Istri Kedua Mafia

Istri Kedua Mafia
Chapter 37


__ADS_3

"Apa yang kau ketahui tentang Sean?" Tanya Remon menyelidik.


"Dia suka membentak ku, menjambak ku bahkan dia suka menodongkan senjata pada ku." Jawab Amara berbohong.


"Tapi, kenapa Sean menyelamatkan mu di saat anak buahku mengepung kalian?"


"Jika aku di biarkan mati, siapa yang akan mencuci semua pakaian manusia-manusia biadab itu? Percayalah, mereka menyiksa ku dengan pekerjaan rumah!"


James kemudian membisikan sesuatu pada Remon, memberitahu jika Amara hanya gadis biasa yang tidak tahu apa-apa karena ia menikah dengan Sean di atas meja judi.


"Kau sebatang kara, ada baiknya kau mati saja." Ucap Remon menakuti.


"Jika kau mati sekarang, siapa yang akan mendoakan kedua orang tua ku di alam baka sana?"


Remon menghela nafas panjang, semakin iba ia mendengar cerita dari Amara yanga sangat natural ini.


"Jika aku membebaskan mu, kemana kau akan pergi?" Tanya Remon.


"Aku akan pergi, sejauh mungkin agar Sean tidak bisa menemukan aku. Aku pernah mencoba kabur, tapi dia menyakiti ku. Menyiksa ku sampai babak belur," jawab Amara yang memutar balikan fakta padahal saat itu Alena lah yang sudah menyiksanya.


"Kalau begitu, aku akan membebaskan mu. Kali ini aku masih berbaik hati untuk melepaskan mu, berapa umur mu?"


"Dua puluh tiga tahun!" Jawab Amara membuat Remon tercengang.


"Bisa-bisanya Sean mengancam perempuan muda seperti mu. Dasar bajingan tengik!" Umpat Remon yang geram.


"Tapi, kemana aku harus pergi sedangkan aku saja tidak memiliki uang?"


Remon menghembuskan nafas kasar, meskipun ia pria yang kejam tapi Remon masih memiliki hati pada perempuan lemah seperti Amara.


"Itu uang untuk mu, pergi sejauh mungkin. Jika kau tertangkap lagi, aku akan menghabisi mu!" Ancam Remon sambil melemparkan segepok uang.


"Uang sebanyak ini untuk ku?" Tanya Amara tidak percaya seolah ia menunjukkan diri belum pernah melihat uang sebanyak ini.


"Kau sangat norak. Apa kau tidak pernah melihat banyak uang?" Tanya Remon mencibir.


"Seberapa besar gaji seorang pelayan cafe?" Amara balik bertanya.


"Ambil uang itu, anak buah ku akan mengantar mu ke stasiun!"


Dengan wajah rakus Amara langsung mengambil uang tersebut kemudian mengikuti salah seorang anak buah Remon.


"Apa kau yakin membebaskan perempuan itu?" Tanya James.


"Kita tidak ada urusan dengan perempuan itu, jika dia benar-benar kesayangan Sean, sudah sejak tadi Sean menyerang kita. Nyatanya, sampai malam begini tidak ada!"

__ADS_1


"Hem, kau benar. Itu artinya perempuan ini tidak penting!" Jawab Remon.


Amara bisa bernafas lega karena sekarang ia bisa bebas dari cengkraman Remon. Anak buah Remon benar-benar mengantar Amara pergi ke stasiun tanpa di kawal.


Amara memastikan pria yang mengantarnya pergi terlebih dahulu setelah itu ia langsung pergi mencari taksi. Amara tidak langsung kembali ke mansion, perempuan ini memutuskan untuk pergi ke apartemen yang pernah ia tempati bersama Sean beberapa waktu yang lalu.


Sungguh, Amara bisa bernafas lega sekarang. Ia menghabis banyak air karena tenggorokannya sangat kering setelah banyak membual pada Remon.


Amara menggunakan telpon rumah untuk menghubungi mansion. Untung saja di daftar buku telpon tertulis nomor telpon mansion.


Di mansion, pak Pet melajukan langkahnya untuk mencari Sean yang saat ini masih sibuk mengatur rencana untuk membebaskan Amara di tengah malam nanti.


"Ada apa pak Pet?" Tanya Sean heran karena tidak seperti biasanya pak tua ini masuk tanpa mengetuk pintu.


"Nona Amara menelpon dari apartemen xxxx." Kata pak Pet memberitahu.


Mata Sean dan Leon melebar tidak percaya.


"Jangan bercanda wahai pak tua, aku akan memenggal kepala mu jika kau berani membohongi ku!" Ancam Sean.


"Saya tidak bohong tuan, untuk kali ini saya berani mempertaruhkan kepala atas dan kepala bawah saya," ucap pak Pet.


Mendengar pernyataan pak Pet, Sean bergegas pergi ke apartemen. Kali ini ia melewati jalan pintas. Leon yang juga ikut untuk memastikan keberadaan Amara.


Setengah jam perjalanan dengan mengemudi membabi buta akhirnya Sean dan Leon sampai di apartemen.


Sean membuka pintu, ternyata benar saat ini Amara sedang tidur di balik selimut.


"Menurut mu, kenapa Remon membebaskan Amara? Ada konspirasi kah?" Tanya Leon curiga.


"Aku juga tidak tahu, beri kode pada semua anak buah untuk berjaga-jaga di apartemen ini." Titah Sean.


Sean masuk ke dalam kamar, merasa penasaran pria ini langsung membangunkan istrinya.


"Amara, bangun!" Sean menyentuh lembut pipi sang istri.


Amara menggeliat, di bukannya mata sebelah melirik ke arah Sean.


"Suami ku....!" Ucapnya senang lalu memeluk Sean. "Aku rindu pada mu...!"


"Jangan peluk dan cium aku sampai kau menjelaskan kenapa kau bisa lepas dari Remon?"


"Oh, masalah itu. Aku membual!" Jawab Amara dengan santainya.


"Membual maksud mu bagaimana?" Tanya Sean tidak mengerti.

__ADS_1


"Ya aku membohongi dia...!"


"Jelaskan!" Pinta Sean.


"Kita bicara di luar saja sambil makan, aku lapar sekarang!"


Mau tidak mau Sean menuruti permintaan istrinya terlebih dahulu. Sambil makan, Amara menceritakan apa yang sudah terjadi.


Sean dan Leon hanya bisa diam dan tercengang mendengarkan cerita Amara yang sangat tidak masuk di akal. Lebih tidak masuk di akal lagi saat Amara mengeluarkan segepok uang.


"Aku bebas berkat kelicikan ku, bukan karena bantuan mu!" Ucap Amara dengan bangganya.


"Tapi, kau sudah menjual nama ku dengan sangar jelek!" Sahut Sean.


"Karena nama mu sudah menyelamatkan nyawa ku," ucap Amara. "Lumayan dapat segepok, buat beli ice cream sama tempatnya!"


"Amara, kau sangat keren. Bisa-bisanya Remon terkecoh pada mu." Ucap Leon memuji.


"Aku hebatkan?"


"Sangat hebat!" Jawab Leon.


"Mulai sekarang, selain bersama ku, kau tidak boleh pergi kemana pun!" Kata Sean mendadak kesal.


"Aku masih lapar, mereka tidak memberi ku makan. Sayang, aku ingin makan udang rebus!" Pinta Amara di tengah malam begini.


"Sekarang sudah jam sebelas malam, kemana aku harus mencari udang rebus?" Tanya Sean yang tak habis pikir dengan permintaan istrinya ini.


"Aku tidak mau tahu, aku mau udang rebus sekarang juga!"


"Kalau masalah ini, aku tidak ingin ikut campur!" Kata Leon kemudian pergi.


Sean mengacak rambutnya frustasi, baru sekarang ia menemukan perempuan yang benar-benar menguji kesabaran Sean.


"Kalau begitu, kita pulang ke mansion sekarang!" Ujar Sean langsung di tahan oleh Amara. "Kenapa lagi?"


Amara tersipu malu, tentu saja ini membuat Sean harus sabar menahan emosinya.


"Aku sedang ingin," ucap Amara dengan suara manjanya.


"Sedang ingin apa?" Tanya Sean tidak mengerti..


"Aku ingin berkeringat dengan mu malam ini," jawab Amara malu-malu.


Sekali lagi Sean tercengang, seharian di culik dan membuat kepala Sean sakit, tapi setelah pulang malah memikirkan urusan ranjang.

__ADS_1


Sean tak bisa menolak apa lagi saat Amara berhasil membangunkan tongkat tegak berdiri milik Sean.


__ADS_2