aku ini hanya istri yang di beli di atas meja judi. Sean selalu memperlakukan aku dengan kasar, dia selalu mengancam ku dan menyakiti ku." Ucap Amara pura-pura menangis, tapi air matanya keluar.


"Jangan mencoba menipu ku!" Kata Remon.


"Aku tidak menipu mu, dia sengaja memberi ku makan yang banyak setelah itu aku harus bekerja menyapu hutan miliknya." Ucap Amara penuh dengan kebohongan. "Tuan yang baik, tolong bebaskan aku dari Sean. Aku hanya ingin hidup normal seperti dulu."


Remon hanya diam, pria ini berusaha menatap wajah Amara mencari letak kebohongan.


"Oh, dia pernah mengajak ku untuk memberontak musuh. Dia sengaja menjadikan umpan agar aku cepat mati," kata Amara berusaha menyakinkan.


"Benar tuan, dia di jadikan umpan oleh Sean saat menggagalkan transaksi minuman ilegal. Aku pernah di beri tahu oleh Raul." Ujar James memberitahu Remon.


"Aku akan membebaskan mu asal kau mau menjawab pertanyaan ku dengan jujur."


"Katakanlah wahai tuan yang baik!"


"Kau pasti tahu tentang Alena. Di mana dia sekarang?" Tanya Remon berusaha memancing.


"Madu ku itu sedang pergi liburan, tapi sampai sekarang dia belum pulang. Alena enak pergi liburan sedangkan aku di siksa dengan pekerjaan yang sangat banyak."


Remon melirik ke arah James, pria bodoh ini sepertinya percaya dengan semua perkataan Amara.


"Sepertinya kau tampak sehat, aku sudah memperhatikan mu, tapi rasanya Sean memperlakukan mu dengan baik. Kau membohongi ku!"


"Di depan umum, apa dia akan memukul ku sama seperti di rumah?" Tanya Amara yang begitu pandai. "Tolong bebaskan aku tuan, seandainya kau membebaskanku, aku akan pergi jauh memulai hidup baru. Aku tidak ada urusan dengan kalian semua. Aku hanya seorang wanita lemah yatim piatu tak punya keluarga."


Tersentuh hati Remon, pria ini semakin iba saat mendengar isak tangis Amara.


"Percayalah, aku di suruh membeli kue dan aku harus bisa membuat kue yang aku beli. Jika tidak, Sean tidak akan memberi ku makan," Ucap Amara berusaha menyakinkan. "Kalian menculik orang yang salah, seharusnya kau menculik Alena. Dia istri yang paling Sean sayang." .


Huhuhu....... Amara terus menangis sambil menceritakan kehidupannya yang sangat keras. Kebohongan demi kebohongan ia keluarkan demi melepaskan diri tanpa harus bersusah payah.

__ADS_1


__ADS_2