
Sejak ada Remon yang menggantikan tugas Sean, tidak lupa di bantu oleh Leon dan james, membuat waktu Sean lebih banyak bersama istri dan anak kesayangannya.
Hingga satu bulan berlalu, keadaan tampak aman-aman saja. Sejak memiliki anak, Amara lebih betah berada di dalam mansion.
"Hai, Laura. Menurutmu kita ini bodyguard atau pengasuh?" Tanya Rachel yang merasa heran pada pekerjaan mereka yang hanya duduk-duduk santai.
"Kita seperti pengasuh bayi kecil dan bayi besar." Jawab Laura.
"Kalian terciduk!" Seru Remon.
Rachel dan Laura mengerutkan dahi mereka kebingungan.
"Terciduk ngapain?" Katus Rachel.
"Kalian terciduk menggosip." Jawab Remon. "Aku bisa saja menghabisi kalian jika kalian berani macam-macam di belakang Amara." Ancam Remon.
"Merasa hebat jadi sesuka hatimu mengancam orang. Dasar ikan salmon, minggat sana ke sungai." Ucap Amara dengan nada tinggi membela Rachel dan Laura.
Laura dan Rachel menahan tawa mereka, sedangkan Remon saat ini tengah menahan emosinya.
"Apa yang di lihat Sean darimu yang huh...? Menjengkelkan!"
Remon memilih pergi, malas sekali rasanya jika meladeni Amara.
"Hai Laura, sudah satu bulan kamu kerja di mansion ini. Apa kau ada rasa dengan Remon?" Tanya Amara seketika membuat Laura kebingungan.
__ADS_1
"Suka bagaimana, maksudnya?" Tanya Laura tidak mengerti.
"Oh, tidak apa-apa!" Jawab Amara yang bingung ingin menjawab apa.
"Laura, aku ada pekerjaan untukmu." Ucap Sean yang baru bergabung di sana. "Malam ini Remon akan menggagalkan transaksi oobat-obatan terlarang di kota sebelah. Kau ikut bersama Remon nanti." Titah Sean.
"Baik, tuan!" Jawab Laura yang tidak mau membantah.
"Dan kau, Rachel. Kau ikut bersama Leon, dia akan pergi ke muara malam ini." Ujar Sean memberitahu.
"Baik, tuan!" Jawab Rachel.
"Sayang ayo ke kamar!" Ajak Sean.
"Aku heran dengan pekerjaan tuan kita, apa untungnya buat dia?" Bisik Rachel.
"Sudah pasti ada, nggak usah di pikirin. Yang penting gaji kita lancar!" Jawab Laura.
"Hai Rachel, ayo ikut aku!" Ajak Leon yang tiba-tiba muncul di sana.
Tidak membantah, Rachel langsung ikut bersama Loen.
"Kita pergi sekarang, karena perjalanan lumayan memakan waktu." Ucap Leon memberitahu.
Padahal pekerjaan seperti ini sudah di atur oleh Sean. Sean berharap dalam waktu satu bulan kedepan, Remon dan Leon bisa menikah dengan perempuan pilihan Sean dan Amara.
__ADS_1
"Sayang, apa kau yakin dalam waktu satu bulan ini mereka bisa di nikahkah?" Tanya Amara yang tidak begitu yakin.
"Kalau tidak bisa, ya kita paksa. Tapi, aku punya rencana untuk Remon." Ujar Sean dengan senyum liciknya.
"Apa?" Tanya Amara singkat.
Sean pun menceritakan rencananya pada Amara, tentu saja rencana ini langsung di iyakan oleh Amara.
"Kapan kau akan menjalankan rencanamu?" Tanya Amara yang sudah tidak sabar.
"James sedang mengaturnya!" Jawab Sean.
"Apa James bisa di percaya?" Tanya Amara yang tidak begitu yakin.
"Bisa, James juga sudah muak melihat Remon yang sendiri tidak jelas!"
Amara hanya mengikut saja, yang terpenting rencana mereka berhasil.
"Lalu, bagaimana dengan pak Pet dan Suter Belina?"
"Tidak usah khawatir mereka, mereka sudah semakin akrab. Nanti juga minta nikah sendiri." Jawab Sean.
"Oh, baguslah!" Jawab Amara.
"Pekerjaan yang di berikan Amara jauh lebih berat dari pada membunuh musuh. Untung aku sayang, kalau nggak? bodoh amat!" Ucap Sean dalam hati.
__ADS_1