
Laura mendengus kesal sambil meletakan kedua sendok yang ada di tangannya. Wanita ini semakin risih pada sikap Remon yang entah kenapa sejak bangun tidur sampai sekarang suka sekali memandang dirinya.
"Lanjutkan makanmu!" Tegur Remon.
"Apa kau pernah membunuh orang?" Tanya Laura.
"Kenapa memangnya?" Remon bertanya balik.
"Jawab saja!"
"Ya, sudah banyak musuh yang aku bunuh termasuk ayahku sendiri." Jawab Remon jujur.
"Pantas saja, sepertinya kau kerasukan arwah mereka. Tapi, ngomong-ngomong kalau boleh tahu, apa yang kau katakan itu benar?" Tanya Laura yang tiba-tiba penasaran.
Remon menyeringai, bayangan masa kecilnya tiba-tiba saja menari di kelopak mata.
"Tentang aku yang membunuh ayahku?" Perjelas Remon hanya di tanggapi anggukan oleh Laura. "Almarhum ibuku sangat mencintai ayahku, tapi ayah lebih mencintai almarhum mami-nya Sean. Di paksa memiliki anak, terlahirlah aku. Tapi, bukannya membuat ayah mencintai ibuku, beliau justru menyiksa ibu dan aku hingga membuat ibu mengalami gangguan jiwa kemudian meninggal. Hal ini lah yang menjadi alasanku kenapa aku sangat membenci Sean terlebih lagi ayah selalu mendokrinku dengan aturannya." Tutur Remon panjang lebar. Pria ini bercerita seolah tidak memiliki beban.
Laura memaksakan senyumnya kemudian berkata. "Maafkan aku, seharusnya aku tidak bertanya."
Remon hanya mengangkat kedua bahunya terlihat santai.
__ADS_1
"Selesaikan makanmu, aku ada urusan sebentar!" Ujar Remon kemudian pria ini pamit pergi sebentar.
Remon turun menemui James, pria jomblo ini hanya memberikan kunci mobil dan melaporkan pekerjaannya.
"Bagaimana, apa sudah ninu-ninu?" Tanya James sambil memainkan kedua jari telunjuknya.
Remon tertawa lalu berkata. "Kau tahu sendiri aku tidak tahan jika melihat wanita cantik. Tentu saja aku sikat. Apa lagi dia sudah menjadi istriku."
"Kurangi sifat burukmu itu. Kau sudah punya istri, gila aja kalau kau masih tidur dengan perempuan lain." Ucap James mengingatkan.
"Pergi sana!" Usir Remon. "Tanpa kau nasehati, aku sudah mengerti. Aku tidak akan membiarkan perempuan yang menjadi pasanganku menjadi gila sama seperti almarhum ibuku."
Remon kembali ke kamar, pria ini menghela nafas panjang saat melihat Laura yang sudah terlelap tidur.
"Baru sepuluh menit kutinggal, dia sudah tidur saja. Laura bangun...!!"
"Katanya kau suamiku, biarkanlah aku tidur sebentar. Aku lelah dan mengantuk!" Jawab Laura dengan mata terpejam.
"Bangun dan cepat kemasi semua barang-barangmu, kita akan pulang sekarang!"
Laura membuka kedua mata lalu menarik nafas panjang.
__ADS_1
"Kenapa kau sangat menyebalkan?"
"Aku memang menyebalkan. Kenapa? Apa kau ingin minta cerai? Sampai kau beruban sekalipun, aku tidak akan menceraikanmu!" Ucap Remon membuat Laura semakin jengkel pada pria ini. Laura seolah lupa jika tadi malam ia begitu menikmati permainan Remon sebagai suaminya.
Tidak jadi tidur, wanita ini harus segera mengemasi semua pakaiannya setelah itu ikut pulang bersama Remon ke rumah yang selama ini Remon tempati seorang diri.
Sedangkan di mansion, Sean merasa puas mendengar laporan dari James jika Remon dan Laura baik-baik saja.
"Satu sudah selesai. Tinggal satu lagi...!" Ucap Sean yang sedikit merasa lega. "Ternyata asyik juga menjodohkan orang lain." Imbuhnya senang.
"Sayang, rencana apa yang akan kita lakukan untuk menyatukan Leon dan Rachel?" Tanya Amara yang bingung.
"Bagaimana jika kamu pura-pura hamil dan ngidam pengen lihat Leon dan Rachel menikah?" Ujar Sean memberi ide.
"Sangat boleh!" Seru James yang sekarang berpihak sana sini dan bisa menjaga rahasia.
"Ah, kamu tahu sendiri jika aku belum boleh hamil dengan jangka waktu lima tahun." Amara sedikit ragu.
"Ini hanya pura-pura. Lagian Leon tidak tahu menahu tentang wanita hamil." Jawab Sean.
Untuk beberapa saat Amara menimbang diri, sepertinya ide ini tidak terlalu buruk untuk di jalankan.
__ADS_1