Istri Kedua Mafia

Istri Kedua Mafia
Chapter 77


__ADS_3

Makan malam yang sedikit tegang, bukan untuk Amara dan Sean, melainkan Remon yang bingung ingin mulai dari mana. Sampai makan malam selsai, pria ini mengajak Sean dan Amara duduk di ruang keluarga.


"Sepertinya penting, apa yang ingin kau bicarakan?" Tanya Sean.


Remon tidak menjawab, mata pria ini justru sibuk mencari Laura yang belum juga kelihatan.


"Hai, Salmon. Kenapa kau seperti orang gugup?" Tegur Amara.


"Tidak, aku tidak gugup!" Jawab Remon.


Tak berapa lama, terlihat Laura yang masuk menghampiri mereka. Remon menghela nafas pelan saat melihat Laura datang.


"Laura, ada apa?" Tanya Amara yang pura-pura tidak tahu.


"Hai, duduk sini...!" Titah Remon sambil menepuk-nepuk tempat duduk di sampingnya.


Laura memaksakan senyumnya kemudian wanita ini duduk di samping Remon.


"Kalian ini sebenarnya kenapa?" Tanya Sean yang pura-pura tidak tahu.


"Langsung aja, aku ingin memberitahu kalian berdua jika kami besok akan menikah!" Ucap Remon.


Sean dan Amara pura-pura terkejut agar akting mereka lebih sempurna agi.


"Hah? kok bisa?" Tanya Amara yang tidak percaya.


"Kalian serius akan menikah?" Tanya Sean menimpali.


Remon dan Laura saling toleh lalu menjawab bersama-sama. "Iya...!!"


"Tidak ada angin tidak ada hujan, kenapa kalian tiba-tiba menikah?" Tanya Sean yang sengaja agar rencananya tidak tercium oleh Remon.


"Karena kami saling suka!" Jawab Remon. "Bukankah begitu, sayang?" Tanya Remon pada Laura. Pria ini merangkul pundak Laura demi menyakinkan Sean dan Amara.


"Uh, akhirnya ikan salmon ini menikah juga. Yang halal itu lebih enak dari pada haram!" Singgung Amara.


Remon mendengus kesal mendengar ucapan Amara. Ingin sekali pria ini mencakar mulut Amara, tapi ia sadar pasti dirinya akan kalah.


"Kalau begitu, aku akan mempersiapkan pernikahan kalian." Ucap Sean.


"Yang sederhana saja, hanya di gereja!" Pinta Laura.


Sean mengiyakan, pria ini lancar menghubungi seseorang untuk mengurus pernikahan Remon dan Laura besok.

__ADS_1


Laura dan Remon pun kembali ke kamar masing-masing. Sebenarnya Remon sedikit heran dan curiga pada sikap Sean, tapi pria ini mencoba berpikir positif.


"Sayang, berhasil." Ucap Amara dengan nada pelan.


"Akhirnya bajingan itu menikah juga!" Ujar Sean yang merasa lega. Setidaknya ada orang yang bisa menjadi tempat berpulang bagi Remon sekarang.


Suami istri ini pun kembali ke kamar, masih dua orang lagi yang harus mereka selesaikan sampai ke pelaminan.


"Kupikir pak Pet dan Suster Belina akan duluan menikah. Ternyata Remon dan Laura lebih cepat." Ucap Amara.


"Berkat dirimu, mansionku ini jadi tempat pencarian jodoh!"


"Janganlah seperti itu, sayang. Yang terpenting saudara sepupumu itu bisa menikah." Ucap Amara.


"Kalau begitu, kita main dulu sebentar!" Rayu Sean.


"Sayang, kita main di kamar atas yuk!" Ajak Amara. "Aku rindu kisah cinta kita di kamar atas." Ujar Amara.


Sean mengiyakan, apa lagi sekarang mereka bisa menghabiskan waktu berdua karena baby Aaron tidur di kamarnya sendiri di temani Suster Belina.


Pergilah mereka kamar yang ada di lantai tiga. Kamar tanpa peredam suara karena sudah di lepas oleh Sean.


"Kamar penuh cinta, karena di kamar ini lah Aaron di bentuk." Ucap Amara membuat Sean tertawa.


Pria ini langsung menanggalkan semua pakaiannya, kemudian melepas semua pakaian istrinya. Sedikit pemanasan, Sean sangat pandai dalam memancing hasrat istrinya.


Di sisi yang berbeda, saat ini Remon sedang menaiki tangga menuju lantai tiga. Niat hati pria ini ingin bersantai di atas loteng, menyegarkan pikiran yang sedikit kusut.


Baru saja Remon hendak melintasi kamar tersebut, tiba-tiba saja langkahnya terhenti. Sayup-sayup terdengar suara yang begitu tidak asing terdengar telinga.


"Ouh... sayang, aku suka kau malam ini. Terus, terus seperti itu sayang. Goyang... goyang yang lembut. Kau menjepitku, ouh... ini sangat nikmat." Rintihan kenikmatan yang baru saja keluar dari mulut Sean seketika membuat tubuh Remon menegang.


"Aku lelah sayang, gantian kau yang yang jadi kudanya!" Ucap Amara.


Bukannya pergi, Remon semakin penasaran apa yang akan terjadi selanjutnya.


"Kau begitu sempit, sayangku!" Ucap Sean.


Remon masih menguping suara-suara indah di dalam kamar tersebut.


"Ouh... pelan-pelan suamiku." Rintih Amara.


Sean terus menggoyangkan pinggulnya sampai terciptanya irama yang begitu memekik telinga.

__ADS_1


"Suamiku, aku mau keluar!" Lirih Amara.


"Sabar sayang, mari kita keluarkan bersama-sama." Ujar Sean yang kembali mempercepat gerakannya.


Remon masih berdiri menguping, di telinganya terdengar jelas suara lirih kenikmatan, lenguhan manja hingga..... aaaaaarh..... aaaaarh..... mata Remon melebar saat ia mendengar suara erangan penuh kenikmatan di sana. Pria ini hanya bisa menelan saliva-nya kasar terlebih lagi saat ini burung hantu di dalam celananya sudah bangun dan menegang.


"Sean, bajingan kau! Brengsek!" Umpat Remon dengan menekan suaranya.


Pria ini tidak jadi bersantai menikmati angin malam, Remon kembali ke kamarnya bahkan pria ini langsung mengguyur tubuhnya dengan air dingin.


Sejak ia ikut bersama Sean, pria ini tidak pernah lagi tidur dengan wanita malam yang selalu ia bayar.


"Bajingan! Brengsek! Bisa-bisanya mereka melakukan hubungan suami istri tidak kenal tempat!" Gerutu Remon yang ternyata panas juga mendengarnya.


Puas mendinginkan tubuhnya, Remon pun langsung menyudahi acara mandi malamnya kemudian berganti pakaian setelah itu berniat ingin pergi ke dapur.


"Hai, mau kemana?" Tegur Sean yang ternyata sudah selesai.


Remon melirik tajam ke arah Sean.


"Jangan mentang-mentang kau punya istri, jadi enak jidatmu melakukannya sesuka hatimu sampai membuat suara menjijikan seperti itu." Ucap Remon membuat Sean mengerutkan keningnya kebingungan.


"Kau ini kenapa? Kalau sakit jiwa, pergi ke rumah sakit jiwa...!" Sahut Sean yang merasa aneh pada sikap Remon.


"Aku ingin adu tanding denganmu malam ini." Tantang Remon yang harus menghajar Sean malam ini.


"Baiklah, siapa takut?"


Sean menerima tantangan dari Remon, kedua pria ini langsung pergi ke tempat latihan. Bukan tanding fisik, tapi mereka lebih memilih bertanding menembak jarak jauh tanpa suara.


"Ehem...!!" Sean berdehem sambil mempersiapkan senjatanya. "Apa kau akan kembali tinggal di rumah kakek setelah menikah?" Tanya Sean yang iseng.


"Menurutmu, bagaimana?" Remon balik bertanya.


"Hidup berdua dengan istri jauh lebih baik." Jawab Sean. "Aku tidak tahu sebab apa kau memutuskan untuk menikah dengan Laura. Tapi, aku akan berdoa yang terbaik untuk rumah tanggamu." Ucap Sean.


Remon menatap tajam pada Sean.


"Kenapa kau menatapku seperti itu? Apa kau tidak mencintai Laura?" Tanya Sean sedikit memancing.


Remon mendadak gugup, pria ini tidak menjawab dan langsung menembak target pemula yang berjarak dua puluh meter.


"Hanya dua puluh meter?" cibir Sean sangat menyebalkan.

__ADS_1


__ADS_2