
Dua minggu berada di rumah sakit, pada akhirnya Amara bisa pulang dengan membawa nanti mungil mereka. Segala macam persiapan telah di atur pak Pet dengan sangat baik bahkan beliau merasa sangat bahagia atas kelahiran anak Amara dan Sean.
Yang membuat Amara merasa terhibur saat ini pak Pet rela mengenakan seragam layaknya seorang perawat.
"Gajimu aku naikan, pak Pet." Ucap Sean.
"Tidak usah tuan," tolak pak Pet. "Saya senang bisa mengabdi pada keluarga tuan, saya merasa seperti memiliki keluarga lagi." Ucapnya membuat Sean merasa terharu.
"Terimakasih, pak Pet." Ucap Sean.
Pak Pet undur diri kebelakang, sedangkan Sean kembali ke kamarnya untuk memastikan jika keadaan istri dan anaknya baik-baik saja.
"Aku ingin menaikan gaji untuk pak Pet, tapi dia menolak. Sayang, hadiah apa yang pantas untuk pak Pet?" Tanya Sean pada istrinya.
"Beri dia hadiah istri." Jawab Amara tanpa berpikir panjang.
"Maksudnya gimana?" Tanya Sean bingung.
__ADS_1
"Kita harus mencarikan pak Pet seorang istri biar dia bisa bahagia di masa tuanya. Sayang, kau bisa ambil dari yayasan seorang pengasuh, tapi cari yang masih janda dan seumuran dengan pak Pet. Jangan lupa, yang baik dan lemah lembut keibuan seperti aku ini."
"Ide yang bagus, tapi apa pak Pet mau menikah lagi sedangkan dia sangat setia pada almarhum istrinya?"
"Seperti kita, cinta akan datang dengan seiringnya waktu. Percaya padaku, tugas kita sekarang hanya mengatur jodoh untuk pak Pet, Leon dan Remon sialan itu." Ucap Amara.
"Kita bukan biro jodoh!" Seru Sean.
"Bukan itu yang aku maksud, orang seperti Remon itu harus di hadirkan seorang perempuan yang baik dan lembut."
Sean membuang nafas kasar, ada saja pekerjaan yang di beri istrinya ini tapi apa yang di katakan Amara ada benarnya juga.
"Jadi, maksudmu anak kita harus bekerja gitu? Enak saja!" Sahut Amara yang tidak terima.
Entah keajaiban dari mana yang di dapatkan Amara ini, sebab kondisi tubuhnya sangat cepat sekali pulih meskipun begitu ia belum di perbolehkan untuk melakukan aktifitas yang berat.
Makan malam yang cukup ramai karena malam ini ada Remon, James dan Leon yang sengaja datang ke mansion untuk membicarakan sesuatu dengan Sean.
__ADS_1
"Kenapa tidak kau tinggal saja anakmu di kamar?" Protes Remon saat melihat box bayi yang berada di samping Sean.
"Suka-suka kami lah!" Sahut Amara.
"Ngomong-ngomong, siapa namanya?" Tanya Remon. "Sudah dua minggu lahir tapi kalian belum memberitahu namanya pada kami semua."
"Nah, iya benar!" Sahut Leon.
"Panggil saja dia, Aaron." Jawab Sean begitu bangga.
Terpancar sekali aura kebanggaan dari wajah Sean sampai membuat ketiga pria di hadapannya merasa sangat iri.
"Tiba-tiba saja aku merasa iri," ucap Leon.
"Makanya, cepat menikah. Jangan senjata terus yang kau peluk setiap malam." Singgung Amara.
"Mulut istrimu ini sepertinya harus di tombak," ucap Remon yang benar-benar geram.
__ADS_1
"Tidak masalah kalau di tombak menggunakan tombak suamiku," sahut Amara seketika membuat semua orang terdiam sedangkan Sean hanya bisa menelan makanannya yang baru dua kali dia kunyah.
Di mansion seluas ini, tidak ada yang berani melawan ucapan Amara selain Remon yang sekarang mulai bekerjasama dengan Sean.