Istri Kedua Mafia

Istri Kedua Mafia
Chapter 38


__ADS_3

"Mau kemana?" Tanya Sean saat istrinya hendak membuka pintu kamar.


"Cari angin...!" Jawab Amara.


"Kamar ini sudah sangat dingin, kenapa harus mencari angin lagi?"


"Ah, banyak tanya. Aku gerah,....!" Sahut Amara. "Sayang, kita pergi ke markas yuk!" Ajak Amara membuat Sean terkejut.


"Jam sebelas malam, mau apa kau di sana malam-malam?"


"Ingin bertemu dengan Selena," jawabnya.


Sean semakin penasaran apa yang akan di lakukan istrinya, mau tidak mau pria ini pergi ke markas di tengah malam butuh bersama dengan Amara.


Hutan yang gelap, tapi Sean sangat hafal dengan jalanan ini. Pukul setengah dua belas malam, mereka sampai di markas.


"Mereka tidak tidur ya kalau malam?" Tanya Amara pada suaminya.


"Tidur, hanya saja bergantian!" Jawab Sean.


Amara tidak menanggapi, perempuan ini langsung masuk ke dalam markas. Pergi ke ruangan suaminya untuk mencari sesuatu.


Gunting, Amara mendapatkan gunting berukuran cukup besar. Dengan senyum sinis, Amara keluar dari ruangan suaminya.


"Apa yang akan kau lakukan dengan gunting itu?" Tanya Sean penasaran.


Amara tidak menjawab, perempuan ini pergi ke belakang menghampiri Selena yang saat ini sedang tidur bersama ibunya.


"Dompu, tolong buka pintunya dan bawa perempuan yang muda itu keluar!" Titah Amara.


"Sayang, apa yang akan kau lakukan?" Tanya Sean sekali lagi.


"Memangkas apa yang harus di pangkas!" Jawab Amara.


Selena dan Marta terkejut saat pintu jeruji di buka, lebih terkejut lagi saat Dompu menyeret Selena keluar.


"Mau apa kau hah?" Tanya Selena seperti orang ketakutan.


Tiba-tiba saja Amara menjambak rambut Selena dan langsung memotongnya sembarang. Tenaga Amara terlihat kuat, nyatanya Selena yang berontak tak bisa melawan.


Sean yang melihat hal tersebut hanya diam saja menonton. Jerit tangis Selena sama sekali tak membuatnya iba. Sedangkan Marta terus menjerit tidak terima saat melihat anaknya di perlakukan jahat oleh Amara.


Bug...... Amara menendang Selena.


"Kita impas," ucap Amara membuka suara. "Kau pernah mencukur habis rambut ku di saat aku tidak sengaja mengotori pakaian mu. Kau bahkan sengaja menggigitkan gunting ke telinga ku. Apa kau masih ingat?"

__ADS_1


Selena hanya bisa menangis, apa yang di katakan Amara adalah benar.


"Dan kau,....!" Amara menunjuk ibu tirinya.


"Kau pernah melempar ku dari lantai dua sampai kepala ku nyaris pecah. Aku akan membalasnya pada anak mu," ucap Amara membuat Selena ketakutan.


"Dasar pelacuur, jangan sakiti adik ku." Teriak Darwin membuat emosi Sean naik.


Bug.... Hanya dengan satu kaki, Sean menendang wajah Darwin. Darwin menggelepar kesakitan menahan perih di wajahnya.


"Seharusnya dulu aku mengirim mu ke neraka bersama ibu mu." Ucap Marta tak di hiraukan Amara yang saat ini berlenggang pergi dari sana.


Merasa bosan, Amara mengajak suaminya pergi memutari jalanan sekitar hutan setelah itu barulah mereka pulang.


Keesokan harinya, Sean yang harus pergi ke kantor terpaksa mengajak istrinya yang terus merengek hendak ikut.


Makan siang bersama dengan beberapa orang klien dari beberapa perusahan. Untung saja Amara bisa menyesuaikan diri, ia hanya duduk di samping suaminya dengan sikap anggun tak mengeluarkan suara.


Jarang-jarang melihat Sean mengenakan jas, rasanya Amara terkagum-kagum melihat ketampanan suaminya.


"Maaf tuan Sean, dia istri atau adik?" Tanya seorang pria sedikit lebih muda dari Sean. Pria yang bernama Johnson ini sejak tadi suka mencuri pandang ke arah Amara.


"Istri ku...!" Jawab Sean singkat. "Kenapa?"


"Sangat mungil dan cantik, aku suka melihat istri mu." Ucap Jhonson yang sama sekali tidak merasa takut pada Sean.


"Sepertinya ini yang pertama kalinya seorang Sean menghadiri meeting dengan membawa seorang wanita." Ujar tuan Thomas.


"Aku semakin bersemangat saat mengajak istri ku bekerja," kata Sean lalu pria ini menggenggam tangan Amara.


"Sayang, aku lelah. Bisakah kita pulang sekarang?" Ajak Amara dengan sikap manjanya membuat Jhonson tertawa renyah. Pria ini sangat tertarik melihat sikap Amara yang sepertinya sangat menyenangkan.


Sean pun mengajak Amara pergi dari hotel tersebut. Tanpa mereka sadari, seseorang kembali mengambil gambar kemudian pergi.


Orang tersebut sudah pasti anak buah Remon yang selalu mengintai Sean. Pria ini langsung pergi menemui Remon untuk memberi informasi.


"Maaf tuan, kita sudah di tipu oleh perempuan itu." Ucap pria tersebut.


"Maksud mu, perempuan yang mana?" Tanya Remon bingung.


"perempuan itu benar-benar istri Sean. Kita sudah termakan dengan bualan perempuan itu."


Aaaaaaargh.......Braaaaak......


Remon menggebrak mejanya emosi.

__ADS_1


"Brengsek,..... sialan!" Umpatnya. "Apa kau serius?" Tanya Remon yang masih tidak percaya.


"Benar tuan, siang ini mereka bertemu beberapa orang di salah satu hotel bahkan Sean dan perempuan itu terlihat sedang bercanda. Ini buktinya...!"


Remon marah besar, ia tak menyangka jika kebaikan hatinya telah di manfaatkan oleh Amara.


"Tangkap perempuan itu dan habisi dia...!" Titah Remon.


"Apa ku bilang, seharusnya kau tidak mempercayai omongan perempuan itu." Ucap James mengingatkan.


"Licik, bisa-bisanya perempuan itu membohongi kita dengan aktingnya." Sahut Remon yang tidak terima. "Cari semua keluarganya dan habisi juga!" Titah Remon lagi.


Sekali lagi pria ini menggebrak meja. Ia tak menyangka bisa termakan dengan bualan Amara.


"Sayang....!" Panggil Sean.


"Hem, ada apa?" Tanya Amara.


"Untuk beberapa waktu ke depan, tolong jangan pergi kemana-mana tanpa seizin ku."


"Kenapa?" Tanya Amara.


"Tadi, aku melihat anak buah Remon. Aku yakin jika saat ini Remon sudah tahu tentang kau yang mengkelakari dia."


"Baguslah kalau dia sudah tahu, itu artinya dia bodoh mau saja ku bohongi." Sahut Amara.


Sean menggelengkan kepalanya mendengar perkataan istrinya. Bisa-bisanya seorang Amara yang lemah bisa menipu Remon, ketua geng Bruiser.


"Laki-laki berambut putih tadi, aku tidak suka padanya." Ucap Amara mengadu.


"Dia duda, entah sudah berapa istri? Aku sendiri tidak bisa menghitungnya!"


"Woh...pemain...!" Seru Amara. "Sayang, aku masih lapar, ayo cari makanan lagi."


"Tapi, kau sudah makam satu piring tadi."


"Mau satu atau dua piring kalau di makan di depan orang seperti itu tidak akan kenyang. Cepatlah, aku lapar!"


"Iya, kita cari restoran dekat sini."


Sean pun mengajak istrinya pergi ke restoran langganan Sean dan Leon. Banyak makanan yang di pesan Amara tentu saja membuat Sean heran karena akhir-akhir ini sang istri suka makan banyak.


"Kalau tidak habis, bagaimana?" Tanya Sean lalu menghembuskan nafas pelan.


"Di bungkus, sayang kalau di buang. Meskipun kau banyak uang, tapi setidaknya kita bisa menghargai makanan." Jawab Amara dengan santainya.

__ADS_1


Seumur-umur, baru dengan Amara lah Sean membungkus makanan seperti ini. Rasanya malu juga, tapi demi istri tercinta Sean tidak bisa menolaknya.


__ADS_2