Istri Kedua Mafia

Istri Kedua Mafia
Chapter 48


__ADS_3

Pada akhirnya, sebuah cafe mewah terbuka lebar telah di depan kampus ternama. Cafe baru sudah tentu membuat para muda mudi di sana penasaran ingin mencicipi makanan di cafe tersebut.


Satu dua hari sampai satu minggu belum juga adiknya Raul pergi ke Cafe tersebut. Sean mulai gelisah memikirkan rencana dari istrinya tidak akan berhasil.


"Sudah satu minggu, tapi Zevani Cecilia belum pergi ke cafe itu." Ucap Sean mulai tidak sabar.


"Santai, jangan buru-buru. Jika ingin membalas dendam, jangan tergesa-gesa agar musuh tidak bisa membaca pergerakan kita." Sahut Amara sambil menikmati ice cream nya.


"Kau tahu sayang, setelah mereka sama menderitanya seperti adik ku, aku ingin segera mengubur bola mata adikku." Kata Sean memberitahu.


"Coba berdoa untuk arwah adik mu, minta bantuan sama dia agar kedua kaki perempuan itu pergi ke cafe." Ujar Amara memberi saran.


Kenapa harus membalas pada adiknya Raul? Karena sebelum itu adik Raul sempat berkelahi dengan adik Sean hanya karena masalah memperebutkan seorang pria. Saat Raul tahu jika yang berkelahi adalah adik perempuan Sean, di situlah muncul tindakan jahat Raul untuk menghabisinya.


Sampai pada akhirnya, dua hari kemudian Zevani datang ke cafe bersama empat orang temannya. Kebetulan sekali mereka di antar oleh supir yang selalu mengawal Zevani pergi.


Satu informasi sudah tersebar pada anak buah Sean yang lain. Cafe mendadak ramai bahkan membuat antrian pengunjung membludak. Di saat itu lah anak buah Sean beraksi.

__ADS_1


"Makanannya sangat enak," ucap Zevani pada keempat temannya.


"Iya, sejak kemarin aku mengajak mu ketempat ini, kau selalu menolak." Sahut salah seorang temannya.


"Ini akan menjadi tempat langganan kita." Ucap Zevani senang.


Di mana ada Zevani, pasti ada pengawalnya bahkan pengawal tersebut duduk di meja tepat di samping Zevani.


Tiba-tiba saja, perempuan ini merasa mual dan pusing.


Zevani muntah kuning setelah itu ia langsung tak sadarkan diri. Tentu saja hal ini membuat semua orang panik, sengaja panik karena beberapa banyak pengunjung adalah orang bayaran Sean.


Pengawal yang sigap langsung membawa Zevani ke rumah sakit berharap jika majikannya ini baik-baik saja.


Sean dan Amara, Leon dan Daren yang memantau dari rekaman Cctv merasa puas sekarang.


"Sebentar lagi Sheena akan tidur dengan tenang," ucap Sean dengan mengepalkan kedua tangannya.

__ADS_1


Sedikit sulit masuk ke dalam keluarga Raul karena mereka memiliki kode tertentu bahkan setiap orang memiliki kode angka yang berbeda.


"Kau akan sama seperti aku, Raul. Racun itu tidak memiliki penawar bahkan akan membuat adik mu cacat seumur hidup." Batin Sean.


Meskipun sebenarnya Sean sangat ingin membalas sama seperti yang di rasakan adiknya, hanya saja Amara melarang karena di buat caca seumur hidup jauh lebih menyakitkan dari pada di tinggal mati.


"Wah, sayang sekali kita tidak bisa melihat kehebohan di sana." Ujar Amara tampak kecewa karena ia ingin sekali melihat reaksi Raul.


"Aku yakin setelah ini geng mereka akan kacau. Raul pasti akan mendata ulang semua anak buahnya." Kata Leon menebak.


"Apa kalian sudah memanipulasi rekaman cctv di sekitar area?" Tanya Sean memastikan karena pria ini tidak ingin pekerjaan anak buahnya di ketahui.


"Sudah, berjalan sesuai rencana." Jawab Leon. "Amara, ternyata kau pintar juga." Puji Leon membuat mata Sean melebar.


"Sekali lagi memuji istri ku, akan ku kawinkan kau dengan orang utan di belakang!" Ancam Sean.


"Iya, kenapa aku mendadak pintar?" Batin Amara yang juga merasa bingung pada dirinya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2