
Tepat pukul sepuluh pagi, di salah satu gereja yang akan menjadi tempat pemberkatan pernikahan Remon dan Laura sudah sedikit ramai karena mereka sudah sepakat tidak akan mengundang banyak orang karena pernikahan ini terkesan mendadak.
"Hai, Laura. Kenapa tiba-tiba kau memutuskan untuk menikah dengan Remon?" Tanya Rachel yang masih kebingungan. "Ehem, apa kau hamil duluan?" Tuduh Rachel.
"Aku tidak hamil." Sanggah Laura tegas. "Nanti akan aku ceritakan jika aku sudah siap." Ucapnya memberitahu semakin membuat Rachel penasaran.
"Apa pun alasannya, semoga kau sudah yakin dengan keputusanmu ini. Tapi, kau sangat cantik hari ini. Aku belum pernah melihatmu menggunakan make up." Ucap Rachel yang tampak kagum pada kecantikan Laura.
"Terimakasih, Rachel!" Ucap Laura yang sebenarnya merasa sedih.
Setelah beberapa saat, Rachel pun mengantar Laura ke depan pintu gereja. Wanita ini merasa sangat gugup, meskipun begitu tidak mengurangi kecantikannya.
Pintu di buka, semua mata yang berada di dalam tertuju ke arah luar terutama Remon yang saat ini berada di atas mimbar. Pria ini tercengang, ia tidak menyangka jika Laura bisa secantik ini sekarang.
"Astaga, kok dia bisa secantik ini?" Batin Remon.
Tanpa sadar pria ini melangkah menjemput Laura yang sedikit kesusahan berjalan karena ia belum terbiasa mengenakan heels.
"Sayang, aku yakin kalau yang ini Remon pasti tidak akan melepaskannya." Bisik Sean pada Amara.
__ADS_1
"Seharusnya begitu. Menikah itu cukup satu kali saja!" Ucap Amara.
"Kau menyinggungku?"
Amara memutar bola matanya malas.
Suasana mulai hening, acara sakral pengucapan janji suci pun telah di mulai. Remon tidak berani menatap wajah Laura, begitu juga sebaliknya. Sampai cincin di sematkan, keduanya sekarang bingung ingin melakukan apa?
"Ayo cium...!!" Teriak Amara sontak saja membuat Remon dan Laura menjadi panik.
"Sayang....!!" Sean menegur istrinya.
"Sayang, mau kemana?" Tanya Sean saat istrinya beranjak dari tempat duduk.
Sean yang kebingungan pun langsung mengejar Amara keluar.
"Tiba-tiba cemberut, kenapa?" Tanya Sean yang merasa heran.
"Apa kau ingin jika kita menikah dulu tidak romantis-romantisnya? Kalau ingat, sakit hatiku." Ucap Amara.
__ADS_1
"Yang penting sekarang rumah tangga kita bahagia. Kenapa harus mengingat yang sudah berlalu?"
"Sudahlah, aku mau pulang. Sedih hatiku!" Ucap Amara yang benar-benar merasa sedih.
Sean menghela nafas panjang, pria ini pun langsung mengajak istrinya pulang sedangkan Laura dan Remon sekarang akan langsung menginap di salah satu hotel milik Remon.
"Hotel ini milikku, aku punya beberapa hotel dan bisnis lainnya." Ucap Remon memberitahu Laura.
"Aku tidak tanya!" Jawab Laura. "Setelah kita menikah, kita bisa kembali ke kehidupan seperti biasa. Aku akan tetap kembali bekerja!" Ucapnya.
"Tidak bisa seperti itu, kau tidak akan melakukan pekerjaan apa pun karena aku masih sanggup menghidupimu." Ucap Remon tegas.
"Tidak ada cinta di antara kita, kenapa kau harus mengaturku?"
"Karena aku suamimu, jangan lupa jika kita telah mengucapkan janji suci pernikahan. Apa kau ingin menjadi hamba dan istri yang durhaka?"
Laura terdiam, kali ini ia kalah dari Remon. Entah kenapa Remon tersenyum tipis melihat wanita yang telah menjadi istrinya begitu penurut.
"Jadi, sampai kapan pernikahan kita ini?" Tanya Laura membuat Remon terdiam. "Dalam pernikahan ini kita tidak memiliki perjanjian apa pun. Lalu, apa yang harus kita lakukan sekarang?"
__ADS_1
"Nanti malam akan aku jawab, aku mau istirahat. Aku sangat mengantuk!" Ujar Remon yang langsung membaringkan tubuhnya di atas ranjang.