Istri Kedua Mafia

Istri Kedua Mafia
Chapter 49


__ADS_3

"Apa yang sudah terjadi pada adik ku? Kenapa dia sampai seperti ini?" Raul mengamuk di rumah sakit. Pria ini tidak terima jika sang adik perempuan di nyatakan cacat seumur hidup saat Dokter mengkonfirmasi jika Zevani terkena racun.


"Kami sudah mengecek minuman yang di makan nona Zevani terakhir kali, tuan. Hasilnya positif mengandung racun." Ucap Zahid memberitahu Raul.


"Apa racun ini memiliki penawar?" Tanya Raul pada Dokter yang menangani adiknya.


"Masih kami lakukan uji coba, tuan. Tapi, sebisa mungkin kami akan berusaha yang terbaik."


Raul menghela nafas panjang, meskipun ia tidak begitu dekat dengan adik perempuannya, tapi pria ini selalu menjaga adiknya.


"Bajingan mana yang sudah berani meracuni adikku? Apa Sean sudah mengetahui rahasia kematian adiknya?" Batin Raul mulai gelisah.


"Maaf tuan, kami sudah melakukan penyelidikan di cafe tersebut dan hasilnya nihil. Kemungkinan besar ada orang lain yang meracuni nona Zevani." Ucap Zahid melapor semakin membuat Raul naik pitam.


"Katakan saja yang jelas, apa kalian sudah menemukan pelakunya?" Tanya Raul membentak.


"Saat kami melakukan penyelidikan, kami menemukan satu botol kecil di dalam saku jas milik supir nona Zevani. Tapi, sampai sekarang kami tidak berani berspekulasi jika itu botol racun karena Firdan mengaku jika botol itu bukan miliknya." Jelas Zahid.


"Dan kau percaya begitu saja?"


Zahid tidak menjawab.


Bug.... bug..... Raul yang emosi langsung memukul Zahid.

__ADS_1


"Cepat selidiki botol itu dan tahan supir sialan itu." Titah Raul yang geram.


Raul mengusap wajahnya frustasi, ia bingung sendiri sekarang.


"Jika Sean sudah mengetahuinya, seharusnya dia sudah membunuh ku sekarang." Ucap Zahid dalam hati.


"Maaf tuan, saya baru saja mendapatkan laporan jika markas kita sudah di serang geng Bruiser." Ucap Zahid memberitahu dengan wajah panik.


Aaaaargh.......


"Bajingan!" Umpat Raul.


Serba salah, di satu sisi Raul harus mempertahankan markasnya di sisi lain ia harus menjaga adiknya perempuannya.


"Sekali tepuk dua nyamuk dapat. Akhirnya mereka bermusuhan juga." Ucap Sean tertawa puas.


"Sayang, kau pikir ide kemarin gratis?" Amara buka suara.


"Hem, apa yang kau inginkan sayangku, cintaku?"


"Tidak ada!" Jawab Amara singkat.


"Kau ini, suka sekali seperti itu."

__ADS_1


"Ada yang menantang mu bermain judi." Ujar Leon memberitahu Sean.


Seketika Sean melirik Leon dengan sangat tajam.


"Dia meminta hotel mu yang berada di perbatasan kota jika dia menang." Lanjut Leon memberitahu.


"Kalau Sean menang, apa yang akan dia dapat?" Tanya Amara penasaran.


"Hotel Kelambu Rindu yang ada di kota K akan menjadi milik Sean." Jawab Leon membuat Amara tertawa terbahak-bahak.


"Kenapa kau tertawa?" Tanya Sean heran.


"Astaga, ada-ada saja. Kenapa namanya harus kelambu Rindu?"


"Itu salah satu hotel tua bergaya Eropa. Harganya pasti sangat mahal." Jawab Leon lagi.


"Sayang, ambil saja tantangannya." Kata Amara yang malah mendukung.


"Kau mengizinkan aku bermain judi?" Tanya Sean tidak percaya.


"Ya. Tapi, jika kau menang kau harus mengganti nama hotel itu." Pinta Amara.


Sean menelan ludahnya kasar, biasanya Amara akan sangat marah jika membahas masalah judi karena ia pasti akan ingat pada dirinya yang di jadikan taruhan di atas meja judi.

__ADS_1


"Sayang, aku ikut ya kalau kau bermain judi." Ujar Amara semakin membuat Sean bergeleng kepala dengan sikap istrinya.


__ADS_2