Istri Kedua Mafia

Istri Kedua Mafia
Chapter 87


__ADS_3

"Bagaimana jika aku dan perempuan ini menikah pura-pura-pura saja?" Leon membuat penawaran.


"Sayang....!!" Rengek Amara. "Kalau mereka tidak menikah beneran, aku tidak mau makan!"


"Hai Amara, jangan seperti anak kecil. Apa kau tidak kasihan pada anakmu?" Leon semakin kesal pada Amara.


Amara memanyunkan bibirnya kemudian ia menangis. Leon mengacak rambutnya frustasi, baginya pernikahan bukan untuk main-main.


"Leon, punya istri itu enak. Kalau tegang, tinggal masuk ke sarang!" Goda Remon.


"Diam kau! Bajingan!" Sentak Leon.


Pria ini keluar dari kamar Sean dan Amara sambil mengomel mengeluarkan sumpah serapahnya. Pria ini bermaksud untuk menemui Rachel di Paviliun, tapi berulang kali Leon memanggil Rachel, perempuan itu tidak keluar juga hingga pada akhirnya ia memutuskan untuk masuk ke dalam tanpa permisi.


Paviliun ini hanya dilengkapi dengan tiga kamar, satu kamar mandi, dapur dan ruang tamu. Leon terus memanggil nama Rachel, tapi tetap saja tidak ada respon.


"Dimana dia bersembunyi? Amara yang hamil, orang lain yang susah. Suami istri sama saja!" Gerutu Leon yang duduk di kursi meja makan.

__ADS_1


Tapi, tiba-tiba saja pintu kamar mandi terbuka. Dengan santainya Rachel keluar dari kamar mandi dengan handuk yang membalut setengah badan.


"Bajingan...!!" Jerit Rachel yang terkejut saat melihat Leon yang duduk di ruang tamu.


Leon sama terkejutnya, pria ini hanya melongo melihat Rachel saat ini berlari menuju kamar dengan tubuh putih polos body aduhai. Baru sekarang Leon melihat tubuh Rachel karena selama ini ia selalu mengenakan pakaian serba hitam.


Nafas Leon keluar masuk tak beraturan, dadanya terasa panas menahan gejolak yang muncul begitu menggelora. Secara tidak sadar, Leon meremas burung miliknya.


Aaaaargh.... "Sialan!" Umpat Leon kemudian pria ini pergi dari Paviliun sedangkan Rachel masih berganti pakaian.


"Besok aku akan menikahi Rachel. Puas!" Ucapnya tiba-tiba begitu mengejutkan Sean dan Remon.


Kedua pria ini langsung berdiri, menatap Leon secara bergantian.


"Tiba-tiba minta nikah. Kerasukan setan dari mana?" Ujar Sean yang merasa heran.


Bukannya menjawab, Leon justru masuk ke dalam kamarnya yang berada di lantai dua. Pria ini membaringkan tubuhnya di atas ranjang, tapi bayangan kulit putih mulus milik Rachel terus menari-nari di kelopak mata. Bukan tidak pernah melihat wanita cantik dan seksi, hanya saja saat ia melihat Rachel tadi, ada rasa yang berbeda..

__ADS_1


Setelah berganti pakaian, Rachel kembali ke mansion untuk mencari Leon yang sudah berani masuk ke Paviliun tanpa permisi. Tapi, saat ia melihat Sean dan Remon, nyalinya mendadak ciut.


"Rachel, tadi Leon sudah setuju untuk menikahimu. Jadi, mau tidak mau kau harus setuju." Ucap Sean memberitahu.


"Tapi tuan, saya berhak menolak!"


"Berani menolak, itu artinya kau sudah berani menentang perintahku." Ucap Sean dengan wajah dingin menakutkan.


Laura menghampiri Rachel, merayu wanita ini agar ia mau menikah dengan Leon. Laura mengajak Rachel keluar untuk berbicara berdua.


"Percayalah Rachel, menikah tidak begitu buruk. Nyatanya aku bisa mencintai Remon."


"Kau mencintai Remon? Bukankah kau sangat membenci dia?"


"Terserah padamu. Tapi, kalau aku jadi dirimu, lebih baik aku menikah dari pada nyawa menjadi taruhannya. Lagian, Leon tidak begitu buruk, dia tampan dan mapan."


Rachel mendengus kesal, wanita ini memutuskan kembali ke Paviliun untuk sekedar menenangkan diri yang penuh tekanan.

__ADS_1


__ADS_2