
"Ini batas, awas saja jika kau melewati batasanmu maka aku akan membunuhmu!" Ancam Rachel seraya memberi batas tidur mereka dengan menggunakan guling.
"Terserah kau. Aku mau tidur!"
Leon tidak peduli, pria ini langsung memejamkannya begitu juga dengan Rachel. Sebenarnya kedua manusia ini sama-sama terjaga, tapi keduanya pura-pura tidur saja. Hingga pada akhirnya, tepat pukul dua malam Leon dan Rachel sama-sama memejamkan.
Malam telah berganti pagi, tepat pukul sembilan pagi keduanya belum bangun. Leon yang terbangun lebih dulu merasakan dadanya begitu berat dan nafasnya terasa sesak. Saat Leon membuka mata, betapa terkejutnya ia saat melihat Rachel yang masih terlelap menindih tubuhnya seperti cicak.
"Astaga....!!" Batin Leon.
Ingin sekali pria ini membanting Rachel, tapi niat jahat Leon mendadak lenyap saat ia melihat wajah cantik tanpa make up yang begitu meneduhkan hatinya.
"Dia ini cantik juga, astaga... sial...!" Umpat Leon dalam hati karena ia sadar jika si burung kecilnya sudah bangun dan berubah menjadi besar.
Dada Leon bergemuruh menahan hasrat yang tiba-tiba saja datang tanpa permisi. Pria ini mencubit hidung Rachel hingga membuat wanita ini terbangun.
Aaaaargh..... jerit Rachel yang langsung melompat turun dari tubuh Leon.
"Wah... wah... apa tidurmu nyenyak wahai Nyonya?" Goda Leon.
__ADS_1
"Aku.....!!" Rachel panik sendiri. Wanita ini sadar jika ia tidur pasti seperti cacing kepanasan.
Rachel bingung ingin menjawab apa, wanita ini masuk ke kamar mandi untuk menyembunyikan dirinya.
"Rachel... bodoh sekali dirimu." Wanita ini mengutuk dirinya sendiri.
Leon menggaruk kepalanya tak gatal, pria ini merasa serba salah sekarang. Setengah jam, sampai satu jam Rachel tidak keluar juga dari kamar mandi hingga membuat Leon merasa kesal.
"Cepat keluar!" Titah Leon sambil menggedor pintu kamar mandi.
Rachel yang panik langsung membuka pintu.
Rachel tidak menjawab, wanita ini keluar begitu saja. Leon bergegas masuk untuk mandi dan setelah selesai mandi, pria ini turun untuk sarapan seorang diri. Setelah selesai makan, pria ini kembali lagi ke kamar.
"Sekarang, apa yang harus kita lakukan?" Tanya Rachel yang bingung sendiri.
"Amara adalah perempuan tidak jelas. Bisa-bisanya dia mengidam hal tidak masuk di akal seperti ini." Ucap Leon mulai merasa jengkel.
Suasana kembali hening, mereka berdua tidak saling bicara bahkan Leon hanya sibuk bermain ponselnya sambil rebahan di sofa.
__ADS_1
Singkat cerita malam pun tiba, saat Leon dan Rachel hendak turun makan malam, seorang pelayan datang membawakan makan malam untuk mereka berdua.
"Sangat kebetulan sekali...!" Ucap Leon setengah tertawa.
Bukannya makan malam romantis, mereka berdua justru makan malam terpisah. Leon makan di balkon kamar, sedangkan Rachel makan di dalam. Selesai makan, keduanya sama-sama menikmati teh susu ditempat yang berbeda.
Tapi, tiba-tiba saja Leon merasa ada yang aneh dalam dirinya. Pria ini merasa kepanasan padahal angin berhembus lumayan menusuk tulang. Sama halnya dengan Rachel, wanita ini merasa kepanasan dan memutuskan untuk pergi ke balkon mencari angin padahal pendingin ruangan bekerja dengan baik.
"Malam ini kok panas benget ya." Ucap Rachel.
"Iya...!" Jawab Leon singkat.
Hawa panas mulai menjalar bahkan dada keduanya sama berdebar, mata-mata mereka mulai memerah. Tiba-tiba saja Rachel melepas pakaian luarnya dan tersisa hanya pakaian dalamnya saja.
"Kenapa kau melepas pakaianmu?" Tanya Leon dengan suara beratnya.
Leon menarik Rachel untuk masuk ke dalam, tapi Rachel justru mendorong tubuh pria ini. Leon pun juga sama, pria ini tiba-tiba saja melepaskan semua pakaiannya.
"Panas...!" Lirih Rachel dengan suara manjanya.
__ADS_1
Melihat Rachel, jiwa liar Leon memberontak apa lagi saat ini burung miliknya sudah berdiri tegak. Leon menarik Rachel, memeluk wanita ini begitu erat.