Istri Kedua Mafia

Istri Kedua Mafia
Chapter 52


__ADS_3

"Siapa lagi yang ingin kau bunuh?" Tanya Amara langsung pada intinya.


"Karim Roland, paman ku lebih tepatnya ayah Remon. Dia masih hidup dan dia lah yang sudah meracuni ibu ku sampai mati." Jawab Sean.


"Kalau begitu, selesaikan sebelum aku melahirkan. Aku hanya ingin fokus padaku dan anak kita." Ujar Amara mendesak.


Sean terdiam sejenak, di tatapnya perut Amara yang mulai membuncit.


"Begitu ya?" Goda Sean.


"Kalau kau tidak mau, aku akan mencari laki-laki yang mau mengurus aku dan anakku." Ucap Amara mengancam.


"Coba saja kalau berani, aku akan memenggal kepala laki-laki itu!" Sean balik mengancam.


Amara memutar bola matanya malas lalu perempuan ini menarik selimut untuk segera tidur. Begitu juga dengan Sean, pria ini langsung memeluk istrinya sambil mengusap-usap perut sang istri.


Malam telah berganti pagi, hari ini semua orang mengenakan pakaian serba hitam karena pagi ini akan di adakan acara penguburan bola mata milik Sheena, adik perempuan Sean.


Bunga tulip berwarna putih karena memang almarhum Sheena sangat menyukai bunga tersebut. Dengan perasaan bahagia dan puas, Sean memasukan kedua bola mata adiknya ke dalam tanah, lebih tepatnya di atas makam Sheena.

__ADS_1


"Istirahat yang tenang, kesayangan kakak. Rasa takut dan dendam mu sudah terbalas." Ucap Sean kemudian pria ini menaburkan bunga begitu juga dengan Amara.


Setelah acara tersebut selesai, Sean langsung mengajak istrinya untuk pulang.


"Entah kenapa aku sangat ingin menabur bunga di atas pemakaman ibu Marta," ucap Amara memberitahu suaminya.


"Jangan bilang kau ingin membunuhnya? Bukannya kau takut darah yang berlebihan?"


"Dia penyebab dari almarhum ibu ku meninggal, apa tidak boleh jika aku ingin melakukan hal yang sama seperti mu?"


Sean menelan ludah kasar, sejak kapan istrinya menjadi kejam seperti ini padahal saat di awal dulu Amara sangat cengeng.


"Berapa?" Tanya Sean.


"Seratus per seratus, dan mereka meminta kau sendiri yang turun tangan." Jawab Leon.


"Tantangan mereka aku terima!" Ucap Sean yang tidak takut.


"Aku ikut...!" Rengek Amara.

__ADS_1


"Tidak boleh!" Jawab Sean dan Leon bersamaan.


Bibir Amara langsung manyun, tanpa banyak bicara ia langsung pergi ke kamar bahkan menguncinya.


"Marah lagi ya kan?" Kata Sean lalu menarik nafas panjang.


"Amara sedang hamil, jika dia kenapa-kenapa bagaimana?" Leon khawatir.


"Sebentar, aku akan merayu!" Ujar Sean yang langsung menyusul istrinya.


Segala macam jenis rayuan tidak mempan untuk membujuk Amara. Perempuan ini kekeh ingin ikut bersama dengan suaminya. Mau tidak mau Sean mengiyakan, pria ini langsung memerintahkan beberapa anak buah untuk menjaga istrinya nanti saat ia bertarung.


"Ini baru suamiku. Tenang saja, aku tidak akan menyusahkan mu." Ucap Amara yang langsung memeluk manja Sean.


"Aku tidak tahu akan jadi apa anakku kelak? Masih dalam perut saja dia sudah berani membahayakan nyawa dia dan ibunya." Ucap Sean dalam hati.


Sean melirik jam yang melingkar dipergelangan tangan, masih ada beberapa jam lagi untuk ia melakukan persiapan.


"Istirahatlah, aku akan mengatur semua anak buah ku yang akan ikut." Ucap Sean di iyakan istrinya.

__ADS_1


Sean pun keluar dari kamar, tapi bukannya istirahat, Amara justru melakukannya sesuatu untuk bekalnya sendiri.


__ADS_2