
Sejak hari itu, Remon menjadi sosok yang pendiam. Sudah hampir dua minggu semua anak buahnya tidak ada melakukan pekerjaan sampai membuat James merasa bingung pada sikap Remon yang tiba-tiba berubah menjadi pendiam ini.
Hampir setiap sore Remon pergi ke makam almarhum ibunya tapi ia sendiri tidak menghiraukan pemakaman sang ayah yang di adakan oleh Sean.
"Bu, orang dulu membuat ibu menderita sudah menyusul ibu. Orang yang dulu selalu memukul kita dan membuat hidup kita menderita. Aku masih ingat betul bagaimana sakitnya ibu saat menangkap basah ayah yang sedang bercinta di kamar kalian bersama seorang pembantu." Ucap Remon yang kembali terbayang pada rasa sakit yang di rasakan oleh almarhum ibunya.
Sampai senja datang, tapi pria ini masih betah berlama-lama di sana. Hidup sebatang kara sekarang, pria tak berhati ini tega membunuh ayahnya sendiri.
"Aku tahu kau pasti ada di sini, Remon." Ucap Sean yang tiba-tiba muncul di sana.
"Mau apa, kau?"
"Sudah waktunya kau memikirkan kebahagiaanmu sendiri, Remon." Ucap Sean yang mengingatkan. "Seharusnya kau menikah sekarang!"
"Aku tidak tertarik untuk menikah." Ucap Remon membuat Sean heran.
"Kenapa?"
"Bagiku, selama aku belum bisa membagi waktu dan membuat pasanganku merasa nyaman, aku belum ingin menikah apa lagi kehidupanku begitu gelap sekarang!" Jawabnya seketika membuat Sean merasa tersinggung.
__ADS_1
"Kalau begitu, sudahi permusuhan kita ini. Tidak akan ada habisnya!"
"Apa kau ingin mengaturku sekarang?"
"Tidak juga, aku sudah pusing mengatur istriku jadi aku tidak mau menambah beban!"
"Pergilah, jangan ganggu aku!" Usir Remon.
Sean pun pergi, terserah apa yang ingin di lakukan oleh Remon selama pria ini tidak melakukan hal yang jahat. Setelah Sean pergi, Remon juga pergi sana.
Terus memutari jalanan dengan pikiran yang tidak jelas. Tanpa sengaja Remon melihat Sean dan Amara keluar dari mobil dan masuk ke dalam restoran.
"Hai, kenapa kau duduk sini?" Tegur Sean yang tidak terima.
"Suka-suka aku!" Jawab Remon. "Hai Amara, tadi sore suamimu bilang padaku jika kau adalah beban!" Ucap Remon dengan santainya sampai membuat mata Sean melebar.
Dengan mata melotot Amara melihat suaminya.
"Benar seperti itu?" Tanya Amara yang tidak terima.
__ADS_1
"Sayang, bajingan ini berbohong. Kenapa kau harus percaya pada Remon?"
"Percaya padaku, dia bilang kau adalah beban!" Sekali lagi Remon mengompori.
Mendidih darah Amara mendengarnya.
"Sialan!" Umpat Sean yang geram. "Jangan merusak selera makan istriku yang sedang hamil!"
Remon mengangkat kedua bahunya kemudian pria ini dengan santainya mengambil makanan milik Sean yang baru saja di hidangkan.
"Sayang, makanlah." Ucap Sean dengan nada lembut sebab iya takut.
Melihat sikap Sean yang takut pada istrinya menjadi hiburan tersendiri bagi Remon yang masih bersedih atas perjalanan hidupnya.
Tanpa banyak bicara, Amara menyantap makanannya.
"Kau.... aku akan membunuhmu nanti." Ucap Sean dengan menekan nada bicaranya.
Di bawah meja, keras Sean menginjak kaki Remon tapi pria ini masih bisa menahannya. Sampai selesai makan, Amara pergi begitu saja tanpa menghiraukan suaminya.
__ADS_1
"Remon, bajingan kau!" Umpat Sean sekali lagi. "Aku akan mengobrak abrik markasmu nanti," ancamannya sebelum pergi.