Istri Kedua Mafia

Istri Kedua Mafia
Chapter 50


__ADS_3

Firdan, lebih tepatnya supir pribadi Zevani sudah babak belur di hajar oleh Raul karena botol yang berada di saku jas-nya adalah botol bekas racun.


"Katakan padaku, siapa yang sudah menyuruhmu?" Tanya Raul dengan mata berapi-api. "Apa kau mata-mata dari Sean?"


"Maaf tuan, saya juga tidak tahu kenapa botol racun itu ada di dalam saku. Saya bukan mata-mata Sean, tuan tahu sendiri keluarga saya ada di bawah tangan tuan." Jawab Firdan yang mencoba membela diri.


"Pembohong!" Seru Raul kemudian pria ini kembali menghajar Firdan sampai pria itu tidak sadarkan diri.


Aaaaargh...... Jerit Raul tidak terima karena sang adik akan cacat seumur hidupnya.


"Menurut saya, tidak mungkin Sean mengingat pria itu baru saja pulang dari luar negeri dan sejak pulang tidak pernah keluar." Kata Zahid memberitahu Raul.


"Tapi, bisa saja dia memerintah anak buahnya." Jawab Raul yang sudah yakin jika semua ini perbuatan Sean.


"Maaf tuan, ini masalah tentang keluarga. Jadi, menurut pemikiran saya sudah pasti Sean akan membalasnya dengan tangannya sendiri."

__ADS_1


Zahid ada benarnya juga, tapi entah kenapa Raul begitu yakin jika semua ini perbuatan Sean. Tapi, Raul tidak ingin menuduh sembarangan mengingat Sean bukan orang sembarangan.


Kacau, keadaan Raul sekarang sangat kacau. Adik perempuannya di nyatakan cacat seumur hidup, markasnya di serang sampai rusak parah bahkan beberapa anak buahnya meninggal dunia.


"Maaf tuan, salah satu orang kepercayaan Sean datang memberitahu jika Sean meminta bertemu empat mata dengan tuan malam ini." Kata Zahid memberitahu Raul.


"Apa kita ada masalah dengan dia?" Tanya Raul keheranan.


"Tidak ada, malam ini jam sebelas malam di gudang muda perbatasan kota. Hanya sendiri, semua anak buah hanya boleh menunggu dari jarak lima ratus meter."


"Hem, aku akan datang!" Jawab Raul yang penasaran.


Sampai waktunya tiba, Raul saat ini sedang menyiapkan bekal beberapa senjata tajam yang ia sembunyikan di dalam pakaiannya. Setelah di rasa cukup, pria ini pun pergi memenuhi panggilan Sean.


"Apa kabar, Raul?" Sapa Sean yang ternyata saat ini sedang duduk santai bersama Amara.

__ADS_1


Amara, perempuan ini akan selalu ikut kemana pun suaminya pergi meskipun saat ini ia sedang hamil.


"Apa perempuan itu untuk ku?" Ujar Raul menggoda.


"Cih, aku tidak tertarik dengan laki-laki najis seperti mu!" Sahut Amara seketika membuat Raul naik darah.


"Dia istriku, kau pasti sudah tahu akan hal itu." Kata Sean memberitahu.


"Jangan banyak bicara, katakan saja kenapa kau mengajak aku bertemu?"


"Hanya ingin menanyakan kabar adikmu," jawab Sean dengan senyum lebarnya. "Apa adikmu sehat?" Tanya Sean membuat darah Raul mendidih.


"Bajingan!" Umpat Raul. "Aku tahu semua itu perbuatan mu, Sean." Ucapnya dengan Perasaan emosi.


"Kita impas, Raul!" Jawab Sean. "Tapi, aku hanya ingin melihat kematian mu malam ini agar kau bisa menangis di neraka saat melihat adik mu menderita di dunia."

__ADS_1


Mendengar perkataan Sean, pria yang sedang diliputi amarah tersebut langsung menyerang Sean. Keduanya pun berkelahi, mengadu kekuatan yang entah siapa akan menang sedangkan Amara hanya duduk melihat pertarungan suaminya bersama Raul.


"Nyawa harus tetap di bayar nyawa, Raul!" Ucap Sean yang kalah tak emosi apa lagi bayangan wajah adiknya hadir memenuhi ruang hatinya malam ini.


__ADS_2