Istri Kedua Mafia

Istri Kedua Mafia
Chapter 54


__ADS_3

Jelas terlihat jika saat ini Garvin sedang menggaruk-garuk tubuhnya bahkan pria ini juga memegang perutnya yang terasa sakit. Begitu juga dengan sebagian dari anak buahnya terus mengeluh sakit perut.


Melihat hal tersebut, Sean hanya bisa menghela nafas pelan lalu menatap pada istrinya.


"Kita pulang sekarang," ajak Sean yang sudah tidak bisa berkata-kata lagi.


"Tapi aku ingin menabur bunga di atas makam ibu Marta." Ucap Amara menahan..


Sean menoleh ke arah Leon.


"Sudah saatnya kalian mengakhiri hidup mereka," ucap Leon.


Hanya bisa menuruti permintaan sang istri, terlebih lagi mereka selama ini sudah sangat jahat pada Amara. Bukan kembali ke mansion, melainkan pergi ke markas.


"Biarkan Dipo membunuhnya," ucap Sean.


"Tidak, aku saja!" Jawab Amara sekali lagi membuat Sean terkejut.


"Amara, apa maksud mu hah?" Tanya bu Marta yang saat ini bersimpuh di bawah kaki Amara.

__ADS_1


"Dulu, aku pernah mendengar percakapan ku dengan kedua anakmu. Kau mengatakan jika sebab kematian ibu adalah ulah mu. Jadi, aku akan membalasnya sekarang." Jawab Amara membuat bu Marta gemetar ketakutan.


Tak banyak bicara, Amara langsung merampas pistol yang selalu ada di pinggang suaminya lalu menembak tepat di kepala bu Marta.


Menembak sampai berulang kali, Sean yang panik langsung memeluk istrinya ketakutan.


"Ibu.....!" Jerit Selena tak berdaya. Wanita ini hanya bisa menangis dalam diam penuh ketakutan sedangkan Darwin saat ini sedang di tahan di ruangan yang berbeda.


"Amara, kau ini kenapa?" Tanya Sean yang merasa aneh pada sikap istrinya.


"Aroma darah yang menyegarkan," ucap Amara dengan senyum sinis menakutkan kemudian Amara tidak sadarkan diri.


Sean semakin panik, pria ini langsung menggendong sang istri menuju mobil untuk pulang ke mansion.


"Kau harus menghentikan aktifitas mu untuk beberapa saat. Semakin kesini aku melihat jika Amara sama seperti dirimu." Ucap Leon mengingatkan.


"Apa ini bawaan bayi?" Tanya Sean penasaran.


"Aku tidak tahu, aku belum menikah!" Jawab Leon. "Sejak Amara hamil, banyak yang terjadi di luar kendali dia. Jelas terlihat jika anak mu belum lahir saja sudah meniru sifat mu, apa lagi kalau sudah dewasa nanti."

__ADS_1


Sean terdiam sejenak, ini bukan impian hidupnya yang memiliki seorang anak berdarah dingin.


Sesampainya di mansion, Sean langsung membaringkan istrinya di atas tempat tidur. Tapi, tiba-tiba saja Amara bangun dan berlari ke kamar mandi untuk muntah.


"Aku membunuh manusia," ucap Amara yang ternyata syok sendiri.


"Tapi, semua ini permintaan mu, sayang." Sahut Sean.


Wajah Amara tegang, bisa-bisanya ia tak bisa mengontrol sesuatu yang tiba-tiba muncul dalam hatinya.


"Semua salah mu," ucap Amara yang menyalahkan suaminya.


"Kau yang membunuh ibu tiri mu sendiri kenapa aku yang salah?"


"Aku jadi pembunuh sekarang," ucap Amara malah menangis ketakutan.


Sean menggendong istrinya seperti menggendong anak kecik. Menyakinkan Amara jika ia bukan seorang pembunuh.


"Sudahlah, jangan di pikirkan." Ucap Sean menenangkan.

__ADS_1


"Sayang, aku hanya takut jika arwah ibu Marta bergentayangan menuntut balas padaku," ujar Amara yang merasa takut.


"Punya rasa takut juga ternyata. Sekarang istirahatlah, aku ingin mandi sebentar." Kata Sean lalu menurunkan istrinya di tepi ranjang.


__ADS_2