
"Terimakasih," ucap Leon kemudian pria ini menutup panggilan telpon. Pria ini bingung kenapa makanan yang ia makan tadi malam bersih tidak mengandung zat apa pun padahal Leon sendiri lupa untuk mengecek minuman yang terakhir ia minum.
"Bagaimana hasilnya?" Tanya Rachel.
"Nihil, tapi kenapa kita bisa seperti itu tadi malam?"
Suami istri kebingungan memikirkannya. Seharian mereka habiskan untuk menebak-nebak siapa yang sudah mengerajai mereka tadi malam.
Hingga malam menjelang dan mereka baru selesai makan malam. Keduanya memutuskan untuk duduk santai di cafe yang ada di hotel tersebut. Mau marah pun percuma karena memang tadi malam mereka sama-sama menikmatinya.
"Aku ke kamar duluan." Ujar Rachel yang sudah mengantuk.
Tidak menjawab, tapi Leon mengekor dibelakang Rachel. Entah apa yang ada di pikiran pria ini sekarang? Yang jelas dadanya bergemuruh menahan gejolak liar saat melihat tengkuk putih yang tertutup tipis anak rambut karena saat ini Rachel menguncir rambutnya.
"Ini kita tidur satu ranjang lagi?" Tanya Rachel sesaat setelah masuk ke dalam kamar.
"Mau-mu bagaimana?"
"Nggak tahu lagi, aku pusing!"
Rachel menjatuhkan tubuhnya diatasnya ranjang. Leon yang melihatnya tiba-tiba saja menelan Saliva-nya kasar apa lagi ia masih mengingat jelas bagaimana rasanya mengerang kenikmatan tadi malam.
"Rachel...!" Panggil Leon.
__ADS_1
"Hmmm....!!"
"Anu....!!" Leon bingung sendiri.
"Apa?"
"Rachel...!"
"Apa?"
"Itu loh,....!!"
"Bicara yang jelas kalau tidak kuhajar kau!" Ancam Rachel.
"Apaan sih? nggak jelas!"
"Rachel, kau sudah menjadi istriku sekarang.....!"
"Terus...?"
"Entah kenapa aku menginginkan hal seperti tadi malam." Ucap Leon dengan wajah gugup tersipu malu begitu juga dengan Rachel.
"Kitakan tidak cinta, anggap saja tadi malam itu tidak ada!"
__ADS_1
Sakit hati Leon mendengarnya, entah kenapa pria ini merasa kecewa dengan ucapan Rachel. Tanpa banyak bicara, Leon pergi ke balkon kamar, duduk di sana seorang diri untuk meredam hati yang emosi.
satu jam dua jam hingga tiga jam berlalu, pria ini masih betah duduk di sana. Rachel yang gelisah tidak bisa tidur menyusul Leon ke balkon.
Entah kerasukan setan dari mana? Tiba-tiba saja Rachel memeluk Leon dari belakang hingga membuat pria ini terkejut.
"Aku tidak bisa tidur sekarang." Gumam Rachel.
Leon tak bergeming, bahkan untuk sekedar bergerak saja pria ini gemetaran. Dibawah langit malam, Leon merasakan tombak pusaka miliknya berdenyut tegang.
"Kenapa memelukku?" Tegur Leon.
"Oh, ya sudah. Maaf, aku khilaf...!"
Rachel melepaskan diri, tapi dengan cepat pria ini menariknya hingga membuat Rachel jatuh di atas pangkuannya. Keduanya saling tatap, dada mereka terus berdebar kencang. Tiba-tiba saja Leon memegang dagu Rachel lalu mencumbu lembut bibir manis yang sudah membuatnya candu semalam.
Dua orang dewasa saling berciuman, sudah pasti akan melakukan hal yang lebih jauh lagi. Mereka seolah lupa sebab apa mereka menikah, Leon dan Rachel larut dalam buaian.
Tanpa sadar pria ini membawa Rachel masuk kedalam, membaringkannya di atas ranjang lalu menanggalkan pakaian istrinya.
Glek.... Leon menelan ludahnya kasar, entah kenapa bentuk tubuh Rachel sungguh menggoda hasrat dalam diri Leon sejak di Paviliun beberapa waktu yang lalu.
Pria ini kembali mencumbu bibir tipis nan manis milik Rachel. Meremas gua buah dada lalu memberi tanda berwarna merah muda di atas dada. Untuk malam ini mereka lakukan dalam keadaan sadar bahkan keduanya begitu menikmati malam yang syahdu begitu memabukkan.
__ADS_1
Erangan demi erangan berirama indah terdengar bergetar di sudut ruangan. Puncak-puncak kenikmatan entah sudah berapa kali merasa rasakan? Yang jelas malam ini cinta keduanya semakin tumbuh berpegangan.