Istri Kedua Mafia

Istri Kedua Mafia
Chapter 39


__ADS_3

"Sudah hampir setengah bulan tidak ada aktifitas malam. Leon, apa tidak ada transaksi yang mencurigakan?" Tanya Sean sedikit heran.


"Menurut ku, mereka sedang mengatur rencana agar kita tidak tahu. Aku juga heran, dua minggu terakhir tidak ada aktifitas yang mencurigakan."


"Maaf tuan, ada kabar dari panti jika pak tua itu baru saja mati." Ucap pak Pet memberitahu


Aaaaargh.....


Sean menggebrak meja kaca tersebut sampai pecah.


"Jika dia mati, siapa yang akan memberitahu ku orang yang sudah membunuh adik ku?"


"Sabarlah, pasti ada jalan." Ucap Leon menenangkan.


"Sebelum mati, dia menulis sesuatu jika jawabannya ada di sekolah." Ujar Pak Pet memberitahu lagi.


"Di sekolah?" Sean mengulangi. "Maksudnya pembunuhan dan pemerkosa adik ku ada di sekolah?"


"Itu artinya ada yang salah di sekolah Shena dulu," ucap Leon.


"Tunggu, sekolah Shena milik pribadi. Leon, tolong cari tahu siapa pemilik dari sekolah itu karena selama ini aku hanya mengenal dengan kepala yayasannya saja."


"Aku benar-benar tidak mengerti sekarang, Shena di buhun dan di temukan di sebuah gudang kosong lalu apa hubungannya dengan sekolah?"


"Kalau begitu, aku minta kau mengecek semua rekaman cctv di sekitar sekolah Shena dulu. Jangan sampai masuk ke dama sekolah, itu pasti akan mencurigakan nanti."


"Baiklah....!" Jawab Leon.


Sean dan Leon memiliki satu orang anak buah yang bisa meretas dalam bentuk apa pun. Identitas yang sengaja di sembunyikan, entah kenapa sekarang Sean mulai tertarik untuk membuka lagi kasus kematian adiknya setelah sekian tahun.


Amara yang sejak tadi mengintip di balik pintu yang tidak tertutup rapat mendengar semua pembicaraan suaminya. Amara bergegas pergi ke kamar agar ia tidak ketahuan oleh Sean.


"Aku tidak tahu sekarang aku menikahi lelaki mafia atau psikopat? Aku yakin Sean punya alasan sendiri melakukan semua ini." Ucap Amara dalam hati.


Klek...


Pintu kamar di buka, Sean pun masuk ke dalam kamar menghampiri istrinya.


"Sayang, aku harus ke rumah sakit sekarang." Kata Sean memberitahu.


"Siapa yang sakit?" Tanya Amara.

__ADS_1


"Aku mendapatkan kabar dari rumah sakit jika ada seorang ibu-ibu yang ingin menjual ginjalnya. Aku hanya ingin tahu letak masalahnya dulu."


"Apa aku boleh ikut?" Tanya Amara.


"Tentu saja boleh, ayo pergi sekarang!"


Bergegas mereka pergi ke rumah sakit milik Sean. Tak banyak orang yang mengetahui jika rumah sakit ini adalah milik Sean bahkan Remon sendiri tidak tahu.


Duduklah seorang ibu-ibu di depan Sean dan Amara dengan wajah sembabnya. Amara merasa iba pada perempuan paruh baya yang bernama Lina.


"Kenapa ibu ingin menjual ginjal ibu di rumah sakit kami?" Tanya Sean.


"Anak saya mengalami kecelakaan dua bulan yang lalu dan sampai sekarang dia masih koma. Segala harta benda sudah habis terjual demi biaya pengobatan. Satu minggu lagi masa pengobatan anak saya sudah habis dan saya tidak punya uang untuk memperpanjang, makanya saya berniat untuk menjual ginjal saya." Jelas ibu Lina dengan isak tangisnya.


"Sayang, kasihan. Bantu ibu ini...!" Pinta Amara.


"Tanpa kau minta, sudah pasti aku akan membantunya." Jawab Sean. "Ibu tenang saja, semua biaya rumah sakit akan kami tanggung sampai anak ibu sembuh."


"Terimakasih tuan," ucap ibu tersebut dengan tangis bahagianya. "Terimakasih tuan, semoga rezeki tuan berlimpah, sehat selalu, istri tuan cepat hamil."


Sean tersenyum mendengar doa dari ibu tersebut, setelah beberapa saat Sean pun mengajak Amara pergi ke ruangannya.


"Kau jauh-jauh dari mansion hanya untuk menemui ibu itu?" Tanya Amara tidak percaya.


"Suami ku paket sempurna," puji Amara. "Tapi, sekarang aku lapar. Aku ingin makan kepiting Alaska."


"Tidak kira-kira, dari mana kau tahu ada kepiting Alaska?" Tanya Sean yang heran pada istrinya.


"Menonton drama kemarin, sepertinya enak. Sayang, aku ingin makan!" Rengek Amara.


"Korban drama. Sebentar, aku akan bertanya pada teman-teman ku di mana ada restoran yang menghidangkan menu kepiting Alaska."


"Aku juga ingin makan kebab Turki," ucap Amara.


"Hem, nanti kita cari....!"


"Maksud ku makanannya langsung di negara Turki....!" Jelas Amara.


"Amara, jangan bercanda....!"


Tiba-tiba saja kedua mata Amara berkaca-kaca, setetes air mata jatuh membasahi pipi sampai membuat Sean harus menarik nafas dalam-dalam.

__ADS_1


"Kau janji ingin mengajak ku liburan ke luar negeri, mana? Kau pembohong, aku benci dengan mu!" Ucap Amara dengan suara bergetar kemudian ia keluar dari ruangan Sean. Ruangan yang sangat jarang sekali Sean masuki.


Mau tidak mau Sean mengejar istrinya. Saat hendak masuk ke dalam lift, tiba-tiba saja Amara jatuh pingsan. Sean yang melihat hal tersebut langsung panik dan langsung membawa istrinya kembali ke ruangannya.


Sean memanggil beberapa Dokter yang ada di rumah sakit untuk mengecek kondisi istrinya. Meskipun Sean ada gelar Dokter, tapi dia hanya seorang Dokter bedah.


"Kenapa kalian semua menatap ku seperti itu? Cepat periksa istri ku!" Sentak Sean membuat empat orang Dokter, dua perempuan dan dua orang laki-laki itu menjadi panik.


Sepuluh menit telah berlalu, tapi Amara belum sadar juga.


"Kenapa lama sekali, istri ku kenapa?" Tanya Sean dengan nada tinggi.


"Istri tuan kelelahan, untung saja kandungannya tidak apa-apa." Ucap salah seorang Dokter dengan ekspresi wajah ketakutan.


Sean mengerutkan dahinya tidak percaya mendengar perkataan dari bawahannya ini.


"Maksud kau, istri ku hamil sekarang?" Tanya Sean tidak percaya. "Bicara yang jelas!" Sentak Sean semakin membuat keempat orang di depannya ketakutan.


"Iya tuan, istri anda hamil delapan minggu sekarang!"


"Jika kalian salah memeriksa, akan ku pecat tanpa pesangon kalian semua. Cepat bawa istri ke ruang Ultrasonografi (USG)" Titah Sean.


"Sayang, aku mau di bawa kemana?" Tanya Amara yang tiba-tiba sadar.


" Sayang, kau sudah sadar? Aku sangat khawatir pada mu!"


"Selama kau tidak menuruti permintaan ku, jangan bicara denganku!" Ucap Amara yang baru ingat jika dirinya masih marah.


Sean menghembuskan nafas kasar.


"Heh, cepatlah....!" Titah Sean.


Sekali lagi Amara melakukan pemeriksaan yang lengkap. Sean memperhatikan layar monitor sambil mendengarkan penjelasan dari Dokter kandungan.


"Aku hamil?" Tanya Amara bingung.


"Ya sayang, kau hamil anak ku sekarang." Jawab Sean dengan senyum lebarnya.


"Bukan anak mu karena kau sangat jahat pada ku hari ini," ucap Amara dengan beraninya. Tanpa permisi, Amara menepis tangan Dokter kemudian ia turun dari atas brankar lalu pergi begitu saja.


"Sayang, kau ini kenapa? Hanya karena kepiting dan kebab kau tidak berbahagia mendengar kabar kehamilan mu." Sean mengekor di belakang istrinya.

__ADS_1


"Aku mau pulang, aku tidak ingin melihat mu sekarang!" Ucap Amara dengan raut wajah marah.


__ADS_2